Monday, November 28, 2022

Heboh Kedelai

Rekomendasi

Kelangkaan itu tidak hanya terjadi di Medan, Jakarta dan seputarnya, tapi di seluruh Nusantara. Tempe dan tahu adalah makanan bangsa Indonesia. Satu di antara 100 orang di negeri ini mengandalkan hidupnya pada tahu dan tempe. Kalau ditambah dengan pengusaha susu kedelai, kecap, dan macam-macam makanan lain yang berbahan baku kedelai, jumlahnya sekitar 3,2-juta orang. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman, Thomas Dharmawan, sudah memperingatkan hal itu pada awal tahun.

Bayangkan, 3,2-juta orang jadi penganggur gara-gara harga kedelai naik dua kali lipat? Itu tidak boleh terjadi. Sebagian besar pengusaha tahu dan tempe berskala kecil. Untuk memproduksi 100 kg tempe, diperlukan biaya Rp1,2-juta. Sedangkan omzet penjualan tahu dan tempe dalam sehari berkisar Rp200.000 setiap pedagang dengan jualan sekitar 10 kg. Kalau harga bahan bakunya berlipat, mereka terpukul telak. Bisnis tutup.

Abad ke-18

Pemerintah segera menurunkan bea impor kedelai, dari 5% menjadi 0%. Sayangnya kebijakan itu justru memicu kontroversi, karena tidak mendatangkan efek apa pun terhadap harga maupun ketersediaan barang. Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai pemerintah sama sekali tidak memberikan insentif dan stimulasi pada petani untuk menanam kedelai. Sudah jelas, lebih penting meningkatkan produksi dalam negeri.

Konsumsi kedelai Indonesia 1,9-juta ton per tahun. Hasil panen dalam negeri hanya mencapai sepertiga kebutuhan. Sekitar 1,3-juta ton harus diimpor. Kita sudah lama tahu hal itu. Yang tidak dicermati adalah rendahnya realisasi tanam. Total lahan untuk kedelai ditargetkan 740.000 ha. Hingga September 2007, realisasi penanaman kedelai baru mencapai 362.390 ha. Pantas saja pasokan berkurang, dan harga kedelai melonjak di mana-mana. Di Ponorogo, Jawa Timur, harga kedelai di tingkat petani meningkat tiga kali lipat. Dari Rp3.500 menjadi Rp10.000 per kg.

Sejumlah pengusaha tahu dan tempe terpaksa mencampurkan singkong untuk menekan biaya produksi. Dari Sabang di Pulau We, sampai Mataram di Pulau Lombok, ukuran tempe menjadi kecil-kecil. Bahkan di Ambon pun harga berlipat, dan suasana prihatin merata. Televisi menayangkan para pembuat tempe mengemasi peralatan karena usahanya terpaksa tutup. Sungguh tidak terbayangkan, bagaimana bangsa Indonesia bisa hidup tanpa tahu dan tempe? Para penyair pun mempertanyakan apakah rakyat jelata disarankan cukup makan nasi dengan garam dan cabai?

Kedelai sudah dibudidayakan sejak 1.500 tahun SM di Tiongkok. Diduga kedelai masuk ke Indonesia bersama datangnya para pedagang China yang membawa kecap ke Sriwijaya. Namun, ada catatan budidaya kedelai mulai dilakukan di Pulau Jawa pada 1750-an. Beberapa lahan yang tingginya kurang dari 500 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan kurang dari 2.000 mm dan 6 bulan kering dalam setahun, cocok untuk bertani kedelai. Kedelai paling baik ditanam di ladang dan pesawahan antara musim kemarau dan musim hujan.

Varietas lokal

Ada kedelai yang berwarna putih dan hitam. Baik kulit luar buah polong maupun batang mempunyai bulu-bulu kasar berwarna cokelat. Oleh karena itu di Jawa Barat kedelai juga disebut kacang bulu. Orang Minangkabau menamakannya kacang rimang. Di Jawa sebutannya macam-macam. Bisa dangsul, dele, atau dekeman. Bahasa Inggrisnya soybean. Sudah lama ia menjadi komoditas perdagangan dunia. Bahkan ia diperlakukan seperti jual-beli saham. Kedelai adalah komoditas paling populer dalam dunia future trading. Para investor bisa membeli dan menjual berton-ton kedelai tanpa harus melihat barangnya.

