Trubus.id — Bertahun-tahun enam telaga yang biasa dimanfaatkan warga Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengering. Demikian pula lahan di sekitarnya menjadi lahan kritis yang perlahan-lahan menganggur karena sumber air untuk budidaya aneka tanaman pun hilang. Mengetahui kondisi itu, Suswaningsih, warga sekitar, merasa prihatin.
Suswaningsih bergerak dengan memulai menanam beragam tanaman seperti sengon (Paraserianthes falcataria), akasia (Acasia mangium), mahoni (Swietenia mahagoni), dan jati (Tectona grandis).
Ia mendapatkan bibit aneka tanaman penghijauan itu dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul. Total 5.000 bibit dari aneka tanaman di sekitar telaga telah berhasil ia tanam.
Penanaman perdana pada 2011 hingga sekarang (jika tebang harus tanam). Kerap kali ia berada di lokasi telaga hingga malam hari. Semula, ia melakukannya sendiri. Namun, lambat-laun masyarakat desa itu pun terlibat dalam penanaman pohon penghijauan.
Aneka tanaman itu berhasil tumbuh sehingga area di sekitar telaga pun perlahan kembali hijau. Seiring dengan pertumbuhan tanaman, warga juga membersihkan beragam rumput dan gulma.
Di lahan 1,5 hektare bekas telaga, Suswaningsih menguji coba penanaman jagung. Ia mengawali sendiri karena masyarakat tidak percaya sebelum melihat hasilnya. Uji coba penanaman jagung itu berhasil.
Ia menuai 3,5 ton pipilan jagung. Selanjutnya, Sarjana Teknologi Hasil Pertanian alumnus Universitas Widya Dharma Klaten itu menanam jeruk. Masyarakat mulai tertarik untuk mengolah lahan dan menanam jeruk.
Mereka menjual hasil panen untuk keperluan dana sosial setempat. Selain itu, masyarakat juga menggunakan sistem tumpang sari di bawah tegakan jeruk agar lahan lebih produktif. Penanaman komoditas kian beragam seperti singkong, kacang tanah, dan padi. Khusus padi, Suswaningsih menerapkan sistem “ngawuawu” atau tebar benih langsung.
Penanaman menjelang musim hujan karena keterbatasan air. Ia menyebar benih padi, menutup dengan pupuk kandang. Tujuh hari setelah hujan mulai turun, bibit tumbuh dan bermunculan di permukaan tanah. Lahan di sekitar telaga menjadi produktif. Warga menuai beragam tanaman pangan berkelanjutan.
