Tuesday, February 27, 2024

Berhidroponik Sejak Belia

Rekomendasi
- Advertisement -

Belajar hidroponik sejak dini dengan memanfaatkan dak gedung yang semula menganggur.

Tanaman sawi, kale red russian, kangkung, dan pakcoy siap panen menghiasi rak hidroponik bertingkat berbentuk segitiga. Rak-rak hidroponik itu bukan berada di halaman rumah, tetapi di dak beton Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pembudidaya beragam sayuran itu adalah siswa-siswa SMKN 3 Bandung.

Panen sayuran siswa SMKN 3 Bandung bersama guru pembimbing, Yurita S.Pd (kedua dari kiri).

Dak beton seluas 25 meter persegi itu semula menganggur. Namun, dengan rak hidroponik area itu kini produktif. Mereka menuai sayuran daun pada umur 20—30 hari setelah pindah tanam. Para siswa membudidayakan beragam sayuran dengan metode hidroponik vertikal. Mereka memilih metode hidroponik vertikal berbentuk segitiga untuk menyiasati keterbatasan lahan. Kegiatan bertani lebih menyenangkan bagi mereka.

Salad dan jus

Para siswa sekolah itu menangani semua fase budidaya sejak penyemaian benih, pindah tanam ke rak hidroponik, mengontrol nutrisi, hingga panen. Di dak itu terdapat total 3 rak yang masing-masing terdiri atas 150 lubang tanam. Dalam sekali penanaman para siswa membudidayakan 4 jenis bibit beragam tanaman. Perinciannya dalam sebuah rak, 35 bibit kangkung, 35 bibit kale red russian, 35 bibit pakcoy, dan 45 bibit sawi.

Kepala Sekolah SMKN 3 Bandung, Dra. Euis Purnama S.Pd., M.M.

Umur panen rata-rata 20—30 hari. Satu rak terdiri atas total 150 lubang tanam menghasilkan masing-masing 3.500 gram pakcoy, kale red russian, dan kangkung, serta 4.500 gram sawi. Setelah memetik sayuran itu para siswa tidak langsung menjualnya. Mereka menyeleksi sayuran berkualitas bagus antara lain berdaun segar. Kemudian mengemas sayuran berbobot 100 gram—termasuk perakarannya. Mereka memang tidak membuang akar untuk mempertahankan kesegaran sayuran.

Mereka menjual sayuran segar ke lingkungan sekolah dengan harga Rp5.000 per 200 gram. Selain itu mereka juga membuat jus dan salad berbahan baku sayuran hidroponik hasil panen di dak sekolah. Produk salad dan olahan jus dipasarkan di internal sekolah maupun eksternal. Mereka membuat jus berbahan baku sayuran, ditambah sedikit nanas, air, dan gula. Sayuran yang diolah menjadi jus sayur memiliki cita rasa berbeda. Rasa sayuran yang kurang nikmat jika dimakan mentah, menjadi sangat menyegarkan dalam bentuk jus.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana SMKN 3 Bandung, Drs., Edeng Efendi, memegang olahan jus sawi yang dibuat oleh tim Pelajar Pencinta Lingkungan (Pepeling).

Pada perayaan Hari Bumi 22 April 2018, misalnya, 170 botol olahan jus sayuran langsung habis dalam setengah jam. Hasil penjualan digunakan sebagian untuk biaya pemeliharaan kebun. Sebagian disimpan untuk dana kegiatan siswa-siswi yang terlibat. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana SMKN 3 Bandung, Drs. Edeng Efendi, “Olahan jus sawi yang dibuat oleh tim Pelajar Pencinta Lingkungan (Pepeling), rasanya sangat enak dan harganya murah. Harga per botol 250 ml Rp10.000. Adapun jika membawa botol sendiri Rp7.000 dengan volume sama.

Pemerintah melalui sekolah dari semua jenjang, memulai program pemeliharaan lingkungan melalui program pertanian perkotaan dan adiwiyata. Khusus jenjang sekolah menengah tingkat atas, umum, dan kejuruan program itu disandingkan dengan mata pelajaran kewirausahaan. Praktik hidroponik juga mengajarkan warga sekolah untuk belajar menjadi wirausahawan.

Belajar wira usaha

Pembelajaran dalam memanfaatkan lingkungan marginal menjadi sesuatu yang membawa hasil nyata. Kepala Sekolah SMKN 3 Bandung, Dra. Euis Purnama S.Pd., M.M., sangat mendukung kegiatan warga sekolah dalam pemeliharaan lingkungan. Apalagi ketika dipadupadankan dengan pembelajaran kewirausahaan sehingga membuat warga sekolah menjadi tangguh di berbagai bidang termasuk pertanian, walaupun konsentrasi sekolah bukan pertanian.

SMA Negeri 10 Bandung juga mengoptimalkan dan memanfaatkan lahan sempit. Berbeda dengan sekolah lain yang hanya menanam sayuran daun, siswa SMAN 10 Bandung menanam sayuran buah dan buah seperti cabai, tomat, dan melon. Hal itu menambah khazanah pengetahuan pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan yang tepat guna. Semangat tim pencinta lingkungan makin bertambah ketika hasil jerih payah mereka menanam menjadi kebahagiaan bagi banyak teman dan gurunya.

Kepala Sekolah SMAN 10 Bandung, Ade Suryaman S.Pd., M.M.

Memanfaatkan sistem hidroponik dutch bucket, sebagai media tanam yang efektif untuk tanaman buah. Menurut Kepala Sekolah SMAN 10 Bandung, Ade Suryaman S.Pd., M.M., “Penerapan konsep pertanian perkotaan di SMAN 10 Bandung berlangsung sistematis dari setiap jenjang kelas,” kata Ade.

Ia mencontohkan siswa kelas X mempelajari hidroponik dan siswa kelas XI mempelajari perikanan. Hal ini diperlukan untuk pembentukan karakter siswa agar giat berusaha di kehidupannya. “Mulai dari tanam hingga penjualan, semua dipelajari bersama,” kata Ade. Tentu masih banyak kendala yang dihadapi dalam pengenalan dan pembelajaran kegiatan bertani di sekolah.

Di banyak tempat, kegiatan pertanian perkotaan hanya untuk mengejar predikat sekolah hijau atau adiwiyata belaka. Namun, tidak memahami bagaimana pentingnya proses dan hasil akhir kegiatan. Ketika pembelajaran kewirausahaan di berbagai sekolah hanya melulu berjualan makanan ringan, maka di sekolah seperti SMKN 3 dan SMAN 10 Bandung, kegiatan itu mengutamakan proses yang berkesinambungan. (Charlie Tjendapati, Praktikus Pertanian Perkotaan, Organik dan Hidroponik)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Konsumsi Jamur dari Hasil Budidaya Organik

Trubus.id— Prinsip dasar pertanian atau budidaya jamur organik memang meminimalkan penggunaan bahan dari luar lingkungan seperti penambahan zat tumbuh...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img