Beragam bahan alam untuk mengendalikan pengganggu tanaman.

Trubus — Sita Pujianto rutin memanen beragam sayuran, buah, dan rempah di rumah. “Lahan” seluas 12 m2 berupa dak persis di atas garasi menjadi lokasi budidaya beragam tanaman. Di kedua tempat itu, Sita menanam beragam tanaman, di antaranya selada Lactuca sativa, sawi hijau Brassica juncea, kelor Moringa oleifera, temukunci Boesenbergia rotunda, cabai jawa Piper retrofractum, buah murbei Morus alba, buah tin Ficus carica, dan berabagai jenis bunga yang dapat dikonsumsi.
“Kalau beli sayur organik di pasaran harganya jauh lebih mahal, jadi coba tanam sendiri,” kata warga Jakarta Selatan itu. Ibu dua anak itu rutin menanam aneka komoditas sejak 2013. Kini perempuan 42 tahun itu menerapkan budidaya tanaman secara organik. Sita tidak memberikan zat kimia sintetis pada kebunnya. Kadang-kadang tanamannya terserang hama dan penyakit. “Hama pasti ada, karena itu bagian dari sebuah ekosistem,” kata Sita.

Bumbu dapur
Sita pernah mendapati seluruh sayuran miliknya habis dimakan tikus. Perempuan kelahiran Agustus 1978 itu mengatasinya dengan rutin membersihkan kebun dan memasang pagar kawat nyamuk di sekeliling area penanaman. Menurut Sita salah satu pencegahan hama dan penyakit dengan menanam beragam jenis tanaman.
“Tanaman bunga juga perlu ditanam agar mengundang serangga penyerbuk yang bisa menjadi predator hama,” kata dosen Universitas Bina Nusantara itu. Sesekali ulat menggerogoti buah jeruk nipis. Sita mengatasinya dengan menyemprotkan ekoenzim ketika ulat menyerang. Ekoenzim adalah cairan yang berasal dari limbah sayur dan buah yang difermentasi selama 3 bulan.
Pegiat komunitas Jakarta Berkebun, Indri Seska, juga menerapkan hal yang serupa. Ia “berkebun” di atas atap rumah seluas 60 m2. Di sana ia menanam berbagai sayuran seperti bunga turi, asparagus, selada, dan bawang daun. Selama 9 tahun berkebun di rumah, Indri kerap menghadapi hama kutu daun. Serangga anggota famili Aphididae itu paling sering mengganggu.

Alumnus Magister Manajemen Universitas Indonesia itu meracik campuran cabai, bawang putih, dan daun pahitan Tithonia rotundifolia. Indri menggunakan perbandingan 5 siung bawang putih, 5 cabai pedas, dan daun pahitan secukupnya untuk 1 liter air. Ia memblender semua bahan dengan air lalu mengendapkan semalam.
Keesokan hari ia menyaring hasil endapan dan menyemprotkan pada tanaman yang terserang. Biasanya dalam 3—4 kali penyemprotan kutu daun sirna. Sejatinya Indri menggunakan ramuan itu untuk berbagai serangan hama. Selain itu, Indri juga menggunakan tanaman-tanaman beraroma seperti serai Cymbopogon citratus untuk mengendalikan hama. Bunga-bungaan yang berwarna mencolok seperti kenikir Cosmos caudatus dan magnolia bermanfaat sebagai refugia—mengusir hama.
Terbukti ilmiah
Periset dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Mohammad Yunus dan rekan, menunjukkan efektivitas ekstrak cabai Capsicum annuum dan umbi bawang putih Allium sativum terhadap hama ulat bawang Spodoptera exigua. Hasilnya kedua bahan itu dapat meningkatkan angka mortalitas larva 83—96% pada hari ke-4 setelah penyemprotan. Menurut mereka membran sel hama yang terkena cairan cabai akan mengering dan rusak.

Serupa halnya dengan senyawa alisin pada bawang putih. Aromanya yang menyengat berperan sebagai repelen bagi hama yang ingin mendekat. Penyemprpotan campuran bawang putih dan cabai juga terbukti ampuh menghalau serangan keong emas. Hal itu dibuktikan oleh riset Alfian Rusdy dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Penyemprpotan pestisida nabati itu mengakibatkan daya makan Pomacea canaliculata itu terhambat dan mempercepat waktu mortalitas. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol).
