
Bokashi menggantikan pupuk sintetis. Kipahit menggantikan pestisida pabrik.
Trubus — Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur salah satu sentra kopi andalan. Sejak 2016, sebagian pekebun kopi di Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, menerapkan sistem budidaya organik. Meskipun produktivitas anjlok 50%, pendapatan pekebun ajek karena harga jual kopi organik hampir 2 kali lipat (baca “Mereka Melirik Kopi Organik” hal. 120—121).

Tentu saja pekebun harus meluangkan waktu untuk membuat pupuk dan meramu pestisida sendiri. Kunci membuat pupuk organik adalah bakteri fermentor berjuluk formula organik kompos (FOK). Menurut penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kecamatan Dampit yang mendampingi pekebun kopi Amadanom, Jajang Slamet Soemantri, FOK berisi 49 mikrob bermanfaat seperti Lactobacillus sp yang mempercepat pengomposan yang semula 2 bulan menjadi sepekan.
Lebih hemat

Harga bahan bokashi, yaitu jerami padi, batang pisang, atau kulit kopi sangat murah bahkan nyaris gratis. Pekebun hanya membayar ongkos angkut berupa biaya sewa mobil bak terbuka.
Sebelumnya, pekebun memerlukan 1 ton pupuk kandang per ha per tahun. Untuk itu dengan harga Rp7.000—Rp10.000 per karung isi 25 kg, mereka harus membayar Rp280.000—Rp400.000.
Selain itu masih ada biaya pembelian 400 kg Urea (harga nonsubsidi Rp3.500 per kg) dan 300 kg NPK (Rp5.500 per kg). Total belanja pupuk pekebun kopi konvensional Rp3,33 juta—Rp3,45 juta per tahun. Sementara dengan membuat 3 ton bokashi, pekebun hanya memerlukan 750 kg pupuk kandang (30 karung) yang harganya Rp300.000. Biaya sewa mobil bak per rit Rp100.000—Rp150.000 (3 rit) dan upah pekerja Rp300.000 (3 hari), total Rp1,05 juta.

malam hari.
Menurut pekebun organik di Jembrana, Bali, Komang Sugandhi, kelebihan penggunaan bokashi adalah menyehatkan tanah sehingga menekan bahkan menihilkan cendawan tular tanah. Tanah sehat juga tidak mendukung berbagai hama yang melalui fase pupa dalam tanah. Jajang menekankan pekebun agar rutin menyemprotkan insektisida nabati. Lagi-lagi insektisida alami itu mereka racik sendiri (lihat infografis halaman 125).
Cegah hama
Pekebun menyemprotkan pestisida nabati itu dua pekan sekali. Seluruh bagian pohon, termasuk batang, pangkal batang, dan bagian bawah daun disemprot. Jajang menganjurkan penyemprotan pada sore hari karena kebanyakan serangga perusak aktif saat malam.
Hama lain adalah kutu putih golongan Pseudococcus yang kerap “digembalakan” oleh semut. Untuk mengendalikan semut, pekebun Amadanom mengandalkan bumbung bambu. Rongga bumbung diisi ikan asin dan dedaunan. Setiap hektare ada 20 bambu. “Semut masuk lantaran tergoda aroma ikan. Setelah itu mereka nyaman di dalam karena ada dedaunan yang menyerupai sarang,” ujar Jajang.

Pemasangan bumbung bambu itu biasanya 3 hari menjelang panen. Pagi sebelum panen, pekebun mengambil lalu membuang bumbung. Berbagai cara sederhana dan murah itu efektif melindungi pohon dari serangan organisme pengganggu. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan)
