Tuesday, November 29, 2022

Pemburu Lezat di Balik Duri

Rekomendasi
Frederic Guerlava 24 tahun terakhir berburu durian
Frederic Guerlava 24 tahun terakhir berburu durian

Tiga pria penggila durian: Frederic Guerlava, Karim Aristides, dan Mohamad Sulthon Amien, dengan ekspresi berbeda.

Cinta itu bermula dari Blok 13, sebuah area di Paris, Perancis, tempat para pedagang menjajakan buah tropis.  Di lokasi yang dicapai 30—45 menit bermobil dari menara Eiffel itu terdapat beberapa pedagang yang menjual durian dari berbagai negara di Asia seperti Thailand dan Tiongkok. Di situlah Frederic Guerlava pertama kali mencicipi daging buah durian pada 1989. Usianya sudah 19 tahun saat itu. Ia membeli satu buah anggota famili Bombacaceae itu lalu menikmatinya di Blok 13 bersama seorang kawan.

Kali pertama menikmati daging buah durian, “Rasanya manis, tapi ada rasa seperti sup bawang. Itu cuma pertama kali, sesudah itu rasa bawang tidak pernah datang lagi, tinggal memori saja,” kata pria 42 tahun itu. Dari pengalaman pertama mencecap daging buah durian, cinta pada buah tropis pun tumbuh. Beberapa bulan usai mencicipi durian itu, Frederic mendapat kesempatan ke Indonesia. Saat itu, ia mahasiswa Jurusan Biologi University Pierre & Marie Curie Paris VI, hendak meriset penyelam mutiara di Dobo, Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Dobo sentra mutiara berkualitas tinggi.

Keruan saja ia bagai mendapat durian runtuh memperoleh kesempatan ke Indonesia. Frederic yang menempatkan durian sebagai buah paling favorit, girang bukan kepalang. Sebab, ia tahu tanah leluhur raja buah itu juga di Indonesia, selain Thailand dan semenanjung Malaysia. Maka datang ke Indonesia berarti bisa menikmati durian di negara asalnya. “Karena saya sudah sempat coba di Paris sehingga penasaran ingin coba di negara asalnya,” kata Frederic yang lahir dan tumbuh besar di Paris. Impian menikmati durian di negara asalnya terwujud untuk kali pertama di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Karim Aristides melakukaneksplorasi ke sentra-sentradurian di seantero Nusantarauntuk mencari durian unggul
Karim Aristides melakukan
eksplorasi ke sentra-sentra
durian di seantero Nusantara
untuk mencari durian unggul

Rasa sirop

Usai menyelesaikan pendidikan sarjana, Frederic Guerlava kembali ke Indonesia yang kaya durian. Si raja buah seolah-olah memanggil-manggil Frederic agar datang kembali. Di Indonesia pria kelahiran 19 Agustus 1970 itu menjadi eksportir beragam komoditas pertanian seperti nilam Pogostemon cablin dan jambu mete Anacardium occidentale. Nah, ketika musim buah durian tiba, ia bakal berburu ke berbagai sentra. Ia menyambangi kaki lima, sentra durian, hingga berburu ke hutan.

Di Jakarta Frederic menikmati durian antara lain di Kalibata, Jakarta Selatan, Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Begitu mengetahui, calon pembelinya orang asing, menurut Frederic, penjual cenderung menaikkan harga. Namun, Frederic tidak keberatan jika pedagang menaikkan harga sepanjang memberikan buah berkualitas. Dalam sebuah perburuan durian, ayah dua anak itu menghabiskan 10—12 durian. Frederic tetap dapat memperoleh durian bermutu meski berburu di lapak-lapak di tepian jalan.

Frederic mengatakan, 3 tahun pertama tinggal di Indonesia, ia menghabiskan 1.000 buah durian. Ia mengatakan, “Yang paling mengesankan, mendapatkan durian yang  warna daging buahnya merah, rasa seperti sirop manis, dan unik sekali rasanya.” Durian itu ia dapat di salah satu lapak di Kalibata. Itulah sebabnya  ia mengambil bijinya berhasrat untuk menanamnya, tetapi ia tidak punya tanah. Ketika itu, pada 1998, “Saya tidak banyak kenal orang yang bisa menanam sehingga biji pun hilang. Kalau saja ditanam saat itu sekarang sudah berbuah,”  kata Frederic yang mempertanyakan mengapa Indonesia tidak memiliki arboretum khusus durian itu.

