Trubus.id— Pengembangan budidaya kerang abalon sangat potensial dilakukan di Indonesia. Pasalnya, permintaan abalon di dalam negeri seperti restoran dan hotel masih belum terpenuhi.
Dalam rangka pengembangan abalon, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, mempunyai beberapa lembaga yang dilengkapi dengan fasilitas pembenihan abalon.
Lembaga itu yakni Pusat Pembenihan Kerang Abalon Tigaron di Karangasem, Bali; Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok, Lombok Tengah (NTB); Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya laut (BBPPBL Gondol), Bali; dan Balai Budidaya Air Payau, Takalar, Sulawesi Selatan.
Melalui lembaga-lembaga itu pemerintah berhasil mengembangkan teknologi pembenihan dan produksi benih untuk dua jenis abalon yaitu H. asinina dan H. squamata. Apalagi secara teknologi untuk pembesaran boleh dibilang sudah menguasai.
Menurut penanggung jawab kelompok kerja abalon, Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Taufan Haryono, tingkat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) untuk pembesaran abalon mencapai 85%. Namun, yang masih ada kendala di sektor pembenihan.
“SR nya masih kecil, yaitu kurang dari 3%,” kata Taufan.
Salain itu, waktu budidaya yang lama juga masih membuat masyarakat enggan terjun ke budidaya. Taufan mengatakan dari sejak telur hingga siap konsumsi perlu waktu 2 tahun.
Oleh sebab itu pemerintah melalui Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok membagikan bantuan benih untuk memangkas waktu budidaya dengan cara pembesaran. Pemerintah memberi bantuan benih berukuran 2—3 cm.
Pembudidaya memerlukan waktu minimal setahun untuk memanen abalon berukuran konsumsi (berukuran 10 cm lebih). Dengan begitu masyarakat bisa menjualnya untuk memperoleh pendapatan.
“Program itu sudah berjalan sejak 2020,” tutur pria berumur 34 tahun itu.
Pada 2022 sasaran kegiatan itu ada 5 kelompok di Lombok Timur dan sudah terdistribusi 10.000 benih. Semoga masyarakat tertarik untuk membudidayakan abalon agar siput ningrat itu lestari.
