Memproduksi dan memasarkan 3—4 ton gula cair asal singkong per bulan. Demi gaya hidup sehat karena rendah indeks glikemik.
Gula singkong lazim menjadi konsumsi industri besar makanan atau minuman. Gula berbahan tepung tapioka itu tidak dijadikan produk untuk konsumen akhir karena sulit bersaing dengan gula tebu. Perusahaan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, CV Inovasindo Berkah Bersama (IBB) memproduksi gula singkong untuk konsumen kelas rumah tangga. Gula cair itu seluruhnya berbahan singkong. Pendiri dan direktur IBB, Dian Purwaningtyas mengandalkan tapioka dari produsen di Lampung. Gula cair produksinya mengandung 55% fruktosa dan 45% glukosa.

Dian mengikuti anjuran kesehatan yang menyatakan perlunya membatasi asupan glukosa. Menurut Dian indeks glikemik (IG) gula singkong 55, lebih rendah daripada IG gula pasir 68. Ia menunjukkan hasil uji laboratorium kandungan kalori gula singkong kurang dari separuh gula tebu. Hal itu membuat gula singkong layak untuk konsumsi penderita diabetes lantaran tidak memicu lonjakan gula darah. Melalui promosi di dunia maya, produk alumnus Jurusan Biologi Universitas Brawijaya itu memikat konsumen dari seluruh tanah air.
Meningkat
Dian mendapatkan agen yang memasarkan produknya setelah menempuh promosi itu. “Para agen adalah konsumen yang merasakan manfaat konsumsi gula singkong,” kata Dian (39). Ia membuat gula cair singkong sejak 2015. Saat itu ia berbisnis kuliner. Ia menjadi tahu bahwa banyak yang mencari kuliner sehat.
Begitu usaha kuliner itu surut, istri Iin Budianto itu memutar otak mencari peluang bisnis potensial. Ia langsung menoleh kepada gula singkong. Ia pun mempelajari peluang pasar, ketersediaan pasokan, dan proses produksi gula berbasis pati Manihot esculenta itu. Gula cair singkong kreasinya mulai meluncur pada 2015. Ia menjajakan produk buatannya melalui lokapasar (marketplace) dan para agen.

Pada akhir 2015 itu juga ia mendaftarkan merek dagang Gulakong untuk gula singkong buatannya ke Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Kehakiman. Tahun berikutnya, ia membuka keagenan sehingga agen Gulakong tersebar di kota-kota di Jawa dan luar Jawa. Setiap bulan Dian mengolah 3—4 ton tapioka menjadi 3—4 ton gula cair. “Jumlah agen terus bertambah sehingga produksi juga semakin meningkat,” tutur Dian. Hebatnya, produksi justru meningkat saat pandemi.

Pada 2020, CV IBB menyerap lima ton tapioka untuk diolah menjadi berbagai produk. Tidak hanya memproduksi gula cair singkong, Dian menambah varian gula singkong kombinasi gula lontar. Produk teranyar adalah tepung berbahan tapioka, garut, dan sorgum dengan merek Inocaf. “Selain rendah kalori, bebas gluten, singkong juga mengandung probiotik,” katanya. Dian menyodorkan hasil salah satu laboratorium pengujian pangan. Di sana tercantum, tepung singkong terfermentasi kreasinya memiliki ratusan juta bakteri asam laktat.
Peluang besar
Dian mengemas tepung dalam varian produk siap olah, yaitu tepung panekuk (pancake) dan bronis. Sasarannya adalah para pengidap autoimun atau anak berkebutuhan khusus pengidap autisme. Lini pemasaran ia perkuat dengan membuat grup aplikasi Telegram dan Whatsapp sebagai bentuk layanan purnajual. Strategi lain, berkolaborasi dengan salah satu produsen perangkat elektronik dan rumah tangga besar di Sidoarjo. Ia juga tidak gengsi membuka lapak di berbagai acara. Produk yang ia perkenalkan di lapak itu berupa turunan, misalnya teh rendah gula. “Saat korona merebak, fasilitas produksi kami justru lolos audit oleh Badan POM,” katanya.
Dian Purwaningtyas hanya memanfaatkan tapioka asal singkong varietas gajah. Menurut Dian singkong gajah menghasilkan tapioka dengan kadar fruktosa dan glukosa sesuai spesifikasi yang diinginkan. Ia membuat perjanjian kerja sama (MoU) dengan produsen tapioka berbasis singkong gajah di Lampung untuk mengamankan pasokan. “Mereka memiliki sertifikat keamanan pangan dari dua lembaga kelas dunia, yaitu ISO dan FSSC,” tutur Dian.
Produksi gula cair ia lakukan secara sulih pabrik (maklon/maclone, manufacture cloning) di salah satu fasilitas pabrik gula cair di Jawa Tengah. Setiap hari pabrik itu mengolah tapioka singkong menjadi produk turunan seperti dekstrosa. (Argohartono Arie Raharjo)