Selain Jakarta, ia mencari durian unggul di  berbagai kota seperti  Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Barat, Semarang (Jawa Tengah),  dan Yogyakarta. Pria yang menjaga kesehatan dengan rutin bermain squash itu pernah masuk hutan di Kalimantan bersama dua rekannya. Selama di hutan, mereka hanya mengonsumsi buah dari pohon-pohon yang tumbuh di rimba. “Saya coba survive dengan buah yang ada di hutan,” kata Frederic. Oleh karena itu mereka menelusuri hutan ketika musim berbuah tiba agar ketersediaan buah juga melimpah.

Kali lain ia menelepon wartawan Trubus lalu mengatakan, “Saya hendak ke Pati, di sana sedang musim dan akan ada lomba durian,” kata pria yang kini sangat fasih berbahasa Indonesia itu. Pria yang lebih memilih durian daripada buah anggur itu mengatakan, Indonesia memiliki beragam rasa durian. “Dari yang pahit sekali, tidak manis, sampai superlezat yang bisa mengalahkan durian mana pun,” kata  Frederic yang juga berburu durian di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Menurut Frederic, Indonesia sebetulnya lebih unggul dibanding negera-negara tetangga itu.  “Varietas dan pilihan lebih banyak di Indonesia. Kelebihan lain Indonesia begitu luas sehingga durian ada sepanjang tahun asal berani terbang jauh,” kata penggemar durian tanpa rasa pahit, berdaging buah lembut sekaligus beraroma khas itu.

Eksplorasi

Karim Aristides juga maniak alias sangat menggemari durian. Ia yang bermukim di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, melakukan eksplorasi ke berbagai sentra dari  bagian utara Sumatera hingga Papua.  Tentu saja ia mendanai sendiri perjalanan itu sejak 2007. Padahal sekali eksplorasi ia menghabiskan biaya hingga jutaan rupiah. Tujuannya satu: menemukan durian lokal yang unggul. Durian unggul, menurut Karim, adalah berdaging buah tebal antara 1,5—2 cm, warna daging buah menarik, yakni tembaga.

Sementara rasa ideal berupa perpaduan manis-pahit dengan rasio 75% manis dan 25% pahit. Syarat lain bagian buah yang dinikmati cukup besar hingga 35% dan produktivitas pohon tinggi.  Pria 49 tahun itu  menentukan unggul setelah mendatangi pohon induk, mencicipi buahnya, mengukur tingkat kemanisan, ketebalan daging buah, dan menggali informasi dari pemilik pohon. Itu dilakukan bukan hanya sekali, tetapi tiga kali. Setiap kali musim berbuah tiba Karim mendatangi pohon induk yang dinilai potensial itu.

Artinya jika pohon durian hanya berbuah sekali dalam setahun, maka dalam waktu 3 tahun berturut-turut Karim akan mendatangi pohon itu. Tujuannya agar data yang terkumpul valid. Karim menargetkan mampu menemukan durian lokal unggul melebihi musang king, varietas asal Malaysia. Saat ini ada 3 jenis durian lokal yang potensial dikembangkan. Durian-durian itu berasal dari Balaikarangan, Kalimantan Barat, Bangka, dan Papua.

Ketika eksplorasi, Karim kadang-kadang tak kenal waktu. Ia pernah melakukan eksplorasi di sentra durian Balaikarangan dari pukul 23.00—02.00. Gedebuk… gedebuk… bunyi durian jatuh susul-menyusul ketika ia menyusuri Desa Bungkang, Mabah, Sotok. Selama tiga jam itu ia memperoleh 12 durian jatuhan. Setelah terbuka, hanya 2 durian yang berdaging tipis, kurang dari 1 cm, selebihnya berdaging buah tebal, lebih dari 2 cm. Ia puas menikmati durian unggul dari wilayah perbatasan Indonesia—Malaysia itu.

Selama eksplorasi dari ujung Sumatera hingga Papua, Karim menyimpulkan bahwa, “Durian terluas dan terbaik ada di Balaikarangan.” Terluas berarti jumlah pohon paling banyak karena pada radius 20 km banyak jenis durian unggul. Terbaik mengacu pada rasa, warna, tekstur, dan ketebalan daging buah. Menurut Karim durian asal Balaikarangan 80% berkualitas bagus. “Hanya kalah di warna, karena 90% berwarna putih,” kata Karim yang kini kerap menjadi juri lomba durian itu. Oleh karena itu, “Jika pemerintah tak menyadari, itu kesalahan besar,” kata Karim.

