Wednesday, September 28, 2022

Nanas Afkir pun Kian Berkelas

Rekomendasi

Trubus.id Mengolah nanas afkir yang semula terbuang menjadi aneka produk olahan yang lezat.Buah nanas berbobot kurang dari 100 gram dan berwarna kuning penuh tidak terjual.

Meski penampilan nanas itu mulus, tidak rusak atau busuk. Pasar menolak buah itu karena ukuran nanas terlampau kecil dan terlalu masak. Jika dijual, nanas lodoh atau lunak karena busuk atau terlampau ranum ketika sampai di tangan pembeli. Para petani di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, membiarkan nanas-nanas afkir itu menumpuk.

Bagi Warti nanas afkir itu menjadi sumber rupiah. Warga Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, itu mengolahnya menjadi aneka olahan seperti dodol dan jus.

Perempuan pengusaha itu mengemas dodol nanas berbobot 200 gram dan botol jus bervolume 250 ml. Warti beromzet Rp5 juta sebulan dari perniagaan produk itu. “Omzet itu lebih sedikit dibandingkan dengan omzet sebelum pandemi,” kata Warti.

Sentra nanas

Saat ini penjualan produk olahan nanas bermerek Almeidah Food itu masih tahap pemulihan setelah pandemi Covid-19. Meski begitu Warti optimis produksi dan penjualan aneka olahan nanas lebih baik lagi pada masa mendatang.

Konsumen olahan nanas kreasi Warti yakni toko oleh-oleh, distributor, dan reseller di Purbalingga dan sekitarnya. Selain dodol dan jus, Warti juga mengolah buah nanas menjadi sambal, sirop, dan cenil.

Sebetulnya Almeidah Food merupakan salah satu produk milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah Sekar Abadi. Warti menjadi penanggung jawab produksi aneka olahan nanas.

Warti dan rekan mengolah lebih dari 100 kg nanas setiap bulan. Pasokan nanas berasal dari Desa Siwarak, sentra budidaya nanas di Kabupaten Purbalingga. “Hampir 90% masyarakat Desa Siwarak merupakan petani nanas,” kata Warti.

Dodol dan jus produk olahan nanas kreasi KWT Berkah Sekar Abadi yang paling laris terjual.

Ratusan hektare lahan di desa itu merupakan kebun nanas. Jadi, Warti tidak khawatir kehabisan bahan baku. Ia 4 kali memproduksi nanas sepekan.

Setiap hari Warti mengolah produk berbeda. Misal hari ini ia memproduksi dodol, besok membuat jus. Menurut Warti produk terlaris terjual yakni dodol, jus, dan cenil. Terdapat 3 varian dodol yakni original, gula jawa, dan yang terbaru wijen.

Warti memerlukan 3 kg nanas, ½ kg tepung ketan, dan 1 kg gula sebagai bahan baku pembuatan dodol. Pembuatan produk itu relatif sederhana.

Mula-mula Warti mengupas, membuang mata buah, mencuci, dan memotong nanas menjadi bagian yang lebih kecil. Setelah itu ia melumatkan nanas menggunakan blender. Selanjutnya ia memasukkan semua bahan baku ke wajan tembaga.

Setelah semua bahan tercampur merata, ia menyalakan api. Wajan khusus produksi dodol itu pun mengaduk secara otomatis. Setelah teraduk otomatis selama 3 jam, Warti mematikan api.

Selanjutnya setelah adonan dingin, ia membungkus dan memasukkan dodol ke dalam kemasan. Dari adonan awal dihasilkan 5 kg dodol nanas. Dodol nanas kreasi KWT Berkah Sekar Abadi lezat dan bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga.

Pemberdayaan masyarakat

Empat orang yang membantu Warti memproduksi aneka olahan nanas sehari-hari. Namun, saat pesanan banyak seperti menjelang Idulfitri, ia memberdayakan 10 orang.

Memproduksi ragam olahan nanas menjadi pekerjaan prioritas para ibu tetangga Warti. Alasannya, “Honor lebih tinggi daripada membuat wig dan bulu mata palsu,” kata seksi pemasaran dan humas KWT Berkah Sekar Abadi itu.

Semula masyarakat setempat (terutama ibu rumah tangga) bekerja di UMKM yang membuat wig dan bulu mata. Kebetulan desa tempat Warti tinggal memang dikenal sebagai pembuat wig dan bulu mata yang bagus.

Tidak heran banyak ibu yang menanyakan kepada Warti kapan ada produksi olah nanas skala besar. Artinya ada aspek pemberdayaan masyarakat pada bisnis olahan nanas KWT Berkah Sekar Abadi.

Banyak ibu-ibu yang mendapat manfaat dari adanya unit produksi olahan nanas KWT Berkah Sekar Abadi. Yang paling penting terserapnya nanas afkir yang selama ini terbuang.

Produk olahan menjadi solusi penyerapan nanas terutama saat panen raya. Warti dan kelompok terus berinovasi menghadirkan produk baru setiap tahun. Tujuannya agar produk makin beragam dan kian banyak nanas afkir yang terserap (baca boks: Solusi di Balik Masalah).

Tantangan lain yang dialami Warti dan kelompok yakni pemasaran. Dahulu mereka belum mengetahui siapa konsumen produk olahan nanas. Produk Almeidah Food pun masuk pasar swalayan.

Saat itu banyak barang retur setelah 3 bulan dan Warti harus memasok produk baru ke pasar swalayan. Penjualan yang kurang lancar menyadarkan Warti bahwa pasar swalayan bukan tempat yang pas berjualan aneka produk olahan nanas. Ia pun mempelajari siapa konsumen tepat produk Almeidah Food. Toko oleh-oleh salah satunya.

Selain itu ia pun merambah penjualan di lokapasar (marketplace) untuk meningkatkan pemasaran. Kini Warti memperpanjang masa simpan produk agar lebih tahan lama. Keputusan itu diambil setelah ada eksportir yang terpincut mengekspor sambal nanas dalam kemasan wadah kaca.

Eksportir itu menyatakan produk mesti memiliki masa simpan 16 bulan agar bisa diekspor. Meski tantangan datang silih berganti, Warti optimis usaha olahan nanas tetap menjanjikan di masa mendatang.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Menghasilkan Silangan Palem yang Cantik

Trubus.id — Greg Hambali sangat hobi menyilangkan palem. Saking hobinya menyilangkan tanaman palem, Greg mendapatkan hasil silangan terbaru yang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img