Friday, August 12, 2022

RUSA TERNAK

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Eka Budianta*

Setiap kali mampir ke restoran di seputar Taman Safari, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, saya usahakan menikmati satai rusa. Bukan karena khasiat dagingnya, tapi untuk mendorong agar rusa lebih banyak dipelihara sebagai hewan ternak biasa, dan dengan populasi sebanyak-banyaknya. Apakah ada khasiat khusus? Kata ahli akupuntur yang menolak disebut namanya, daging rusa bersifat hangat sehingga baik untuk kesehatan organ dalam.

 

“Daging rusa memperkuat paru-paru, jantung, ginjal, dan limpa. Juga memulihkan cahaya wajah dan memperlancar peredaran darah. Bagi ibu-ibu yang sedang menyusui juga baik mengkonsumsi daging rusa karena menambah cadangan air susu ibu,”  katanya. Tentu ada sebab lain mengapa saya suka daging rusa. Sebelum keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1999, rusa tidak termasuk hewan yang dilindungi.

Artinya, rusa seperti halnya kijang, sapi, kambing, kerbau, domba, dan kelinci, termasuk hewan ternak biasa. Kita boleh, dan sebaiknya suka memelihara, untuk hewan hias maupun konsumsi. Setelah ada PP tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Hewan itu, kita bisa didenda seratus juta rupiah kalau ketahuan melukai, menyimpan, dan menjualbelikan rusa. Hukuman itu lebih berat daripada denda US$500 setara Rp4,5-juta kalau kita menabrak rusa di kawasan kampus di Amerika.

Cepat berkembang

Harga seekor rusa di Bogor, Jawa Barat, secara umum berkisar Rp10-juta. Bahkan bisa lebih murah untuk rusa jawa, yakni Rp6-juta-Rp9-juta.Yang lebih mahal adalah rusa india dan rusa madura atau yang dikenal sebagai rusa bawean.  Tentu, semua rusa itu masih bisa dan harus terus dipelihara. Untungnya lagi, boleh ditangkarkan dengan izin dari Perhutani dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Secara kecil-kecilan, peternakan rusa berkembang di Bogor, Banyumas, Bengkulu, Maros (Sulawesi Selatan), dan tentu saja di taman-taman. Termasuk di Taman Monumen Nasional (Monas), Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan kampus Universitas Indonesia, Depok. Pada masa lalu, di banyak taman rumahsakit pun terdapat rusa. Kini tinggal di kawasan tamasya termasuk candi, istana, taman-taman safari dan kebun binatang.

Contoh, 10 rusa nepal  Axis-axis di Rumah Dinas Gubernur Bengkulu, dalam waktu singkat menjadi 20 ekor. Lebih hebat lagi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pada 1995, enam rusa totol dari Istana Bogor dibawa ke pertamanan di seputar candi Prambanan. Hanya dalam tempo 15 tahun, yaitu pada 2010 jumlahnya berlipat ganda menjadi 150 ekor.

Sayang, ketika saya usulkan agar sebagian disebar untuk ditangkarkan di tempat lain, tidak boleh. Alasannya karena rusa-rusa itu berstatus sebagai “barang pinjaman” dari Istana. Padahal, kalau disebar untuk budidaya yang tepat, akan semakin cepat menjadi banyak. Mantan gubernur Sulawesi Selatan (1993-2003), Zaenal Basrie Palaguna, berhasil mengembangkan puluhan rusa di Kabupaten Maros.

Bakpao rusa

Kenyataannya, kebutuhan daging rusa memang merata. Bukan hanya karena rendah kolesterol karena nyaris tak berlemak, tapi juga baik untuk kesehatan perempuan. Satu mitos yang sering beredar di kalangan ibu-ibu, daging rusa baik untuk meningkatkan kesehatan organ intim mereka. Jadi jangan heran kalau ibu-ibu suka merindukan bakpao rusa.

Rekan saya, Johana, yang menikah dengan pemburu rusa, jadi ahli bikin bakpao. Suaminya, David, seorang petani dan peternak. Pada musim berburu ia suka membawakan rusa jantan yang besar-besar untuk istrinya. Sayang, bukan di Puncak atau di Sumbawa, tapi di Kansas, Amerika Serikat, sedangkan istrinya itu asli dari Cirebon, memang pintar bikin bakpao.

Sementara di tanahair, daging rusa dijadikan sup, tongseng, dan paling banyak satai. Di kawasan Ciawi, Bogor, harga tiap 10 tusuk satai rusa Rp60.000. Artinya tiga kali harga satai kambing, atau lima kali harga satai ayam. Di kawasan Simpangtiga, Pekanbaru, yang populer adalah nasi goreng rusa, steak rusa, dan dendeng rusa. Rusa potong umumnya adalah turunan kedua dan ketiga. Indukan pertama tidak boleh dipotong.