Bagi rakyat jelata, yang penting tersedianya tahu dan tempe. Sejak 1970-an, tempe dan tahu dikampanyekan sebagai makanan sehat. Namun, sejak itu pula harga kedelai terus membubung. Seorang perempuan mengatakan membuat tahu sejak harga kedelai Rp26 per kilogram pada 1972. Jadi dalam waktu kurang dari 40 tahun, harganya sudah naik 400 kali lipat. Memang pernah harga kedelai relatif stabil. Misalnya antara 1989-1997, Badan Urusan Logistik (Bulog) mematok harga kedelai Rp970 per kilogram.

Setelah krisis moneter, harganya dinaikkan menjadi Rp1.052 pada 20 Agustus 1997. Selanjutnya terus meningkat menjadi Rp1.120 per kilogram dan seterusnya. Kelihatannya secara sistematis memang begitu. Pada awal 2006, harga satu kuintal kedelai Rp250.000. Dalam tempo 2 tahun naik 4 kali lipat. Apakah hal itu terkait bahwa tempe betul-betul makanan sehat? Bank Indonesia mencatat bahwa kenaikan impor kedelai melonjak sejak 1989.

Duapuluh tahun lalu, impor kedelai Indonesia hanya berkisar 300.000 ton setahun. Sedangkan sekarang: 1,3-juta ton, yang bila ditambah dengan bungkil kedelai mencapai 2,2-juta ton, dari Brazil, Argentina, dan Amerika Serikat. Selain itu, harga kedelai dunia juga sangat berfluktuasi kalau tidak cenderung membubung. Bursa perdagangan komoditas sepanjang 2007 didominasi oleh kedelai yang memberi keuntungan sampai 33%.

Harga kedelai pada 14 Januari 2008 mencapai rekor paling tinggi dalam 34 tahun terakhir, yaitu US$12.96 per bushsel (takaran karung berisi sekitar 35 liter). Rekor tertinggi sebelumnya terjadi pada 5 Juni 1973, ketika harga tiap bushsel mencapai US$12.90. Pertanyaannya sekarang, bagaimana bangsa Indonesia dapat mencukupi kebutuhan kedelai yang sudah mendarah-daging. Ada dua sebab yang perlu diatasi berkaitan dengan kualitas dan kuantitas kedelai lokal.

Pertama, dari sekitar 60 varietas kedelai lokal, belum ditemukan jenis yang menghasilkan panen lebih dari 4 ton per ha. Produksi rata-rata ladang kedelai kita baru mencapai 1,5 ton per ha. Ini kurang menarik dari sisi penghasilan. Harga kedelai dunia berkisar antara US$350-US$365 per ton. Artinya, penghasilan tiap musim hanya US$500 atau Rp4.500.000 per ha. Itu jauh dari mencukupi. Seandainya setahun 4 kali panen, total hasilnya tidak sampai Rp20-juta. Bandingkan dengan omzet pekebun singkong, minimal Rp35-juta; hortikultura, mencapai Rp100-juta.

Masalah kedua, dari sisi kualitas, kandungan protein kedelai Indonesia maksimal 42%. Padahal, kedelai dari Taiwan dan Jepang lebih dari 46%. Jadi, meski umumnya kedelai kampung kita menang dalam hal rasa (lebih gurih, misalnya), dari sisi nutrisi masih memerlukan perbaikan. Perlu diingat bahwa kedelai terkenal rendah lemak, tinggi kalorinya. Ia bukan hanya tanaman pangan, tapi juga tanaman obat. Terutama bagi para penderita gangguan ginjal, rematik, dan diabetes mellitus.

