Saturday, August 13, 2022

Asal Buitenzorg Melanglang Buana

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Nun di Belanda ada Vandimen yang pada 2002 berniat memperbanyak pride of sumatera. Untuk mendapat indukan, pemilik Kw De Amstel-De Kwakel BV itu menukar 10 tanaman koleksinya, termasuk Cochliostema jacobina-juara satu kontes tanaman hias di Floriade, Belanda, saat itu-dengan 3 pot pride of sumatera milik dr Purbo Djojokusumo yang ketika itu meraih juara ke-2.

Sayang, informasi perkembangan pride of sumatera di tangan Vandimen masih belum jelas. ‘Dia (Vandimen, red) belum memberi kabar keberhasilan memperbanyak pride of sumatera,’ kata Purbo. Besar dugaan, Vandimen masih mengetes nilai ekonomis anggota famili Araceae itu sebelum dicetak massal. Yang pasti, pride of sumatera asal Thailand sudah sampai ke negeri Kincir Angin. Itu berasal dari Thum-sapaan Satid Srimarksook-yang mengirim 1 kontainer berisi 8.600 tanaman ke Belanda pada awal 2006.

Beredar di mancanegara

Di Amerika Serikat ada Twyforth International, Asiatica Nursery, Inc, dan ForemostCo, Inc yang menyediakan pride of sumatera. Sri rejeki silangan Greg itu juga bisa ditemui di Filipina, Afrika, dan Singapura. Indonesia rainbow plant itu telah berkembang di mancanegara. Maka tak salah jika pada kontes aglaonema Greg Hambali Award di Trubus Agro Expo 2009 yang bekerja sama dengan komunitas Aglaonema Indonesia pialanya berbentuk tangan menggenggam bola dunia. ‘Artinya, tangan yang bekerja, dalam hal ini Greg, menghasilkan aglaonema asal Indonesia yang bisa melanglang buana,’ ujar Indri Greg Hambali, pencetus ide bentuk piala.

Hibrida silangan Greg yang beredar di mancanegara tak hanya pride of sumatera. Di Filipina, donnacarmen menjadi aglaonema favorit para perancang taman. Penampilan anggota famili Araceae itu menarik. Daun bercorak batik dan berwarna hijau-merah muda. Selain itu, ia paling tahan ditanam di taman dibanding hibrida aglaonema lain. Donnacarmen juga beredar di Singapura.

Silangan yang lebih baru seperti tiara da widuri pun sudah dicetak massal oleh Pairoj Tianchai di Bangkok, Thailand, sejak 2006. Pairoj diperkirakan memiliki 50.000 indukan tiara dan widuri. Pantas aglaonema silangan Greg begitu populer di negeri Siam. Bahkan pada kontes sri rejeki di Nonthaburi pada Agustus 2008 silangan Greg dilombakan dalam kelas khusus.

Bawa sendiri

Menurut Greg penyebaran aglaonema silangannya ke luar negeri melalui berbagai pintu. ‘Ada yang dikirim hobiis Indonesia dan ada yang saya bawa langsung,’ katanya. Contoh silangan yang dibawanya sendiri ialah adelia. Pada 2001 Greg mempersembahkan adelia kepada Adelia Angeles di Filipina sebagai ungkapan terima kasih. Waktu itu, 1997, Adelia membantu Greg mendapatkan A. commutatum tricolor di perbukitan Roxas di Pulau Panay, Filipina, sebagai induk persilangan.

Greg juga membawa 20 hibrida aglaonema tanpa nama ke Twyforth International, Amerika Serikat, untuk dipatenkan pada 2002. Namun, memperoleh paten tak semudah membalik telapak tangan. ‘Ada beberapa ketentuan sebelum tanaman itu dipatenkan,’ kata pria yang gemar memakai batik itu. Tanaman tak boleh beredar di pasaran lebih dari setahun. Sebelum dicetak massal, sri rejeki diteliti dulu nilai ekonomisnya. Tak heran bila Greg perlu waktu lama untuk mendapatkan kepastian tentang hibridanya di negeri Paman Sam itu.

Akhirnya setelah 5 tahun menanti, kabar gembira datang. Satu dari 20 tanaman yang dibawa meraih juara favorit tanaman hias daun di Amerika. Sri rejeki itu bernama ruby sunset. Sosoknya kompak dengan corak daun batik mirip tiara. Namun, warna hijaunya lebih dominan. Pada tahun yang sama Twyforth memberikan penghargaan berupa plakat kepada Greg atas hasil silangannya yang inovatif, yaitu JT 2000.

