Perayaan Iduladha identik dengan melimpahnya stok daging kurban di rumah. Berbagai hidangan seperti sate, semur, gulai, hingga rendang pun mulai diolah untuk disantap bersama keluarga. Namun, tidak sedikit orang mengeluhkan tekstur daging yang keras atau alot setelah dimasak.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat , Reisi Nurdiani, MSi, menjelaskan bahwa cara pengolahan sangat menentukan kualitas tekstur sekaligus kandungan gizi pada daging.
Melansir pada laman IPB University, menurut Reisi, proses pemanasan memang dapat memengaruhi kandungan protein. Meski demikian, protein pada daging matang justru lebih mudah dicerna tubuh dibandingkan daging mentah.
Protein mengalami proses denaturasi selama pemasakan sehingga lebih mudah diserap tubuh. Karena itu, meskipun jumlahnya sedikit berkurang, manfaatnya tetap optimal bagi tubuh.
Selain protein, daging juga mengandung zat besi yang penting untuk membantu pembentukan sel darah merah. Kandungan zat besi itu relatif stabil selama proses memasak sehingga tidak banyak mengalami perubahan.
Untuk menghasilkan tekstur yang lebih empuk, Reisi menyarankan penggunaan bahan alami sebagai pengempuk daging. Salah satu yang paling sering digunakan ialah daun pepaya.
Daun pepaya mengandung enzim papain yang mampu membantu memecah serat protein pada daging. Cara penggunaannya cukup sederhana, yakni daun pepaya dihancurkan lalu dilumurkan pada permukaan daging beberapa saat sebelum dimasak.
Selain daun pepaya, buah nanas juga dapat dimanfaatkan. Nanas memiliki kandungan enzim bromelin yang bekerja membantu melunakkan serat daging.
Penggunaan nanas parut tidak hanya membantu mengempukkan daging, tetapi juga dapat memberikan aroma segar pada masakan. Selain itu, beberapa bahan lain seperti jahe, kiwi, hingga daun pandan wangi juga bisa digunakan dalam proses pengolahan.
Reisi menambahkan, teknik memasak harus disesuaikan dengan jenis potongan daging. Bagian yang memiliki banyak serat seperti paha atau betis sebaiknya dimasak perlahan dengan suhu sedang dalam waktu cukup lama.
Metode slow cooking dinilai efektif membuat serat daging menjadi lebih lunak. Penggunaan panci presto juga bisa menjadi alternatif untuk mempercepat proses pengempukan.
Sebaliknya, bagian daging yang sudah empuk seperti has dalam tidak memerlukan waktu masak terlalu lama. Jika dimasak berlebihan, tekstur daging justru dapat menjadi keras dan kering.
Pemotongan daging juga perlu diperhatikan sesuai kebutuhan masakan. Untuk olahan sate, misalnya, daging sebaiknya dipotong kecil dan tipis agar lebih cepat matang serta tetap menjaga kandungan gizinya.
Pengolahan yang tepat membuat daging kurban tidak hanya lebih nikmat disantap, tetapi juga tetap memberikan asupan nutrisi yang baik bagi tubuh.
Foto: Dok. Canva
