Trubus.id — Tanaman paliasa Kleinhovia hospita memiliki beragam kegunaan. Masyarakat Kalimantan Timur kerap memanfaatkan daun paliasa sebagai obat antimalaria.
Menurut Mery Budiarti, M.Si., peneliti di Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), masyarakat lokal mengombinasikan daun paliasa yang masih kerabat kapas itu dengan beragam herbal sebagai obat antimalaria.
Sebagai herbal tunggal pun, daun paliasa masih kuat sebagai antimalaria. Namun, belum ada riset ilmiah yang membuktikannya sehingga Mery penasaran bagaimana bisa daun paliasa ampuh sebagai obat antimalaria.
Penasaran itulah yang mendorong Mery untuk menggali khasiat daun paliasa. Ia mendapatkan sampel 10 kilogram daun paliasa dari tanaman berumur 10 tahun di salah satu kebun Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Selanjutnya, Mery mengekstraksi daun paliasa dengan berbagai pelarut yakni etanol, heksana, etil asetat, dan metanol. Ia juga membandingkan dengan obat antimalaria yang dikenal di masyarakat (artemisinin dan klorokuin fosfat) sebagai kontrol positif.
Mery menyortir, mencuci, dan mengeringkan daun paliasa dalam oven bersuhu 40°C selama 3 × 24 jam. Ia memasukkan dalam oven hingga kadar air kurang dari 10%, dengan rendemen bobot bahan segar dan kering sebesar 1 banding 10.
Langkah berikutnya, ia menyerbukkan 1 kilogram simplisia dan memfiltrasinya dengan saringan 40 mesh. Filtrat kemudian diekstraksi dengan metode remaserasi selama tiga hari dalam 5.000 ml pelarut etanol pharmaceutical grade 96%. Secara umum tahapan riset persiapan sampel dan ekstrak, pengujian aktivitas antiplasmodium secara in vitro, dan penapisan fitokimia menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT).
Hasil penelitian menunjukkan daun paliasa berfaedah antimalaria. Nilai inhibition concentration (IC₅₀) fraksi etil asetat mencapai 1,08 ug.ml-¹. Inhibition consentration merupakan konsentrasi sampel yang mampu meredam 50% radikal bebas. Makin kecil nilai IC₅₀ semakin bagus. Nilai IC₅₀ etil asetat dan heksana memiliki kecenderungan mampu menyamai bioaktivitas klorokuin.
“Hal itu memberikan peluang pengembangan bahan baku alternatif obat baru untuk antimalaria melalui mekanisme sebagai antiplasmodium,” kata Mery.
Secara umum, senyawa yang berperan sebagai antimalaria dalam daun paliasa yakni alkaloid, triterpenoid, dan steroid. Senyawa khas daun paliasa masih dalam penelitian. Namun, ia yakin, senyawa khas daun paliasa yang berguna sebagai antimalaria ada jenis tersendiri.
