Friday, June 12, 2026

Sampah Dapur Berubah Gas

Rekomendasi

Memasak dengan gas dari limbah dapur yang aman, bersih, sekaligus menghasilkan pupuk organik.

Produksi sampah pada 2025 mencapai 1,42 kg per orang per hari. (Dok. Trubus)

Trubus — Kompor gas dua tungku di dapur Akhmad Sutrisno itu tidak mengandalkan elpiji, melainkan biogas. Warga Desa Gunungraya, Putihan, Kabupaten Lampung Tengah, itu mendapatkan gas dari digester di halaman rumahnya. Jika biasanya digester menggunakan kotoran sapi atau ampas tahu, di sana bahannya agak berbeda, yakni limbah dapur seperti sisa sayuran, cangkang telur, buah busuk, kulit buah, atau nasi basi. Unitnya bernama biogas mini rumahan, disingkat biomiru. “Prinsipnya dari dapur kembali ke dapur,” kata manajer proyek Yayasan Rumah Energi, Agung Lenggono.

Kontruksi biomiru hampir sama dengan unit yang lebih dulu populer. Terdiri atas digester, penampung gas, manometer pengukur tekanan, dan kompor. Digester menggunakan toren—tangki air yang banyak tersedia di toko bahan bangunan—sedangkan penampung gas menggunakan rangkaian pipa polivinil klorida (PVC) 4 inci yang tertata di tembok. Ada tiga ukuran digester biomiru, yaitu 600 l yang menghasilkan 300 l biogas per hari, 1.000 l (400 l), dan 2.000 l (500 l).

Pancingan

Digester ditanam di tanah agar biogas lancar mengalir. (Dok. Trubus)

Kapasitas 600 l bisa untuk memasak 30 menit, 1.000 l mampu menyalakan kompor 45 menit, sedangkan kapasitas 2.000 l menghasilkan biogas untuk memasak selama 60 menit. Namun untuk menghasilkan biogas, digester mesti diisi penuh kotoran sapi sebagai “pemancing”. Kotoran sapi mengandung bakteri metanogen yang mengubah bahan organik menjadi biogas. Penambahan kotoran sapi mempercepat produksi awal biogas menjadi 4—5 hari sejak pengisian.

Tanpa itu, biogas baru bisa dipakai memasak 30—45 hari pascapengisian. Setelah gas mengalir, pengguna tinggal menambahkan sampah dapur atau bahan organik. Menurut pendamping Program Biomiru di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Nurul Munawaroh, pengguna hanya perlu menambahkan 10—15 kg limbah dapur setiap hari. Jika produksi sampah tidak mencapai jumlah itu, pengguna memasukkan sampah organik lain seperti daun kering atau gulma dari pekarangan.

Bagian instalasi biomiru yaitu pipa penampung,
manometer, dan kompor. (Dok. Yayasan Rumah Energi)

Kapasitas biomiru lebih kecil ketimbang digester biogas yang lazim digunakan di kompleks pembuangan sampah atau peternakan sapi. Di kedua tempat itu kapasitas digester minimal 10 m3 atau 10.000 l, lima kali lebih besar ketimbang biomiru. Oleh karena itu, Yayasan Rumah Energi (YRE)—inisiator biomiru—menyelipkan kata mini untuk membedakannya dengan program biogas rumah (BiRu) yang berjalan lebih dahulu.

Ukuran mini menjadikan unit biomiru irit ruang. Seperangkat digester lengkap dengan lubang masuk (inlet) dan pembuangan hanya memerlukan tempat 2,5—3 m2. Kompor pun tidak mesti terletak dekat digester. Jika dapur agak jauh, pengguna bisa memasang selang dari digester ke penampung. Penampung berbahan pipa PVC itu menyimpan produksi biogas agar sewaktu-waktu bisa digunakan.

Pengguna biomiru menangguk keuntungan ganda. Mereka tidak lagi perlu membeli gas elpiji untuk memasak. Lingkungan rumah pun bebas dari aroma menyengat akibat pembusukan sampah organik. Digester mengarahkan gas hasil pembusukan itu ke kompor. Periset di Pusat Penelitian Listrik dan Mekatronika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2-Telimek LIPI), Kota Bandung, Jawa Barat, Yaya S. Sumarna, menyatakan kandungan utama biogas adalah gas metan (CH4).

Berbeda dengan gas LPG komersial yang tersusun atas propan dan butan. Tekanan biogas hanya 0,2 atm, jauh lebih rendah ketimbang elpiji yang mencapai 5 atm sehingga aman tidak rawan meledak seperti LPG. Metan juga sangat ringan sehingga posisi digester mesti lebih rendah daripada pipa penampung atau kompor. Menurut Agung Lenggono digester lazimnya “ditanam” sampai hanya tutup atasnya yang terlihat. Toren berbahan plastik pun awet lantaran terlindung dari panas maupun hujan.

Mengamankan metan

Pendamping biomiru di Salatiga, Jawa Tengah, Nurul Munawaroh. (Dok. Pribadi)

Menurut Nurul Munawaroh perangkat digester tahan digunakan minimal 15 tahun. Perawatan hanya dengan mengecek persambungan agar tidak bocor. Sampah dapur mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan bahan organik lain. Pembusukan bahan-bahan itu melepaskan metan, amonia, karbondioksida, hidrogen sulfida, dan air. Metan dan karbondioksida memicu efek rumah kaca penyebab pemanasan global.

Namun, metan lebih berbahaya ketimbang karbondioksida karena ringan dan sulit larut air. Begitu sampai atmosfer, metan sulit kembali ke permukaan tanah. Metan berubah menjadi karbondioksida ketika pengguna biogas itu menggunakannya untuk memasak. Itulah sebabnya mereka mengurangi dampak buruk bagi lingkungan. Menurut Agung pengguna biomiru kebanyakan di Lampung dan Nusa Tenggara Barat, terutama yang jauh dari pusat keramaian.

Di sana potensi bahan organik melimpah tapi distribusi LPG bersubsidi terkendala jarak. Lampung, salah satu sentra singkong dan industri tapioka tanah air, berlimpah limbah kulit singkong dan limbah cair sisa endapan pati. “Masyarakat bisa mengolah sendiri limbah mereka dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bahan bakar bersubsidi,” kata Agung. Meski bermanfaat, instalasi biomiru juga menghasilkan limbah.

Limbah padat sisa penguraian sampah dapur itu justru menjadi pupuk organik yang aman bagi tanaman karena terurai sempurna. Mengutip prediksi Badan Pusat Statistik, pada 2025 produksi sampah mencapai 1,42 kg per orang per hari. Jika semua berakhir di tempat pembuangan sampah akhir, biaya pengolahannya tidak sedikit. Biomiru membantu mengurangi aliran sampah ke pembuangan akhir. (Argohartono Arie Raharjo)


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This