Sampah Dapur Sumber Pupuk

Rekomendasi
- Advertisement -

Sampah dapur berhara tinggi dan ramah lingkungan.

Dena Murdayanti M.Sc., berkebun sayuran di samping rumah sejak Januari 2020. (Dok. Dena Murdayanti)

Trubus — Semula Dena Murdayanti, M.Sc., membuang semua sampah dapur ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, sejak Februari 2020 Dena memisahkan antara sampah organik dan nonorganik di wadah berbeda. Warga Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam, itu tetap membuang sampah dapur nonorganik ke TPA. Sementara sampah dapur organik seperti nasi basi, kulit buah, tangkai sayuran, dan kulit bawang ditimbun di samping rumah.

“Sekarang saya melihat sampah itu sebagai barang berharga,” kata alumnus Jurusan Teknologi Pangan, Mae Fah Luang University, Thailand, itu. Alasannya Dena mengolah sampah organik itu menjadi pupuk organik. Ia mencacah sampah organik itu agar lebih cepat terurai secara alami. Lalu Dena Murdayanti mengumpulkan sampah organik di bak semen berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm.

Sumber hara

Frekuensi pengumpulan sampah 3 kali sepekan, tergantung jumlah sampah. Semula tempat itu sebagai pot tanaman. Akhirnya ia memanfaatkan wadah itu sebagai tempat pengolahan sampah organik karena belum digunakan. Ia mengandalkan wadah yang siap pakai. Dena membolak-balik sampah organik setiap pekan menggunakan cangkul. Tujuannya supaya aerasi lancar sehingga pengomposan efektif.

Ia memanen pupuk organik sebulan setelah meletakkan sampah di bak semen. Kemudian Dena mencampurkan 60% sampah organik dengan 40% kotoran hewan sehingga membentuk kompos siap pakai. Ia mengandalkan kompos bikinan sendiri itu sebagai sumber hara untuk kebun sayuran di rumah. Semula Dena membeli semua media tanam. “Pupuk organik dari sampah dapur itu untuk menambahkan media tanam yang sudah ada. Jadi, tidak semuanya membeli,” kata Dena.

Aneka sampah dapur seperti kulit buah menjadi bahan baku pupuk organik. (Dok. Dena Murdayanti)

Apalagi pupuk kotoran hewan terbatas, sedangkan Dena memerlukan lebih banyak pupuk untuk budidaya sayuran. Hobi berkebun sayuran itulah yang mendorong Dena mengolah sampah organik. Semula ia hanya menanam sayuran di polibag dan pot kecil. Pelan tapi pasti kebun Dena meluas. Kini ia menggarap lahan sekitar 7 m x 5 m di samping rumah. Pupuk organik bikinan sendiri itu memasok 50% kebutuhan pupuk.

Motivasi Dena berkebun untuk memenuhi kebutuhan sayuran yang tidak tersedia di pasar seperti kale. Menanam sayuran di rumah juga lebih sehat lantaran cara budidaya tanamannya dilakukan sendiri. Pakar pupuk organik dari Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Iswandi Anas, M.Sc., mengatakan, aneka limbah rumah tangga bisa dipakai sebagai bahan pupuk organik.

Nasi mengandung karbohidrat sehingga menjadi sumber makanan bagi mikrob yang berkembang di dalamnya. Adapun fosfor bisa berasal dari tulang ikan. Sementara sisa-sisa bagian ikan selain tulang menjadi penghasil nitrogen. Kulit buah pun sumber pupuk organik yang baik. Marjenah dan rekan dari Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur, membuktikannya.

Kompos siap pakai bikinan Dena Murdayanti hasil campuran pupuk organik dari sampah dapur dan kotoran hewan. (Dok. Dena Murdayanti)

Marjenah mengungkapkan lindi atau kompos cair dari campuran kulit buah nanas dan jeruk mengandung fosfor 8—10 kali lipat dibandingkan dengan standar mutu pupuk organik. Lebih bagus jika sampah organik diberi dekomposer. Harap mafhum mikrob dalam pupuk organik sangat membantu pertumbuhan tanaman. Lebih lanjut ia menyatakan salah satu manfaat mikrob meningkatkan unsur hara dalam pupuk organik.

Misal Azotobacter sp. dan Azospirilum sp. yang menambat nitrogen dari udara lantas mengubahnya menjadi amonium dan nitrat. “Mikrob juga meningkatkan dan menghasilkan hormon perangsang akar sehingga akar lebih banyak dan lebih aktif. Jadi, penyerapan unsur hara pun lebih efektif,” kata doktor mikrobiologi tanah alumnus Faculty of Agricultural Sciences, State University of Ghent, Belgia, itu.

Kebun sayuran yang meluas menuntut pasokan pupuk organik yang lebih banyak. Oleh karena itu, Dena berencana membuat sendiri atau membeli satu unit alat pengompos khusus. Tujuannya agar ia bisa memanfaatkan lindi dan pupuk padat. Selama ini ia hanya memanfaatkan pupuk organik padat karena wadah pengompos tidak berlubang sebagai tempat keluar lindi. (Riefza Vebriansyah)

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

USK Olah Ampas Kopi Jadi Briket Biomassa dan Dupa Wangi

TRUBUS.ID — Universitas Syiah Kuala (USK) mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah organik melalui Barabung Brewcraft. Inovasi itu mengolah ampas kopi...

More Articles Like This