Monday, August 8, 2022

Vanili genjah : Umur Setahun Berbunga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tanaman vanili di kantong tanam dengan tajar pipa berisi brikoka. (Dok. Trubus)

Kotoran kambing memacu pertumbuhan vanili.

Trubus — Sosok tanaman vanili di halaman rumah Imam Prayodi relatif pendek. Tingginya paling hanya dua meter. Vanili-vanili itu tumbuh di kantong tanam. Warga Desa Jelok, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu membudidayakan 20 vanili di dalam rumah tanam mini berukuran 5 m x 10 m. Rumah tanam bertiang dan pagar bambu. Jarak antarkantong tanam 1 m untuk mempermudah lalu lalang ketika menyiram.

Pada Agustus 2020 umur tanaman anggota famili Orchidaceae itu baru setahun sejak tanam. Tanaman semuda itu sudah berbunga. Lazimnya vanili berbunga perdana pada umur 20—28 bulan. Ia menargetkan pada 2021 memanen 0,1—0,3 kg polong vanili berkualitas dari setiap kantong tanam. Imam Prayodi menghasilkan vanili genjah setelah menerapkan inovasi brikoka atau briket kotoran kambing pada September 2019.

Tajar pipa

Pekebun vanili di Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Imam Prayodi. (Dok. Trubus)

Pupuk brikoka itu temuan periset di Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), Jeki Mediantari Wahyu Wibawanti, M.Eng., M.Si. Jeki menggunakan bahan kotoran kambing yang melimpah lantaran Kecamatan Kaligesing sentra kambing perah peranakan etawa (PE). Di sisi lain, Kabupaten Purworejo, pernah menjadi sentra vanili.

Ketika harga anjlok pada 2004, pekebun enggan merawat vanilinya. Petani yang bertahan menanam vanili pun menghadapi masalah pencurian. “Kalau menanam di kebun yang jauh dari rumah pasti tidak panen,” kata Imam.

Pencuri menarik sulur dari bawah untuk mendapatkan polong. Pekebun tidak hanya kehilangan polong, tanaman vanili mereka pun porak poranda sehingga produksi musim berikutnya anjlok. Jauhnya penanaman dari pemukiman, selain rawan pencurian, juga mempersulit perawatan. Menurut Jeki perambatan sulur vanili tidak terkendali sehingga mempersulit polinasi ketika berbunga.

Inovasi brikoka mengatasi beragam persoalan itu. Pekebun bisa menanam vanili di pekarangan sehingga pengawasan tanaman lebih mudah. Tanaman genjah lantaran pasokan hara terjamin, seperti dibuktikan Imam Prayodi.

Inovasi brikoka relatif sederhana. Imam menggunakan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 3 inci sepanjang 3 m sebagai tajar atau rambatan tanaman. Ia menancapkan pipa sedalam 50 cm ke media tanam sehingga bagian pipa di atas panjangnya 2,5 meter.

Kandungan hara makro dan mikro kotoran kambing lengkap. (Dok. Trubus)

Pipa berlubang-lubang. Jarak antarlubang 10 cm dengan empat lubang per garis melingkar. Pipa terbungkus ijuk agar sulur vanili dapat tumbuh ke atas. Bagian dalam pipa menampung briket kotoran kambing (brikoka) sebagai sumber nutrisi. Lubang di pipa itu memungkinkan akar rambat menyerap hara dari brikoka dalam pipa. Ia memanfaatkan kantong tanam berdiameter 50 cm untuk menanam vanili. Satu kantong tanam terdiri atas dua tanaman.

Adapun media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang terfermentasi selama sepekan. Perbandingan keduanya 1 : 1. Ia menutup permukaan media dengan ijuk kasar dan serabut lama yang warnanya lebih gelap. Ijuk dan serabut mencegah media tanam kehilangan kelembapan sekaligus menyimpan air.

Hara lengkap

Lubang untuk penyerapan hara oleh akar samping. (Dok. Trubus)

Penanaman vanili di kantong dengan tajar pipa berbalut ijuk dan penggunaan brikoka terbukti efektif. Menurut Imam diameter sulur tunas yang muncul lebih besar ketimbang sulur bawah. Padahal, Imam baru menanam vanili itu pada 2019. Selang setahun, pada Agustus 2020, panjang sulur itu lebih dari dua meter dan siap berbunga. “Tinggal membuat tanaman stres sedikit agar terpicu berbunga,” kata ayah dua anak itu.

Jeki Wibawanti mengatakan, kotoran kambing mengandung hara yang lengkap. Brikoka mengandung hara makro yakni unsur nitrogen, fosfor, dan kalium serta mikro (unsur besi, seng, boron, dan tembaga). Oleh karena itu, pemanfaatan brikoka efektif memacu produksi vanili.

Pembentukan menjadi briket memudahkan penggunaan terutama untuk vanili di kantong tanam. Menurut Imam briket dalam pipa juga irit. Pada awal penanaman, ia mengisikan 3—5 kg brikoka ke pipa. Pada tahun berikutnya, ia hanya perlu menambahkan paling banyak 1 kg brikoka ke dalam pipa. Petani yang juga membudidaya lebah trigona itu membentangkan batang bambu melintang di atas pipa untuk rambatan sulur.

Tajar pipa itu hanya menyediakan nutrisi dari brikoka tapi tidak menaungi. Itu sebabnya Imam membentangkan selapis jaring peneduh agar tanaman tidak stres. Menurut ahli teknologi pertanian di Institut Pertanian Bogor, Dr. Dwi Setyaningsih, STP, M.Si., kadar vanilin dalam vanili produksi Indonesia lebih rendah ketimbang potensinya. Pemenuhan hara dengan brikoka salah satu cara meningkatkannya. (Argohartono Arie Raharjo)

Bikin Brikoka

  1. Encerkan larutan induk mikrob untuk memfermentasi kotoran kambing. Seliter larutan induk cukup untuk membuat 100 liter larutan fermentor.
  2. Hamparkan 100 kg kotoran kambing setebal 15 cm lalu basahi dengan larutan fermentor. Tutup rapat dengan terpal atau karung plastik.
  3. Ulangi penyiraman tiap 3—4 hari sambil membalik kotoran kambing lalu tutup lagi.
  4. Fermentasi selesai dalam 10—14 hari. Tandanya kotoran kambing tidak lagi berbau.
  5. Haluskan dengan mesin chopper, tambahkan kanji 5—10% bobot lalu aduk rata.
  6. Cetak menjadi bentuk pelet menggunakan mesin disc mill.
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img