Kedelai rekayasa

Riset kedelai nasional sudah diadakan lebih dari 30 tahun untuk memperbaiki kualitas dan kuantitasnya. Sebagian penelitian baru diarahkan untuk menemukan varietas yang cocok dengan lahan, tahan terhadap hama, dan mampu tumbuh di daerah yang tinggi keasamannya. Misalnya untuk dikembangkan di lahan pasang surut, atau di daerah dengan pH 3-5. Dengan teknik radiasi, produktivitas kedelai dapat ditingkatkan, mulai dari 2 ton per hektar pada 20 tahun yang lalu, hingga mencapai 3,5 ton.

Indonesia memang salah satu konsumen kedelai terbesar di dunia. Dengan konsumsi 2-juta ton per tahun, sebetulnya masih kecil bila dibandingkan dengan konsumsi dunia yang mencapai 440-juta ton. Tahu dan tempe merupakan salah satu pemanfaatan kedelai yang relatif kecil. Pemanfaatan terbesar adalah untuk minyak biji-bijian dan susu kedelai. Dalam hal ini, Amerika Serikat merupakan eksportir terbesar.

Bagi Amerika Serikat, kedelai merupakan masalah penting dalam hal penelitian bahan pangan dan masalah diplomasi. Ada urusan khusus antara Amerika dan Tiongkok dalam hal kedelai. Bahkan majalah khusus tentang kedelai juga ada. Namanya Soytalk, dari Universitas Iowa. Heboh kedelai mulai melanda dunia sejak sepuluh tahun lalu, ketika dikhawatirkan muncul alergi gata-gatal akibat mengkonsumsi kedelai rekayasa.

Pemimpin Redaksi Trubus, waktu itu Slamet Suseno (alm) menjelaskan bahwa sejak 1980-an telah diintroduksi puluhan macam tanaman transgenik, termasuk kedelai, tomat, kapas, dan jagung. Rekayasa kedelai diperlukan untuk menghadapi berbagai jenis gulma yang bisa membunuh tanaman. Namun, dengan disusupkannya gen bakteri pada inti sel kedelai, dikhawatirkan menghasilkan protein yang belum tentu aman bagi manusia. Ketika masyarakat Uni Eropa menolak kedelai impor dari Amerika Serikat, rakyat Indonesia jadi heboh.

Kalau kedelai Amerika Serikat ditolak di negara-negara maju seperti Eropa, biasanya dilempar ke negara-negara yang miskin dan masih lemah perundang-undangannya dalam menangkal tanaman transgenik. Indonesia, tentulah menjadi daerah tujuan ekspornya. Ditambah lagi dengan kebencian petani terhadap tanaman transgenik, yang benihnya dipatenkan sehingga tidak dapat leluasa dikembangkan, pantaslah masyarakat kita menjadi heboh.

Namun, heboh pada 1999 itu berbeda dengan heboh 2008. Sekarang bukan masalah racun atau kandungan kimia yang mungkin disusupkan ke dalam kedelai yang kita konsumsi sebagai tahu dan tempe. Heboh saat ini lebih pada masalah harga. Rakyat jelata yang merasa lahir dan dibesarkan oleh tahu dan tempe, tiba-tiba tidak mampu, seolah-olah tidak boleh lagi menikmatinya.

Semoga pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dapat mewujudkan rencananya memperbesar sentra-sentra kedelai di lahan-lahan terbuka di Nusa Tenggara Barat. Ibu-ibu dan para aktivis kemanusiaan cemas, kalau untuk makan tahu dan tempe yang terkenal murah, tapi bergizi tinggi saja tidak mampu, bagaimana nanti kondisi kesehatan dan ekonomi rakyat Indonesia? Kebanggaan menjadi ‘Bangsa Tempe’ yang muncul sejak 1977, menjadi goyah dalam tempo tiga dasawarsa. Kita harapkan heboh kedelai mendatangkan perubahan yang lebih baik. ***

(Eka Budianta, budayawan, kolumnis Trubus, konsultan Jababeka Botanic Gardens, di Cikarang, Jawa Barat)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Bisa Jadi Pilihan Petani, Ini Kelebihan Varietas Cabai Jacko 99

Trubus.id — Pilihan varietas cabai menjadi salah satu penentu hasil panen yang akan didapatkan. Oleh karena itu, petani harus...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img