Friday, January 16, 2026

Tergiur Laba Olahan Kakao

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Nyaris semua orang dari berbagai usia maupun status sosial menyukai olahan kakao berupa cokelat. Permintaan kakao yang tinggi juga tak luput dari besarnya pasar olahan kakao.  Menurut Pusat Data dan Informasi Pertanian, konsumsi kakao dalam bentuk cokelat instan dan cokelat bubuk meningkat.

Peningkatan tajam sepanjang 2010—2019, masing-masing 20,31% dan 85,72% untuk rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya. Pada 2019, konsumsi cokelat instan sebesar 41,15 gr/kapita serta konsumsi cokelat bubuk sebesar 17,73 gr/kapita.

Menurut produsen cokelat di Jakarta Selatan, Afdhal Aliasar, S.T., pasar dalam negeri sangat menjanjikan untuk berniaga olahan kakao. Afdal mengolah kakao organik menjadi beragam produk antara lain cokelat bubuk dan cokelat batangan.

Ia menuturkan bahwa cokelat bubuk lebih banyak penggemarnya dibandingkan dengan cokelat batangan. Harap mafhum, cokelat bubuk menjadi bahan baku aneke kue, kukis, dan panganan lain. Afdal mengemas produk cokelat dengan nama Minang Kakao.

Afdal memasok bahan baku dari pekebun mitra yang ada di Sumatra Barat. Total luas lahan sekitar 100 ha. Afdal memberikan pendampingan kepada pekebun mitra mulai dari budi daya hingga pascapanen.

Tujuannya untuk menjaga kualitas produk sejak dari kebun hingga siap konsumsi. Dengan pendampingan Afdal pun dapat menjaga pasokan produksi untuk produk olahan kakaonya. Pendampingan pekebun kakao juga dilakukan oleh PT Pesona Khatulistiwa Nusantara di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.

Sebanyak 79 pekebun kakao mengikuti program pendampingan dengan menerapkan model pentahelix pengembangan kapasitas pekebun dalam upaya peningkatan produksi kakao di Kabupaten Bulungan.

Pendampingan yang dilakukan meliputi seluruh tahapan budidaya dari penyediaan bibit, penyiapan lahan tanam, penanaman, perawatan dan peremajaan tanaman, serta panen dan pascapanen.

Sejak 2017 hingga 2023 sudah tertanam sebanyak 27.048 tanaman kakao. Sebanyak 3.063 tanaman telah berbuah. Total jenderal, luas area penanaman 22,7 ha dengan jarak tanam 3 m x 3 m. Produksi rata-rata 1,2— 1,3 ton biji kering per ha setiap tahun.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img