Friday, May 22, 2026

Potret Pasar Unggas

Rekomendasi
- Advertisement -

Prediksi permintaan komoditas peternakan seperti daging ayam dan puyuh pada 2021.

Pelaku industri perunggasan, terutama peternak ayam mandiri, menutup tahun 2020 dengan senyum kecut. Tersenyum karena mulai ada tanda-tanda cerah di industri perunggasan. Salah satunya, harga daging ayam hidup (lifebird) di peternak membaik dalam beberapa bulan terakhir. Namun, perbaikan harga itu tetap belum mampu menutup kerugian peternak akibat ongkos berternak yang terus naik, baik karena kenaikan harga pakan, obat-obatan maupun harga ayam usia sehari (DOC) dan ongkos tenaga kerja.

Ayam

Oleh karena itu, pada tempatnya bertanya: bagaimana prospek industri perunggasan pada 2021? Akankah industri ini masih menjadi andalan dalam perekonomian nasional? Bagaimana pula dengan ancaman daging ayam impor dari Brasil? Prospek industri perunggasan 2021 tidak bisa dilepaskan dari kondisi fundamental ekonomi. Pemerintah, juga Bank Indonesia (BI), optimistis perekonomian bakal pulih pada kuartal kedua 2021.

Pertanian positif

Menteri Keuangan Sri Mulyani yakin ekonomi tumbuh 5%, sementara proyeksi BI berkisar 4,8—5%. Namun, ada yang memproyeksikan pada 2021 ekonomi Indonesia belum bisa sepenuhnya pulih. Pergerakan ekonomi masih bergantung pada penanganan virus korona yang sampai kini belum diketahui kapan mencapai puncak. Dalam kondisi seperti itu, sejumlah bisnis, termasuk hotel, restoran, dan katering (horeka) yang selama ini banyak menyerap produk unggas, masih harus membatasi kapasitas.

Padahal, biaya operasional seperti gaji karyawan, listrik, sewa kantor, dan biaya tetap lain harus dibayar penuh. Merujuk pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2020 yang negatif 3,49%, sektor pertanian tetap tumbuh positif: 2,15%. Sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh saat sektor lain terpuruk. Perdagangan dan reparasi, konstruksi, industri pengolahan, pertambangan dan penggalian semua tumbuh minus.

Prestasi itu mengulang rekor pada triwulan kedua 2020: saat ekonomi -5,03%, pertanian tetap tumbuh 2,19%. Untuk kesekian kalinya, kala krisis atau resesi, pertanian menjadi penyelamat ekonomi bangsa. Mengapa? Pangan adalah kebutuhan primer dan esensial. Kebutuhan itu tidak bisa ditunda, saat pandemi atau normal. Bahkan, saat pandemi dianjurkan untuk menyantap makanan bergizi yang bisa mendongkrak imunitas tubuh. Ini sebagai benteng melawan virus korona.

Konsumsi daging ayam ras masyarakat Indonesia 5,68 kg per kapita per tahun. Sementara konsumsi daging ayam kampung 782 gram per kapita per tahun.

Selain itu, mengacu pada piramida Abraham Maslow, konsumen kini bahkan menggeser kebutuhan mereka dari mengejar puncak piramida, yakni aktualisasi diri dan esteem, ke dasar piramida, yakni makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga. Oleh karena itu, jika pun pada 2021 ekonomi belum sepenuhnya pulih, bisa dipastikan permintaan terhadap produk pertanian, termasuk produk unggas seperti ayam broiler dan telur (ayam buras, ras petelur, itik, itik manila dan puyuh), tetap tidak tergantikan.

Ayam kampung

Ketersediaan day old chick (DOC) atau ayam berumur sehari menyokong bisnis ayam kampung.

Yang menggembirakan, di tengah pandemi, usaha perunggasan yang semula belum masif seperti ayam broiler kini kian berkembang, seperti ternak ayam kampung dan puyuh. Catatan Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia, pandemi mendorong usaha pembibitan ayam kampung. Juga pemasaran yang inovatif: membangun outlet, gerai atau reseller secara daring. Diyakini 1—2 tahun ke depan akan berdiri usaha skala besar.

