Friday, May 22, 2026

Kejar Fulus Kemukus

Rekomendasi
- Advertisement -
Harga biji kemukus menggiurkan
dan stabil tinggi. (Dok. Trubus)

Kemukus hampir punah. Padahal, industri farmasi membutuhkan tanaman asli Indonesia itu. Harga jual kemukus bertahan tinggi.

Trubus — Mad Rohim (35) sempat menekuni berbagai pekerjaan sebelum akhirnya membuka bengkel modifikasi motor. Dari para pelanggan bengkel, Mad Rohim mengetahui peluang bisnis kemukus, tanaman rempah yang banyak dibutuhkan industri farmasi atara lain untuk mengobati brokhitis, disentri, dan penyakit kelamin itu.

Ayah dua anak itu banting setir menjadi pemborong biji Piper cubeba. Pergaulan dengan para pengolah membuka pandangannya terhadap peluang menanam kemukus. Sambil menyelam minum air, ia memborong buah, membeli biji kering, sembari belajar membudidayakan kemukus. Dua tahun kemudian, Rohim mulai menanam. Kini, 15 tahun kemudian, Rohim memiliki 1.000 tanaman kemukus yang di pasar internasional sohor dengan sebutan cubeb pepper.

Sebanyak 500 tanaman produktif berumur 5–15 tahun, lainnya baru tanam atau kurang dari setahun. Tanaman berbuah perdana pada umur 2—3 tahun. Setiap tanaman menghasilkan sedikitnya 5 kg buah segar per musim yang jatuh pada Juni—Agustus Oleh karena itu, ia memperoleh minimal 2.500 kg buah segar setara 625 kg kemukus kering setiap musim. Tahun lalu, harga kemukus kering Rp240.000 per kg sehingga omzetnya Rp150 juta.

Buah muda kemukus di tanaman berumur 4 tahun di pekarangan rumah Krisis Prayitno. (Dok. Trubus)

Dibandingkan dengan komoditas lain, “Kemukus menjadi sumber penghasilan terbesar,” kata Mad Rohim. Selain Rohim, petani lain yang mengandalkan kemukus adalah Aji Wibastu Rohmat (21) di Desa Pesangkalan, Pagedongan, Banjarnegara, Jawa Tengah. Kini lima tahun berselang, sekitar 200 tanamannya mengalirkan rupiah. Pada 2019, 200 tanaman berumur 4 tahun setinggi 3 m menghasilkan total 600 kg buah segar.

Pemborong membayar Rp50.000 per kg sehingga Aji meraup omzet Rp30 juta. Itu belum termasuk penjualan bibit. Ayah satu anak itu rutin memproduksi bibit. Rohim dan Aji tergolong petani kemukus modern yang rela berpeluh memanggul karung berisi pupuk organik untuk mendongkrak produksi buah. Maklum, banyak petani kemukus menganggap budidaya biji lada berekor itu sekadar sampingan. Menurut petani di Kebumen, Jawa Tengah, Krisis Prayitno, produksi tanaman berumur 4 tahun hanya 1 kg buah segar per tahun.

Petani yang turun-temurun menanam kemukus itu tidak memupuk tanaman. Padahal, pengalaman Rohim, dengan perawatan optimal—pemupukan, penyiangan gulma, dan pemangkasan pohon tajar—produksi tanaman berumur 5 tahun 5 kg buah segar per tanaman.

Petani kemukus di Banjarnegara, Aji Wibastu Rohmat. (Dok. Pribadi)

Bahkan, ada juga yang bisa menghasilkan 10 kg, sebaliknya ada juga yang belum berbuah. “Produksi buah kemukus tergantung jenis bibit. Kalau sulur berasal dari tanaman produktif, bibit dari sulur itu pun bisa menjadi tanaman produktif,” kata Rohim. Itu sebabnya ia memilih pembibitan sebagai pintu masuk mempelajari kemukus.

Kebalikan lada

Petani biasanya mengandalkan sulur panjat (sulur dari batang utama yang tersambung ke tanah, red.) untuk memperbanyak tanaman dengan metode setek. Cara itu menghasilkan tanaman merambat tinggi terlebih dulu dan baru berbuah pada umur 2–3 tahun. Ada juga yang memilih sulur gantung karena lebih cepat berbuah. “Tanaman baru mulai merambat naik pun langsung berbuah,” kata Rohim. Perbanyakan generatif dengan menanam biji belum tentu tumbuh menjadi tanaman produktif.

“Bisa juga menjadi tanaman jantan,” kata Yitno. Menurut Yitno tanaman kemukus ada jantan dan betina. Kemukus jantan hanya berbunga tapi tidak bisa berbuah. Menurut Yitno kemukus tidak bisa hidup di sembarang tempat. Masyarakat di desa tempat tinggalnya, Desa Kedunggong, Sadang, Kabupaten Kebumen, menanam kemukus sejak dulu lantaran agroklimat di sana cocok.

Petani kemukus di Purworejo, Jawa Tengah, Mad Rohim. (Dok. Pribadi)

“Turun ke desa sebelah saja kemukus tidak berbuah. Di sana mereka menanam cabai jawa dan lada,” kata ayah 4 anak itu. Menurut Rohim persyaratan tumbuh kemukus berkebalikan dengan lada. Lada tahan sinar langsung sehingga bisa tumbuh tanpa naungan dan bisa berbuah di dataran rendah. Sementara itu kemukus mutlak perlu naungan dan menuntut tempat yang agak sejuk agar berproduksi. Namun, di tempat yang terlalu dingin pun kemukus tidak tahan.

Menurut periset Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Kota Bogor, Jawa Barat, Drs. Cheppy Syukur, kemukus adaptif di ketinggian 150–500 meter di atas permukaan laut. Tanaman itu menyukai kebun yang teduh tapi masih tembus sinar matahari. Sayang, hingga sekarang belum ada varietas kemukus unggul sehingga petani mengandalkan bibit dari lahan sendiri atau rekan untuk memperbanyak tanaman.

Dinas Perkebunan Jawa Tengah mencatat, pada 2018 produksi kemukus Jawa Tengah 131,38 ton dengan penghasil terbesar Kabupaten Wonosobo sebanyak 70,41 ton. Daerah yang memproduksi selain Wonosobo adalah Banjarnegara, Purworejo, Magelang, Semarang, Temanggung, dan Kendal. Perniagaan kemukus tetap menggiurkan. (Argohartono Arie Raharjo)


Artikel Terbaru

Modal Besar, Untung Menarik dari Budidaya Sidat Sistem RAS

Trubus.id-Budidaya sidat dengan sistem recirculating aquaculture system (RAS) memang membutuhkan modal besar pada tahap awal. Namun, keuntungan yang diperoleh...

More Articles Like This