Saturday, December 3, 2022

Peluang Pangan Lokal sebagai Pilihan Utama Pangan Nasional

Rekomendasi

Trubus.id — Tantangan besar masa mendatang adalah ketahanan pangan nasional. Selama ini pemenuhan karbohidrat masih mengandalkan impor gandum. Untuk mengurangi ketergantungan impor itu, Indonesia perlu memprioritaskan alternatif pangan lokal yang ada, seperti singkong dan mocaf.

Tercatat, impor gandum saat ini mencapai 10–11 juta ton per tahun. Indonesia mengimpor 11,48 juta ton gandum pada 2021. Adapun sepanjang Januari–Maret 2022 impor gandum tercatat 2,81 juta ton, naik 4,7% dari periode sama pada 2021.

Prof. Ir. Achmad Subagio, M.Agr., Ph.D., dosen di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember sekaligus peneliti penemu tepung mocaf, mengatakan, nilai itu terus berkembang seiring penerimaan masyarakat atas produk-produk makanan berbasis gandum.

“Saat ini Indonesia adalah negara yang mengonsumsi mi terbesar ke-2 di dunia setelah Tiongkok,” kata Subagio.

Di sisi lain, imbuh Subagio, pangan global mengalami tekanan yang sangat berat akibat pandemi Covid-19, persoalan geopolitik, dan perubahan iklim. Pandemi Covid-19 menyebabkan pembatasan pergerakan di dalam dan lintas negara yang menghambat layanan logistik, mengganggu seluruh rantai pasok, dan memengaruhi ketersediaan pangan global. Bahkan, beberapa negara melarang pelaksanaan ekspor bahan pangan.

Ketidakpastian itu mendongkrak kenaikan harga pangan dunia. Indeks Harga Pangan Food and Agriculutural Organization (FAO) mencapai 138,0 poin pada Agustus 2022. Artinya, lebih tinggi 10,1 poin (7,9%) dari nilainya pada 2021.

Menurut Subagio, tantangan menjadi lebih berat dengan munculnya ketegangan geopolitik Ukraina–Rusia yang menimbulkan ancaman bagi impor bahan pangan. Berdasarkan hal itu, strategi Kemandirian Pangan seperti diamanatkan Undang-Undang Pangan No. 18 Tahun 2012 mesti dijalankan segera.

Agar mencapai kemandirian pangan memerlukan peningkatan produksi nasional. Selain itu, mesti dilakukan melalui program pengadaan pangan di lahan yang belum dikelola secara optimal dan dengan investasi yang relatif murah serta waktu yang cepat untuk dikonversi menjadi lahan produktif.

Subagio menyebut dari total lahan sebanyak 58 juta hektare, hanya sekitar 18 persen pertanian Indonesia yang tergolong subur dan optimal. Selebihnya, merupakan lahan suboptimal dengan kendala agronomis beragam.

Tanaman padi memerlukan kondisi lahan optimal sebagai syarat untuk menghasilkan provitas tinggi yang tentu saja memerlukan investasi besar dan waktu yang lama untuk mengubah lahan suboptimal menjadi lahan optimal.

“Oleh karena itu, kita perlu mencari komoditas lain yang lebih tepat,” jelas Subagio.

Menurutnya, singkong dapat dipilih untuk peningkatan ketersediaan pangan karena mempunyai daya adaptasi lingkungan tinggi. Singkong dapat tumbuh di lahan-lahan suboptimal dengan provitas tinggi sehingga investasi pengadaan lahan dan infrastruktur produksi jauh lebih rendah dibanding tanaman pangan lain.

Selain itu, ia menilai ongkos atau biaya produksi umbi singkong juga lebih murah dibanding beras. Selengkapnya, simak seputar tren pangan lokal sebagai upaya ketahanan pangan nasional di Majalah Trubus Edisi 636 November 2022.

Majalah Trubus mengulas tuntas tren pangan lokal alternatif dari hulu hingga hilir. Segera dapatkan Majalah Trubus Edisi 636 November 2022 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img