Sunday, May 24, 2026

Tempe dan Probiotik Berpotensi Dukung Kesehatan Lansia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia terus meningkat. Kondisi itu mendorong peneliti mencari berbagai pendekatan preventif berbasis pangan untuk menjaga kualitas hidup lansia tetap optimal. Salah satu yang diteliti ialah potensi pangan fermentasi lokal untuk mendukung healthy aging atau penuaan sehat.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Iskandar Azmy Harahap, mengatakan perempuan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki usia harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki.

Menurut Iskandar, masa menopause menjadi fase penting karena penurunan hormon estrogen berkaitan dengan berbagai perubahan kesehatan, mulai dari ketidakseimbangan mikrobiota usus hingga penurunan kepadatan mineral tulang. Kondisi itu meningkatkan risiko osteoporosis pada perempuan lanjut usia.

“Osteoporosis masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama pada populasi lansia,” ujar Iskandar dalam Webinar Ngajitekprop #24, Selasa (19/5).

Selama ini penanganan osteoporosis umumnya masih mengandalkan terapi konvensional. Namun, penggunaan jangka panjang dinilai memiliki sejumlah keterbatasan sehingga diperlukan pendekatan pendukung berbasis nutrisi.

Karena itu, BRIN meneliti potensi pangan fermentasi berbasis kedelai seperti Tempe yang kaya isoflavon. Peneliti juga mengombinasikannya dengan probiotik dan kalsium untuk membantu menjaga kesehatan tulang sekaligus keseimbangan mikrobiota usus.

Iskandar menjelaskan hasil penelitian awal menunjukkan kombinasi nutrisi tersebut berpotensi mendukung pembentukan sel tulang. Pada uji pra-klinis, konsumsi tempe bersama probiotik juga berkaitan dengan perbaikan status kalsium serta indikator metabolisme tulang.

Selain itu, studi pada perempuan pascamenopause menunjukkan adanya indikasi bahwa pemberian probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan proses metabolisme tulang. Meski demikian, hasil penelitian tersebut masih memerlukan tahapan validasi lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas kepada masyarakat.

“Penelitian dari sel, hewan, hingga manusia merupakan proses bertahap sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasi tanpa validasi yang kuat,” tutur Iskandar.

Melalui riset itu, BRIN berharap pemanfaatan pangan fermentasi lokal dapat menjadi salah satu strategi menghadapi tantangan populasi menua di Indonesia. Selain mendukung kesehatan lansia, pendekatan tersebut juga membuka peluang pengembangan pangan fungsional berbasis bahan lokal.


Artikel Terbaru

Mengenal Susunan Filter pada Sistem RAS Budidaya Sidat

Trubus.id-Keberhasilan budidaya sidat dengan sistem recirculating aquaculture system (RAS) sangat bergantung pada kualitas filtrasi air. Sistem filter pada RAS...

More Articles Like This