Namun, industri perunggasan, terutama daging ayam, pada 2021 masih rentan guncangan. Pertama, surplus produksi masih berlanjut. Merujuk outlook Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (2020), pada 2021 diperkirakan suplus 344.967 ton daging ayam (9,8% dari kebutuhan). Ini perkiraan sebelum pandemi virus korona.

Angka mutakhir yang dirilis saat Rembuk Perunggasan Nasional, 10 Desember 2020, surplus produksi daging ayam pada Desember 2020 diperkirakan 18,7%. Sementara surplus telur ras pada 2021 (Kementan, 2020) mencapai 119.852 ton ( 2,4%). Surplus itu hasil perencanaan produksi 1,5—2 tahun lalu. Cara cutting dipastikan tidak menghentikan atau mengurangi produksi mendadak guna menyesuaikan permintaan.

Kedua, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Akibatnya hasil produksi pertanian, termasuk unggas, tidak seluruhnya terserap pasar. Pembatasan sosial berskala besar membuat kapasitas operasi usaha hanya minimal. Padahal, mereka yang menyerap produksi petani/peternak. Akhirnya terjadi diskoneksi permintaan-penawaran. Tak hanya produk aneka sayuran, produk peternakan, baik telur maupun daging ayam, juga bernasib sama.

Harga produk peternakan konsisten menurun empat bulan berturut-turut: Juli– Oktober 2020. Anjloknya harga kedua produk subsektor pertanian itu memberi andil besar terjadinya deflasi tiga bulan beruntun: Juli– September 2020. Juga memberi andil inflasi Oktober yang rendah 0,07%. Kenaikan harga baru terjadi pada November 2020. Deflasi beruntun pertanda terjadi depresi. Itu sinyal buruk karena taruhannya kontinuitas produksi pangan/ternak.

Peternak ayam belum tersentuh anggaran pemulihan ekonomi nasional yang mencapai Rp695 triliun.

Jaminan peternak

Hasil pertanian/peternakan yang tak terserap pasar membuat petani/peternak kehabisan modal berproduksi pada musim berikutnya. Jika mereka berhenti berproduksi dan itu terjadi dalam skala luas dan masif, tentu berujung pada ancaman ketersediaan pangan bagi 273 juta warga. Jadi, dalam perang melawan penyebaran korona, bukan hanya dokter, perawat, dan tenaga medis yang berada di garis terdepan, petani juga jadi ujung tombak bangsa guna menjamin ketersediaan pangan.

Pada 2021 pemerintah masih mengalokasikan anggaran besar untuk mitigasi pandemi. Anggaran kesehatan Rp168,71 triliun dan perlindungan sosial Rp421,71 triliun. Ada baiknya, sebagian anggaran pemulihan ekonomi nasional 2021 dialokasikan untuk menolong petani/peternak. Seperti warga lain, petani/peternak perlu perlindungan dan jaminan.

Preferensi konsumen Indonesia menghendaki daging ayam segar, bukan beku.

Pada 2020 anggaran pemulihan ekonomi nasional mencapai Rp695 triliun. Namun, tak sepeser pun anggaran mengalir khusus ke petani/peternak. Ini mestinya tak terulang. Oleh karena itu, perlu segera dibuat aneka langkah guna melindungi petani/peternak. Pertama, cara cutting dan afkir dini seperti saat ini hanya menolong dalam jangka pendek. Ibarat memadamkan kebakaran, api memang padam, tapi sumber api setiap saat tetap mengancam.

Kedua, sembari menyelesaikan jangka pendek, pemerintah dan otoritas pengawas persaingan usaha mesti fokus mendesain solusi jangka panjang, menuntaskan integrasi hulu-hilir yang fokus daya saing. Itu penting sebagai bagian dari antisipasi masuknya daging ayam dari Brasil. Sampai saat ini preferensi konsumen masih membeli daging segar, bukan beku. Jika harga karkas bisa dijaga pada level kompetitif, hampir pasti sulit bagi daging ayam dari Brasil merebut pasar daging ayam di negeri ini. (Khudori, pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan)


Artikel Terbaru

Modal Besar, Untung Menarik dari Budidaya Sidat Sistem RAS

Trubus.id-Budidaya sidat dengan sistem recirculating aquaculture system (RAS) memang membutuhkan modal besar pada tahap awal. Namun, keuntungan yang diperoleh...

More Articles Like This