Salah satu hasil eksplorasi Karim adalah durian pelangi di Manokwari, Provinsi Papua Barat. Semula durian itu tak ada harganya. Buah jatuhan acap kali dibiarkan begitu saja oleh pemiilik, Sunarto, hingga membusuk. Harap mafhum, masyarakat pun menolak mencicipi karena beranggapan durian berdaging paduan merah, jingga, dan kuning itu beracun. Namun, setelah Karim “menemukan” durian itu masyarakat pun berminat membudidayakannya. Apalagi pelangi memiliki segudang kelebihan seperti produksi tinggi, bisa berbuah dua kali dalam setahun, kualitas dan citarasa daging buah pun unggul (baca Trubus edisi Juli 2012, Pelangi van Papua nan Eksotis). Soal warna pelangi, pakar buah di Bogor, Provinsi Jawa Barat, Dr Moh Reza Tirtawinata MS memuji, “Pelangi durian tercantik yang pernah saya ketahui.”

Keruan saja harga buah dan bibit membubung. Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, Panca Jarot Santoso pernah melepas sebuah bibit durian pelangi setinggi 50 cm mencapai Rp3-juta. Padahal, lazimnya harga sebuah bibit durian hanya Rp50.000. Harga begitu tinggi karena sejatinya Jarot tidak berniat untuk menjual tanaman koleksi. Ia “asal” menyebut angka, ternyata hobiis yang ngotot membeli menyanggupi. Karim memang  bukan sekadar menikmati durian, tetapi mendorong perkembangan durian unggul. Menurut Karim yang kerap diundang sebagai juri dalam kontes durian, Indonesia lebih baik fokus mengembangkan dengan serius 2—3 jenis durian unggul.

Drs Mohamad SulthonAmien MM memindahkan
100 pohon durian lokal ke kebun
Drs Mohamad Sulthon
Amien MM memindahkan
100 pohon durian lokal ke kebun

Pindahkan pohon

Penggemar lain buah durian adalah Drs Mohamad Sulthon Amien MM. Sulthon bisa dua kali memborong durian dalam sebulan. Padahal, sekali konsumsi pria kelahiran 10 Maret 1957 itu menghabiskan 10 buah. “Yang penting kita imbangi dengan konsumsi buah lain yang bersifat menetralisir kelebihan itu,” tutur Sulthon. Ia menyiasati dengan mengonsumsi avokad dua kali sehari setelah konsumsi durian. “Durian mengandung lemak jenuh, sementara avokad mengandung lemak tak jenuh. Jadi imbang,” kata direktur utama Laboratorium Parahita Diagnostic Center itu.

Sulthon menyukai durian lokal dengan karakter rasa yang manis tidak pahit dengan tekstur daging yang kering, seperti durian petruk, plangkrongan, dan siunyil. Ia memburu durian-durian itu ke sentranya. Misalnya ke Jepara, Jawa Tengah, untuk mencari durian petruk, Magelang (plangkrongan), dan Malang (durian unyil).

Demi kecintaan pada si raja buah alumnus Universitas Airlangga itu rela menggelontorkan Rp90-juta untuk memindahkan 100 pohon durian dari berbagai daerah, seperti Ngantang dan Kasembon, keduanya di Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan Magelang, Jawa Tengah. Pemilik Sekolah Alam Insan Mulia itu memindahkan pohon Durio zibethinus supaya bisa menikmati durian dari kebun sendiri, tapi tidak menunggu mau lama karena menanam dari bibit, sekaligus melestarikan plasma nutfah durian.

Pada 2009 ia berdiskusi dengan ahli durian dari Universitas Brawijaya, Dr Lutfi Bansir. Dari diskusi seputar durian lokal yang potensial di beberapa daerah, Sulthon tergerak melestarikan durian lokal. “Saya ingin bisa bermanfaat untuk masyarakat,” tutur ayah 5 anak itu. Rata-rata usia pohon yang ia pindahkan umur 6—7 tahun, dengan diameter pohon rata-rata sekitar 20—25 cm. Lutfi membantu memilih pohon hingga penanaman di kebun Sulthon di Desa Watuagung, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. “Pada prinsipnya durian yang dipilih adalah yang buahnya enak, manis tanpa pahit, daging tebal, bisa menyerbuk sendiri,” tutur pria 55 tahun itu.

Pohon-pohon itu dipindahkan dengan menebangnya terlebih dahulu dan menyisakan batang setinggi 1—1,5  meter dari permukaan tanah. Pohon siap pindah ketika sudah muncul tunas, sekitar 2—3 bulan pascatebang. Pekerja lalu mengangkut pohon dengan truk hingga tiba di kebunnya. Menurut Sulthon biaya pembelian hingga pemindahan dan penanaman sebuah pohon mencapai Rp800.000—Rp900.000 atau Rp90-juta untuk memindahkan 100 pohon. Toh mania durian itu tidak keberatan mengeluarkan biaya sebesar itu. Itu demi mewujudkan salah satu cita-cita sewaktu kecil memetik durian di kebun sendiri, sekaligus melestarikan si raja buah. (Sardi Duryatmo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img