Kebun Raya

Lahirnya silangan-silangan Greg yang mendunia itu bermula dari perjumpaannya dengan Aglaonema rotundum asal Sumatera di Kebun Raya Bogor pada 1981, ‘Belum pernah saya melihat ada aglaonema spesies berwarna merah. Penampilan bagus dengan garis-garis jelas di daun,’ kata alumnus University of Birmingham itu. Namun, ketika itu Greg belum tertarik untuk menyilangkan. ‘Perhatian saya masih terfokus pada caladium,’ kata pemulia tanaman itu.

Baru pada 1982 saat menjadi juri kontes tanaman hias di Ancol, Jakarta Utara, pikirannya berubah ketika melihat A. commutatum tricolor koleksi Noes Sudijono. ‘Saya baru melihat commutatum yang penampilannya sangat bagus, daun bercorak seperti dadu,’ kata Greg. Sejak saat itu pria yang gemar mengendarai motor itu mulai mengumpulkan indukan rotundum dan commutatum dengan bantuan rekan-rekannya seperti Felix Fadjar Marta, Jack E. Craig, dan almarhum N Aryono.

Dari silangan rotundum dan commutatum itu lahir precusor pada 1983. Precusor kemudian disilangkan kembali dengan rotundum dan menghasilkan pride of sumatera yang melegenda. Sementara precusor yang disilangkan dengan A. brevispathum menghasilkan donnacarmen. Pride of sumatera dan donnacarmen sama-sama lahir pada 1986 dan baru beredar di pasaran pada 1987. Ketika itu indukan pride of sumatera dijual Rp3-juta/pot dan donnacarmen, Rp2-juta/3 pot.

Selang 12 tahun keluarlah adelia. Sri rejeki itu pertama kali dibeli Tati Soeroyo di Cilandak, Jakarta Selatan. Harganya cukup fantastis, US$ 14.000 atau setara Rp154-juta per pot isi satu induk dengan 5 anak. Greg berjanji kepada Soeroyo tidak menjual adelia hingga 2 tahun. ‘Dengan begitu biar si pembeli punya kesempatan untuk memperbanyak dan mengambil untung dulu,’ ujar Greg. Sistem penjualan itu juga Greg pakai ketika merilis harlequin pada 2006.

Seedling

Selain tanaman remaja dan dewasa yang sudah dilabeli nama, Greg juga pernah menjual paket seedling pada 2002 tanpa nama. Setiap paket berisi 6 tanaman seharga Rp15-juta. Total yang terjual 6-7 paket. Itu belum termasuk seedling yang dijual secara eceran. Indri juga menitipkan 51 seedling ke Purbo. Seedling yang keluar bak anak hilang karena Greg sendiri tidak melihat rupa aslinya. Maklum, seedling yang dijual masih berdaun 1-3 helai. Sedangkan sosok asli sri rejeki baru bisa dinikmati ketika berdaun 7-8 helai.

Baru 7 tahun berselang, pada 1 Maret 2009, semua silangan Greg termasuk si ‘anak hilang’ hadir berbarengan di Taman Rekreasi Bunga Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur. Sebut saja precusor yang selama ini tak pernah dilihat publik. Sosoknya mirip pride of sumatera, tapi warna dominan hijau. Ada pula paulina yang berdaun sedang dengan tulang daun berwarna merah. Ia diperkirakan berasal dari seedling yang Greg jual dalam bentuk paket pada 2002.

Sayang, tak semua seedling silangan Greg selamat tumbuh dewasa dan berkualitas: warna menarik, batang kekar, sosok kompak, dan pertumbuhan bagus. Dari 51 seedling di tempat Purbo hanya 15 yang tumbuh dengan memiliki nilai ekonomis. Contohnya dewi ratih dan widya. Casanova koleksi Suhardi Halim yang daunnya dominan merah pun hilang dari peredaran karena mati. Nasib silangan Greg memang mirip seleksi alam, ada yang punah dan ada yang melanglang buana. Toh, Greg tetap setia menyilangkan sang ratu daun. Dari Buitenzorg sang ratu pun mendunia.(Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img