Sunday, July 14, 2024

Kopi Genjah : Panen 18 Bulan, 3 Ton per Hektare

Rekomendasi
- Advertisement -

Pohon kopi dengan perakaran kokoh, genjah, produktif, dan tahan nematoda serta kekeringan.

Menikmati secangkir kopi kini lebih cepat jika menanam kopi super. Tanaman panen perdana pada umur 18 bulan. (Dok. Puslitkoka)

Trubus — Pekebun tidak perlu menunggu hingga 3 tahun untuk memanen buah kopi. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur, melepas kopi super yang genjah. Pohon kopi berbuah pertama pada 18 bulan. Artinya 1,5 tahun pascatanam, pohon anggota famili Rubiaceae itu mulai “membalas budi” kepada pekebun. Dengan perawatan intensif—pemupukan, pemangkasan, dan penyiangan gulma—produksinya 3 ton per hektare berpopulasi 1.600 tanaman.

Produksi per tanaman hampir 2 kg kopi beras (green bean). Salah satu penyebab sifat genjah kopi super itu lantaran perakaran lebat. Pada umur 6 bulan, tanaman kopi biasa yang dicabut hanya memerlukan wadah 1,5 m x 2 m untuk menampilkan tajuk hingga perakaran. Sementara itu kopi super berumur sama memerlukan wadah 3 m x 4 m. Kalau dihitung, pada umur 6 bulan jumlah akar kopi super 2—2,5 kali kopi biasa.

Akar padat

Periset agronomi kopi Puslitkoka, F Yuliasmara, S.P., menuturkan, “Seiring pertambahan umur, jumlah akar akan meningkat.” Sebagai gambaran pada umur 1 tahun, kepadatan akarnya 3 kali lipat kopi biasa. Jumlah akar banyak tidak berarti pohon itu rakus nutrisi. “Dengan akar lebih banyak, penyerapan hara dan air efektif sehingga produksi optimal,” kata Yulias—panggilan Yuliasmara.

Perakaran pohon kopi super 2—3 kali lipat pohon kopi biasa. (Dok. Puslitkoka)

Aliran hara lancar menjadikan pertumbuhan lebih cepat sehingga umur produksi lekas tercapai. Tingkat kelulusan hidup bibit juga meningkat. Lazimnya, bibit yang baru tanam memerlukan penyulaman 20—30% sebelum umur 1 tahun. Kalau menanam kopi super, keperluan penyulaman paling banyak 10%. Menurut Yulias hampir semua pekebun yang menanam kopi super memberikan umpan balik positif.

“Kopi super bukan varietas,” kata Yulias. Menurut alumnus Jurusan Agronomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu, istilah super merujuk kepada teknik penyambungan antara batang bawah berupa pohon berakar banyak dan batang atas yang unggul. Teknik penyambungan itu—tidak bisa diungkapkan karena dilindungi UU Hak Atas Kekayaan Intelektual—menghasilkan pohon kopi berakar banyak, produktif, genjah, dan toleran organisme pengganggu tanaman (OPT).

Latar belakang inovasi teknik super adalah ancaman pemanasan global yang mulai bergaung sejak pergantian milenium. “Salah satu dampak pemanasan global adalah kemarau panjang yang memicu kekeringan, suhu panas ekstrem, atau perubahan cuaca yang menyebabkan angin kencang,” ujar Yulias.

Mencegah erosi

Melalui penyempurnaan oleh berbagai generasi peneliti—Yulias adalah generasi ketiga—pada 2014 tercipta kopi super. Jenisnya menyesuaikan kebutuhan, bisa robusta maupun arabika. Klon setiap jenis pun bisa diatur. Artinya kopi super itu bisa berjenis robusta unggul seperti BP308, BP42, atau BP288 maupun arabika unggul (andungsari, sigara rutang, atau S795).

F. Yuliasmara, S.P., periset agronomi di Puslitkoka. (Dok. Puslitkoka)

Agar kopi super berproduksi optimal, Yulias merekomendasikan pekebun menerapkan teknik budidaya yang baik. Salah satu tahap budidaya yang penting adalah pemangkasan. Pasalnya, “Makin jauh buah dari batang utama, kualitas buah makin berkurang,” kata periset berusia 34 tahun itu. Syarat lain agar produksi optimal adalah penanaman intensif.

Menurut Yulias kebanyakan pekebun kopi, terutama di Jawa, menanam kopi hanya sebagai sampingan. Nun di Desa Kemuning, Temanggung, Jawa Tengah, Tumardi menanam kopi di sela pohon pisang, gamal, sengon, dan lamtoro. Meski memiliki 8 ha lahan, ia hanya mendapat 3,5 ton kopi beras per tahun. Idealnya dengan penanaman intensif (populasi 1.000—1.600 per ha), Tumardi bisa mendapat lebih dari 5 ton kopi beras per tahun.

Kopi super juga cocok ditanam di lahan kritis rawan erosi. Akarnya yang kuat efektif mencengkeram tanah agar tidak longsor. Yulias menyatakan, salah satu kelebihan kopi adalah cocok menjadi tanaman konservasi sekaligus memberikan hasil secara ekonomis. Saat ini, sekitar 10 juta bibit tertanam di kebun masyarakat maupun perusahaan di berbagai daerah di Indonesia. Lantaran penyambungannya hanya bisa dilakukan di Puslitkoka, bibit kopi super pun hanya tersedia di sana.

Setiap tahun Puslitkoka mampu memproduksi 20 juta bibit kopi super. Lantaran teknik penyambungannya mutakhir, harganya pun lumayan. Harga bibit siap tanam dengan 5 pasang daun Rp10.000 per batang. Namun dengan berbagai kelebihannya, kopi super siap mengembalikan modal pekebun dalam 2 tahun. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Presiden dan Mentan Kunjungi Kebun Kopi di Lampung Barat, Pacu Produksi Demi Kesejahteraan Petani

Trubus.id—Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau perkebunan kopi di Desa Kambahang, Kecamatan Batubrak,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img