Jernang gading amat genjah karena berbuah perdana pada umur 2,5 tahun. Rendemen resin tinggi 6—7% sehingga layak menjadi unggulan.

Trubus — Kulit pelepah jernang Daemonorops draco yang kekuningan menyebabkan masyarakat menyebutnya jernang gading. Pria 33 tahun itu menanam 10.000 bibit jernang gading di lahan 1 hektare miliknya di Kabupaten Bireuen, Aceh, pada pertengahan 2014.
Dua tahun kemudian, tersisa hanya 800 tanaman. Tanaman yang tersisa itu justru mulai berbuah. Biasanya jernang di kebun berbuah pada umur empat tahun. Sementara di hutan lebih lama lagi. Sebagian tanaman lain menyusul berbuah setahun kemudian (umur 3,5 tahun). Pada tahun berikutnya semua tanaman di lahan Jamaluddin berbuah.
Enam bulan

Menurut ketua Asosiasi Jernang Indonesia, Syaifuddin, tanaman jernang budidaya yang terawat bisa berproduksi lebih cepat lantaran tercukupinya kebutuhan hara, terjaganya kondisi mikroklimat, dan minimnya gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Syaratnya, pekebun rutin memupuk dan memangkas pohon peneduh. Jamal—panggilan Jamaluddin—menanam jernang berjarak 3 m x 3 m menggunakan pohon lamtoro sebagai tegakan.
Ia memberikan pupuk kandang setiap enam bulan dan pupuk organik cair tiga bulan sekali. Jamal membumbun pupuk kandang di pangkal batang sebanyak 2 kg per tanaman. Adapun pupuk organik cair terfermentasi dikocorkan ke pangkal batang dan disemprotkan ke tajuk. Pemangkasan tidak rutin. Jika ke kebun menemukan cabang tua, ia langsung memotongnya. Namun, setiap hari ia menengok kebun sehingga selalu ada cabang yang dipangkas. Sejak 2018, tanaman di kebunnya mulai bertunas anakan. Ia lantas memisahkan tunas untuk memperluas penanaman.
Kelebihan bibit dari anakan adalah jenis kelaminnya diketahui sejak awal. Hanya tanaman betina yang berbuah. Namun, tanaman jantan pun harus ada untuk menyerbuki bunga betina agar terbentuk buah. Jika menanam terlalu banyak tanaman jantan, pekebun tidak akan memanen buah. Jumlah tanaman jantan cukup 2—5% populasi atau satu tanaman jantan untuk 19—49 tanaman betina.

Menurut Jamaluddin buah yang membawa biji betina biasanya berada di bagian tengah tandan sehingga biji dari bagian itu cocok untuk bibit. Dengan cara itu, persentase kemunculan tanaman jantan maksimal 5%. Penanaman semua biji dalam tandan menyebabkan persentase kemunculan tanaman jantan bisa 50%. Agar matang sempurna, ia membiarkan buah hingga tiga tahun di tanaman. Namun, pemananen buah untuk diambil resinnya cukup berumur 6 bulan. “Lebih dari itu kandungan resinnya makin berkurang sehingga lebih baik untuk bibit,” kata Jamaluddin.
Saat terbaik memanen adalah sebelum biji mengeras. Saat itu rendemen resin tertinggi, 6—7%. Jika mengolah 100 kg buah jernang, Jamal bakal memperoleh minimal 6 kg resin. Bandingkan dengan jenis lain, rendemen pengolahan hanya 0,6—1%. Menurut Jamaluddin, jernang memerlukan ketinggian minimal 200 m di atas permukaan laut (dpl). Jika menanam di dataran rendah, kebun harus benar-benar teduh. Kalau tidak, “Pohon tetap berbuah tapi banyak yang rontok,” ujarnya.
Super

Jamal menanam jernang gading secara monokultur dan tumpang sari. Ia menumpangsarikan jernang dengan kopi atau pinang. Di kebun kopi, ia menyandarkan jernang di pohon lamtoro yang menaungi kopi. Kalau menanam di antara pinang, jernang menggunakan pohon pinang itu sebagai penopang. “Ketika tinggi batang mulai sulit dijangkau, kita tinggal tarik ujungnya agar turun lagi,” kata Jamal. Penanaman secara tumpang sari itu mengefektifkan pupuk dan mengefisienkan biaya pemupukan.
Perawatan, terutama pemupukan, juga memengaruhi rendemen resin. Menurut periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH), Kota Bogor, Jawa Barat, Ir. Totok Kartono Waluyo, M.Si. menyatakan semua jernang mengandung resin tapi kadarnya berbeda-beda. Jenis yang rendemennya tinggi biasa dijuluki jernang super. “Tiap daerah memiliki jernang lokal super. Di Aceh ada jernang gading, Jambi jernang pulut atau rambai, sedangkan Kalimantan Barat jernang beruang,” katanya.
Itu sebabnya Syaifuddin menyarankan pekebun menanam jernang dari daerah sekitar mereka. “Dengan perawatan optimal, tanaman lebih cepat berproduksi dan rendemen resin dalam buahnya pun optimal,” katanya. Namun, kalau sulit memperoleh jernang lokal, jernang gading asal Bireuen layak menjadi pilihan. Jamaluddin sudah membuktikannya. (Argohartono Arie Raharjo)
