Monday, August 8, 2022

Tiga Berkhasiat Luar Biasa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Mengkudu, jahe, temulawak, herbal sederhana berkhasiat luar biasaMengkudu, jahe, dan temulawak mengandung senyawa aktif yang andal menggempur bakteri tuberkulosis hingga tifus.

Sanatorium Sea View, New York, Amerika Serikat, pertengahan 1951. Puluhan pengidap tuberkulosis yang semula tinggal menghitung hari mulai menampakkan kemajuan. Demam mereka mereda dan bobot tubuh bertambah. Meski  menderita efek samping berupa gangguan otot, beberapa pasien menampakkan kegembiraan berlebihan. Aula sanatorium yang semula lengang menjadi riuh oleh pasien tuberkulosis yang mulai sembuh dan tiba-tiba menari-nari tanpa sebab.

 

Drs Endjo Djauhariya: mengkudu berkhasiat mesti berasal dari daerah minim polusiBuah berwarna mencolok mengandung kuersetin sebagai zat warnaLakton dalam mengkudu berkhasiat antidepresanPenyebab kegaduhan itu baru diketahui setahun berselang. Pada 1952 kimiawan di Universitas Northwestern, Chicago, Amerika Serikat, Albert Zeller, menemukan kemampuan iproniazid—obat baru tuberkulosis yang menampakkan keberhasilan fenomenal itu—menekan enzim monoamina oksidase alias MAO. Enzim MAO bekerja “merusak” dopamin, serotonin, epinefrin, dan norepinefrin. Keempatnya tergolong zat yang memberikan rasa nyaman, tenang, dan damai. Penemuan iproniazid menandai perlombaan menemukan bahan yang mampu menekan produksi MAO alias MAOIs (monoamine oxidase inhibitors). Menekan MAO berarti memberi rasa nyaman, tenang, dan damai.

Selang 8 tahun sang bahan pionir mulai ditinggalkan. Efek samping berupa kerusakan otot, tekanan darah tinggi, sampai kegagalan hati membuatnya tergantikan oleh berbagai bahan lain. Edward Shorter dalam buku Before Prozac: The Troubled History of Mood Disorders in Psychiatry menulis, iproniazid dalam dosis tinggi memicu efek samping berupa rasa lemas di otot. Namun, jika dosisnya dikurangi, tidak ada efek pengobatan apapun yang tampak. Itu sebabnya pada 1959—1970 muncul berbagai jenis MAOIs lain, mulai dari marsilid, fenelzin, nialamid, dan jenis-jenis lain.

Enzim monoamina oksidase sejatinya diproduksi tubuh untuk melindungi organ penting seperti hati, alat-alat pencernaan, sampai otak. Sesuai namanya, MAO mengoksidasi alias menguraikan zat-zat monoamina yang bersifat memberikan rasa nyaman. “Hasilnya kewaspadaan dan kesadaran meningkat sehingga orang menjadi “awas” dengan sekelilingnya,” kata Nurcahyanti Wahyuningtyas MBiomed Apt, farmakolog di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. MAO terbagi 2 berdasarkan letaknya, MAO A dan MAO B. MAO A bekerja di hati dan organ pencernaan, sementara MAO B terdapat dalam otak dan keping darah.

MAOIs alam

Sejatinya alam menyediakan bahan penghambat MAO alami. Sebut saja rimpang temulawak Curcuma xanthorrhiza, jahe Zingiber officinale, dan buah mengkudu Morinda citrifolia. Kandungan kurkumin dalam temulawak yang sohor dengan khasiat imunomodulator ternyata juga bersifat MAOIs. Wajar jika temulawak kerap menjadi salah satu bahan herbal untuk terapi anak hiperaktif. Adapun jahe dan mengkudu berbagi bahan aktif yang sama: kuersetin. Kurkumin dan kuersetin sama-sama berkemampuan menekan aktivitas kedua jenis MAO.

Ketiganya juga berbagi asal-usul yang sama: benua Asia. Meski demikian, mengkudu asal Pulau Tahiti, Polinesia Prancis, yang terletak jauh di tengah Lautan Teduh alias Samudera Pasifik, kerap dianggap mengkudu dengan khasiat terbaik. Sebab lokasi tumbuhnya terbebas dari polusi kendaraan bermotor. Harap mafhum, kerabat kopi itu juga sakti menyerap polutan. Celakanya, logam berat dari udara lantas ditumpuk begitu saja dalam daging buah.

Padahal, dalam daging buah itu terkandung berbagai zat berkhasiat, mulai dari kuersetin, kaempferol, morindol, pinoresinol, sampai lakton. Yang disebut terakhir adalah kandungan lain mengkudu yang juga berkemampuan MAOIs sehingga mengkudu memiliki kemampuan sebagai bahan antidepresan. Wajar jika Drs Endjo Djauhariya, periset bidang budidaya tanaman di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Bogor, menyatakan mengkudu yang aman dikonsumsi adalah yang jauh dari jalan raya maupun sumber polusi.

Kuersetin, yang termasuk golongan besar senyawa flavonoid, sejatinya adalah zat warna. Bahan-bahan alam berwarna mencolok—mulai dari anggur merah, buah beri, teh hijau, sampai terung atau cabai rawit—bisa dipastikan memiliki kandungan kuersetin. Zat warna itu tak sekadar memiliki kemampuan menghambat enzim MAO, bahkan mampu melindungi jantung. Atom penyusun kuersetin mempunyai banyak orbital kosong dengan energi maksimum yang mampu memerangkap oksigen bebas yang tidak tahu aturan. Itu membuatnya bersifat antioksidan dan antiinflamasi—2 sifat penting bahan antikanker.

Namun, jahe mempunyai kumpulan bahan antiinflamasi yang lebih kuat ketimbang kuersetin. Zat-zat itu disebut gingerdion, yang antara lain terdiri atas zat gingerol, shogaol, paradol, dan zingeron. Bersama-sama kuersetin, gingerdion menghambat enzim siklooksigenase dan memperlambat pembentukan prostaglandin (perantara terbentuknya radang di jaringan) serta sintesis leukotrien. Pembentukan prostaglandin dan leukotrien itu yang bertanggung jawab terhadap rasa sakit. Penghambatan keduanya otomatis mengurangi rasa sakit akibat trauma otot maupun persendian.

Masalah serius

Seperti kuersetin, kurkumin pun mampu menghambat MAO A dan MAO B sekaligus. Namun, kombinasi 62% kurkumin dan 38% desmetoksikurkumin membentuk kurkuminoid, yang sakti menggedor dinding sel tebal methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Para ahli medis sejak lama menuduh MRSA sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya infeksi akut pada penderita gangguan sistem imun. Jika demikian, kurkuminoid tidak akan gamang menjegal parasit Salmonella typhi penyebab tifus, yang mempunyai dinding sel tipis.

Tifus alias sariawan usus merupakan gangguan kesehatan yang, meski berdampak serius, cukup banyak terjadi di masyarakat. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, terjadi 1 kasus tifus per 1.000 penduduk per tahun. Sekitar 91% menyerang penduduk belia berusia 3—19 tahun. Adapun di seluruh dunia, setiap tahun setidaknya terjadi 22-juta kasus tifus dengan 200.000 kasus menemui ajal. Padahal, obatnya tidak usah jauh-jauh mencari, cukup temulawak. Jadi mau sehat, bebas depresi, dan terhindar dari nyeri otot? Mulailah rutin mengonsumsi temulawak, mengkudu, dan jahe. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleHangat Usir Pegal
Next articlePulpa Berubah Nata
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img