Friday, January 16, 2026

Dosen UGM Teliti Sumber Mikroprotein dari Jamur Benang

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Rachma Wikandari ,S.T.P, M.Biotech., Ph.D., mengembangkan  sumber mikoprotein dari jamur Rhizopus oligosporus atau sering dikenal dengan nama jamur benang.

Protein dari jamur benang itu terbilang baru. Ia menuturkan, jamur benang bukan sayuran sehingga tidak termasuk plant-based food. Pangan yang dikembangkan itu merupakan jenis sumber protein yang baru. Wikandari menjelaskan mikoprotein dari jamu benang  mengandung tinggi serat dan protein serta rendah lemak.

“Produk mikoprotein dari jamur benang memiliki kandungan protein yang setara dengan telur dan susu. Bahkan  terbukti mengandung semua asam amino esensial yang diperlukan tubuh meskipun jumlahnya lebih rendah daripada sumber protein hewani,” dilansir dari laman UGM.

Menurut Wikandari inovasi mikroprotein itu bisa menekan biaya produksi. Lantaran memiliki kandungan asam amino lengkap dan mudah untuk ditumbuhkan di berbagai substrat. Ia memilih sumber mikoprotein dari jamur benang sebagai alternatif non hewani dan nabati.  

“Saya memilih jenis jamur lokal Indonesia, jamur ini biasanya digunakan dalam pembuatan tempe sehingga terbukti aman dikonsumsi,” katanya.

Ia menuturkan jamur benang berpotensi sebagai mikoprotein untuk pengembangan produk daging tiruan. Menurut Wikandari meski pengembangan produk vegan itu pada tahap pengembangan, tetapi sudah menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan.

Wikandari memulai riset produk vegan itu sejak 2020 dan sudah dipublikasikan baik pada jurnal maupun seminar internasional. Ia pun berhasil mengajak kolaborasi riset dan publikasi internasional seperti  dengan University of Boras, Swedia, Universidade de Minho, Portugal dan York University, Inggris.

Ia juga meraih penghargaan kategori young scientist dari International Union of Food Science and Technology—organisasi profesi ahli teknologi pangan dunia— yang memiliki sekitar 300.000 ilmuwan, pada 2022.

“Baru-baru ini, saya mendapatkan penghargaan dari perhimpunan ahli teknologi pangan Indonesia (PATPI) di tahun 2023 dan saat ini saya mempunyai kerja sama riset dan publikasi dengan Swedia, Inggris dan Portugal. Saat ini saya menerbitkan 46 artikel di jurnal internasional yang terindeks scopus,” katanya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img