Thursday, August 18, 2022

Kiat Awetkan Hasil Panen

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Aneka sayuran berumur pendek di halaman depan. (Dok. Hesti Haya Hakim)

Awetkan hasil panen melimpah dengan pengeringan, fermentasi, dan kitosan.

Hesti Haya Hakim berkebun sejak tahun 2015 di Kabupaten Luwu Timur. (Dok. Hesti Haya Hakim)

Trubus — Hesti Haya Hakim tekun merawat tanaman yang tumbuh di kebun rumahnya. Warga Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu menanam beragam sayuran, tanaman buah, dan tanaman obat. Bayam, kangkung, kenikir, dan sawi paling cepat panen yakni sekitar sebulan pascatanam, bahkan kurang. Tanaman lain, moringa, pepaya jepang, jagung, kacang panjang, dan kacang kara.

Ia memetik daun dan polong sepanjang tahun tanpa kenal musim. Menurut Hesti, “Setiap hari bisa panen tomat dan cabai.” Kebutuhan sayur harian seperti moringa, pepaya jepang, dan kenikir tercukupi dari kebun tanpa harus belanja. Bahkan, ia juga memanfaatkan daun labu dan ubi jalar sebagai sayur sambil menunggu waktu panen buah dan umbi.

Pengeringan

Pada saat pandemi korona, Hesti tidak pusing memperoleh beragam sayuran. Kebutuhan beragam sayuran bagi perempuan kelahiran Wasuponda, Luwu Timur 24 April 1976 itu tetap tercukupi dari halaman rumah seluas 70 m². Bahkan, tak jarang hasil panennya berlebihan untuk dikonsumsi ia sekeluarga. Jagung, mentimun, dan labu kerap melimpah sehingga ia membaginya kepada tetangga, rekan, bahkan pedagang sayur.

Alternatif lain, Hesti mengeringkan hasil kebun yang berlebihan dengan menjemur. Ia biasa menjemur di bawah sinar matahari pukul 07.00—10.00 dan 15.00—17.00. Jika ingin lebih cepat, ia memakai oven bersuhu kurang dari 60ºC. Hasil kebun yang ia keringkan antara lain bunga rosela, daun moringa, rimpang temulawak, dan cabai keriting.

Secara umum ada dua cara sederhana untuk mengawetkan hasil kebun yakni dengan pengeringan dan fermentasi. Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen), Ir. Siti Mariana Widayanti, M.S. menuturkan, penanganan pascapanen sangat bergantung komoditas. Ia mencontohkan jagung—manis atau biasa—memiliki tingkat respirasi tinggi.

Respirasi menyebabkan susut bobot sebab terjadi pembakaran gula atau zat lain. Terlebih jagung manis akan berkurang tingkat kemanisannya lantaran metabolisme berlangsung cepat. Widayanti menyarankan untuk menyimpan pada suhu rendah agar tetap segar dan manis. “Kalau jagungnya sudah dipipil dan dikeringkan akan aman,” kata Widayanti.

Cara mengolah hasil kebun berlebih dengan
fermentasi menjadi kimchi. (Dok. Hesti Haya Hakim)

Kendati BB-Pascapanen belum mengaji umur simpan, Widayanti mengamati banyaknya produk jagung pipil beku dan kering yang bisa tahan dalam hitungan bulan. Cara lain mengeringkan hasil panen agar tetap higienis dengan menggunakan kubah pengering bertenaga surya atau solar dryer dome (SDD). Kubah rakitan PT Impack Pratama Industri tbk itu memanfaatkan tenaga surya sehingga tidak perlu bahan bakar dan lebih ramah lingkungan.

Hasil pengeringan tetap higienis lantaran terlindungi dari kontaminasi debu dan mikrob. Proses pengeringannya cenderung lebih cepat dibandingkan dengan penjemuran konvensional. Suhu di dalam kubah dua kali lipat suhu lingkungan. Meski demikian, Kepala Unit Polikarbonat PT Impack Pratama Industri tbk, Sugiarto Romeli, mengatakan suhu harian setiap lokasi berbeda sehingga tidak ada patokan suhu tetap.

Kubah pengering surya dapat mengeringkan aneka hasil pertanian mulai dari sayuran, buah, biji-bijian, rumput laut, bahkan ikan. Bahan kering dapat dikonsumsi dengan beragam cara. antara lain menyeduhnya. Hesti merekomendasikan sayur kering sebagai campuran minuman kekinian berbahan baku sayur, buah, dan susu atau yoghurt—smoothie.

Kitosan

Hesti menyiasati pengawetan hasil panen berlebih dengan fermentasi. Perempuan yang berkebun sejak 2015 itu membuat asinan sayur tradisional Korea—kimchi. Bahannya berasal dari kebun sendiri yakni sawi putih, lobak, wortel, daun bawang, dan daun kucai. Salah satu bumbunya, bubuk cabai merah, ia buat sendiri dengan mengeringkan cabai merah di kebun.

Bunga telang kering dapat disimpan lama selama wadah tertutup rapat. (Dok. Hesti Haya Hakim)

Bila menghendaki pengawetan bahan segar tanpa mengolahnya, coba lapisi dengan kitosan—turunan zat kitin dari hewan bercangkang seperti udang dan kepiting. Riset Syahri dan Renny Utami Somantri dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan membuktikan penggunaan kitosan menjaga cabai tetap segar hingga 12 hari penyimpanan.

Penyebab kerusakan cabai antara lain proses respirasi yang tetap berlangsung pascapanen. Kandungan airnya pun tinggi mencapai 90%. Kehadiran cendawan antraknosa yakni Collectotrichum capsici turut menurunkan mutu cabai saat penyimpanan. Pencelupan kitosan 1% membunuh cendawan dan bakteri sehingga dapat menekan laju kerusakan cabai.

PT Berkah Inovasi Kreatif Indonesia (BIKI) di Bogor, Jawa Barat, memformulasikan pelapis sayuran dan buah berbahan dasar kitosan 1% berlabel Chitasil. Sayuran yang dapat diawetkan dengan Chitasil antara lain bayam, sawi, bunga kol, brokoli, kentang, dan wortel. Adapun buah seperti pisang, mangga, avokad, dan salak. Cukup semprot atau celupkan bahan dalam Chitasil, maka sayuran dan buah segar lebih lama. (Sinta Herian Pawestri)

Previous articleBahan Alam Atasi Hama
Next articleJurus Panen Tak Putus
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img