Thursday, June 4, 2026

Musim Kemarau Berpeluang Tingkatkan Produktivitas Bawang Merah, Petani Tetap Waspadai OPT

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Peralihan musim hujan ke musim kemarau kerap menjadi momentum yang menguntungkan bagi petani bawang merah. Kondisi cuaca yang lebih kering dan intensitas sinar matahari yang lebih tinggi dapat mendukung pembentukan umbi sehingga produktivitas meningkat.

Pengalaman itu dirasakan Muhamad Mulya, petani bawang merah di Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada salah satu musim tanamnya, ia berhasil memanen 5,5 ton bawang merah segar dari lahan seluas 5.000 m² yang terdiri atas kebun 3.000 m² dan 2.000 m².

Populasi tanaman mencapai sekitar 125.000 rumpun. Hasil panen tersebut setara dengan rasio 1 kg bibit menghasilkan sekitar 15 kg bawang merah segar. Sebelumnya, setiap 1 kg bibit hanya mampu menghasilkan sekitar 10 kg bawang merah.

Menurut Mulya, pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik setelah memasuki periode cuaca yang lebih kering. Kondisi itu berbeda dengan pengalaman pada akhir 2021 ketika hujan ekstrem disertai hujan es menyebabkan produksi anjlok. Saat itu ia hanya mampu memanen sekitar 20—40% dari potensi hasil normal.

Meski demikian, musim kemarau bukan berarti bebas tantangan. Mulya menuturkan petani tetap harus rutin memantau tanaman untuk mencegah serangan hama dan penyakit yang sewaktu-waktu dapat muncul.

Hal senada disampaikan Ujang Margana, petani bawang merah di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Menurutnya, produktivitas bawang merah umumnya lebih baik ketika curah hujan mulai berkurang.

Pada musim hujan, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) cenderung meningkat. Hama yang sering ditemukan ialah ulat grayak (Spodoptera exigua), sedangkan penyakit yang dominan adalah bercak ungu akibat cendawan Alternaria porii.

Pada kondisi curah hujan tinggi, tingkat serangan dapat mencapai sekitar 20%. Oleh karena itu petani perlu melakukan pemantauan rutin, menjaga sanitasi lahan, serta memberikan nutrisi tanaman secara seimbang agar pertumbuhan tetap optimal.

Bulan Kering Dorong Produktivitas

Hasil penelitian Ahmad Riyadlus Sholikin dan Didik Haryono dari Departemen Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa unsur bulan kering memiliki korelasi positif terhadap produktivitas bawang merah.

Penelitian yang dilakukan di beberapa sentra produksi bawang merah di Jawa Timur itu menunjukkan bahwa penambahan jumlah bulan kering berpotensi meningkatkan hasil panen. Kondisi tersebut berkaitan dengan menurunnya kelembapan lingkungan sehingga risiko penyakit yang menyerang umbi dan daun menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, curah hujan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan peluang munculnya penyakit seperti layu fusarium dan busuk umbi yang berakibat pada penurunan produksi.

Meski cenderung lebih produktif pada musim kemarau, bawang merah tetap membutuhkan pasokan air yang cukup. Linda Tri Wira Astuti dan rekan dari Institut Pertanian Bogor dalam Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) menyebutkan bahwa produksi bawang merah umumnya lebih tinggi pada musim kemarau dibanding musim hujan.

Namun, kekurangan air juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Daun menjadi cepat mengering, pembentukan umbi tidak optimal, dan ukuran hasil panen menurun.

Karena itu, keberhasilan budidaya bawang merah tidak hanya ditentukan oleh musim, tetapi juga kemampuan petani mengelola ketersediaan air dan mengendalikan OPT secara tepat. Dengan pengelolaan yang baik, musim kemarau dapat menjadi periode yang menguntungkan untuk meningkatkan produktivitas bawang merah.


Artikel Terbaru

Waspadai El Niño pada Akhir 2026, Petani Perlu Siapkan Strategi Adaptasi

Petani dan pelaku usaha pertanian perlu mulai mencermati perkembangan iklim global. Berbagai hasil pemantauan laut dan atmosfer menunjukkan peluang...

More Articles Like This