BKSDA Bengkulu bahkan mengharuskan setiap peternak rusa melepasliarkan 15% dari ternaknya. Jadi kalau Anda punya tujuh rusa baru, seekor harus dibebaskan kembali ke alam. Mengapa rusa perlu kembali diliarkan? Mungkin untuk memperbaiki kualitasnya. Rusa ternak umumnya hanya akan berumur 15-20 tahun; di alam bebas, bisa hidup sampai               40 tahun. Oleh karena itu ketika jumlah rusa hasil budidaya mencapai 21 ekor, tiga harus dibebaskan dan tinggal 19 yang dikandangkan di areal 2.500 m2.

Umumnya, peternak rusa di Indonesia memerlukan 1.000 m2 untuk sepuluh rusa.  Itulah yang dikembangkan di desa-desa sentra peternakan rusa lokal  Cervus timorensis yang dibantu Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sambar

Rusa hasil budidaya dagingnya lebih enak daripada rusa liar. Mungkin karena pakannya teratur, dan pemotongannya mengikuti ketentuan. Misalnya tidak terlalu tua, dan bukan indukan. Peternak rusa merasa lebih beruntung karena semua bagian dari tubuh rusa mempunyai nilai ekonomi tinggi. Mulai dari tanduk, tulang, kulit bahkan penis rusa bisa dijual mahal.

Tanduknya konon sebagai bahan obat. Namun, yang paling sering adalah untuk tangkai pisau. Pada masa lalu, rumah-rumah di perdesaan dan tempat-tempat minum biasanya memasang tanduk rusa yang tua untuk hiasan dinding, sekaligus cantelan topi. Sebelum berumur tujuh tahun, biasanya tanduk rusa jantan secara teratur lepas dan tumbuh lagi. Tanduk rusa sambar Cervus unicolor di Kalimantan Timur dijadikan obat.

Sebuah peternakan di Desa Apiapi, Kabupaten Penajam Paser Utara, dilaporkan memproduksi paling sedikit 1.000 botol berisi 50 kapsul tanduk rusa per tahun. Desa Apiapi pada 2009 memiliki lebih 217 rusa di areal 150 hektar, berambisi menjadi contoh peternakan rusa nasional. Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek, mendukung dan menyarankan agar obat dari tanduk rusa bisa dipatenkan. Dalam istilah setempat rusa disebut payau, dan semula diperlakukan sebagai hama bagi kebun petani, meskipun satai payau juga cukup disukai.

Sebetulnya, Indonesia memiliki rusa-rusa endemik yang secara tradisional dibanggakan. Adanya Pulau Menjangan-istilah rusa dalam bahasa Jawa-atau-Peucang-dalam bahasa Sunda, menunjukkan bahwa rusa Indonesia punya pulau-pulau tersendiri. Dan memang, kalau Anda menginap di Pulau Peucang, Ujungkulon, suka mendengar ibu rusa memanggili anaknya pada malam hari.

Belajar dari Inggris

Yang paling terkenal adalah rusa bawean  Axis kuhli, penghuni Pulau Bawean. Rusa bawean menjadi legenda sejak zaman para raja Madura gemar berburu pada abad ke-15-17. Dua kakak-beradik, Bangsacara dan Bangsapati, bahkan berebut Putri Ragapadmi dengan cara adu hasil paling banyak memanah rusa. Sekarang rusa bawean dinyatakan dalam keadaan terancam, karena populasinya tinggal 300-400 ekor. Mereka hidup di pulau seluas 180 km2, dan masuk dalam daftar satwa yang dilindungi.

Keistimewaan rusa itu bertubuh kecil, dengan bobot 15-25 kg untuk betina dan 20-30 kg untuk yang jantan. Bentuknya seperti kijang, dengan warna-warna terang dan sangat lincah. Mereka pada dasarnya hewan nokturnal yang lebih aktif pada malam hari. Pada masa lalu, kelincahan rusa inilah yang menantang para pangeran untuk berlomba memanah. Menurut cerita lama, sekali musim berburu bisa dapat ratusan ekor.

Seingat saya, pada 1970, jumlah rusa bawean masih lebih dari 2.000 ekor. Sekarang, ancaman terbesar untuk rusa adalah banyaknya sampah di hutan. Di berbagai belahan dunia, daging rusa mulai tercemar akibat sampah-sampah yang dikonsumsi, sedangkan rumput mulai berkurang. Untuk mengatasi hal ini, peternakan rusa menjadi penting dan sangat mendesak.

Di Inggris, tempat kita bisa beli deer-burger dengan leluasa, budidaya rusa sudah digalakkan sejak abad ke-11, teristimewa di hutan-hutan kerajaan. Jika abad ke-21 ini kita naik kereta api dan melihat pagar-pagar tinggi di samping rel, itulah pembatas untuk melindungi rusa peternakan. Di Indonesia, sebaiknya mulai digiatkan sekarang. Tidak ada istilah terlambat untuk memperbaiki. ***

 

 

Rusa berpeluang untuk dibudidayakan seperti halnya kambing

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img