Jahe merah dengan minyak asiri 2,57–4,24%.

Trubus — Samud (33 tahun) menyodorkan sebuah gelas berisi minuman. Rintik hujan di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, itu menjadikan udara dingin. Minuman dalam gelas seketika menghangatkan leher dan perut karena terdiri atas susu murni, jahe merah, dan gula. Rasa hangat itu lantaran kandungan gingerol dalam jahe merah. Gingerol termasuk bagian minyak asiri jahe. Makin tinggi kadar minyak asiri jahe merah, makin banyak gingerolnya sehingga ketika dikonsumsi rasanya lebih hangat.
Itu yang mendasari tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Kota Bogor, Jawa Barat, memilah jahe merah kaya asiri. Mereka mendapatkan dua varian jahe merah unggul yaitu jahira 1 dan jahira 2. Jahira 1 mampu menghasilkan 2,57–4,24% minyak asiri dengan produktivitas rimpang 9,06–15,16 ton per ha. Sementara itu jahira 2 menghasillkan 2,20–3,68% dan berpotensi menghasilkan 9,6–16,18 ton per ha.
Sebesar jempol kaki

Menurut periset Balittro, Dr. Nurliana Bermawie, M.Sc, kedua varian itu berasal dari Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kandungan minyak asiri di atas 2% itu melampaui jahe merah yang selama ini beredar di pasar. Laporan periset di Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Cilegon, Banten, Wahyu Susihono, penyulingan jahe merah hanya menghasilkan 0,61–1,102% minyak asiri.
Riset lain oleh Priyono dari Jurusan Teknik Kimia Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta malah menunjukkan rendemen asiri lebih rendah, 0,06–0,07%. Produsen berbagai olahan (minuman instan, susu jahe, atau teh jahe) pun lebih irit kalau menggunakan jahira. Pemakaiannya cukup separuh dari biasanya untuk memperoleh produk dengan rasa sama. Itu karena kandungan asiri minimal dua kali lipat. Menurut kepala Bagian Budidaya PT Sido Muncul, Bambang Supartoko, perusahaannya mengolah jahe merah menjadi produk pereda nyeri akibat rematik.
Jahe merah lebih hemat, hanya 10% dibandingkan dengan menggunakan jahe emprit. Bambang menyatakan, perusahaan menyimpan cadangan ekstrak jahe merah untuk antisipasi berkurangnya pasokan dari pekebun mitra. Jika mengolah jahira yang mengandung lebih banyak asiri, kebutuhan Sido Muncul bisa ditekan. Pekebun yang menanam jahira pun bisa menangguk omzet lebih tinggi lantaran produksi jahira melebihi 9 ton per ha.

Hal itu lantaran sepotong rimpang bibit bisa menghasilkan hingga 33 anak rimpang (propagul). Diameter propagul rata-rata 2,62 cm—hampir sebesar jempol kaki orang dewasa—mempermudah pengolahan pascapanen. Daun luruh mulai bulan ke-8, yang menandakan rimpang siap panen umur sembilan bulan sejak tanam. Tinggi tanaman sepaha orang dewasa (54–70 cm) dan daun yang tumbuh miring ke atas.
Pekebun bisa menanam tanaman sela sembari menanti jahe panen. Penanaman ideal dengan bedengan memanjang setinggi minimal 5 cm. Setelah rimpang muncul, pekebun perlu membumbun agar rimpang selalu tertutup tanah. Pembumbunan merangsang pembentukan propagul sekaligus melindunginya dari percikan air. Percikan air memicu risiko serangan layu bakteri Ralstonia sp atau busuk rimpang akibat cendawan Sclerotium sp, Rhizoctonia sp, maupun Fusarium sp.

Penanaman sebaiknya menghitung mundur agar panen pada kemarau. Saat itu pembentukan propagul terhenti lantaran ketersediaan air minim. Sebaliknya di musim hujan, tanaman terangsang membentuk anak rimpang sehingga kalau panen saat itu kualitas rimpangnya rendah. Penyebabnya, cadangan energi maupun hasil metabolit sekunder yang tersimpan dalam rimpang digunakan membentuk propagul.
Semprot dan jemur
Jahira 1 yang rimpangnya berbentuk lurus lebih mudah saat panen ketimbang jahira 2 yang rimpangnya tidak beraturan. Nurliani menganjurkan panen dengan membongkar seluruh tanaman menggunakan cangkul atau garpu. Namun, pemanenan harus hati-hati agar alat logam tidak menggores rimpang. Meski nantinya dipotong-potong ketika dibawa ke pengepul atau pasar, di kebun harga rimpang utuh lebih tinggi ketimbang yang patah atau tergores.
Ukuran rimpang jahira 1 dan jahira 2 tergolong besar dan berpotensi laku sebagai jahe bermutu kelas 1. Panen saat kemarau memungkinkan pekebun segera menjemur rimpang pascapembersihan. Penjemuran cukup kalau kadar air tinggal 8–12%. Tandanya jahe bisa dipatahkan dengan tangan. Rimpang kering itu siap jual atau bisa disimpan menanti harga tinggi. Penyimpanan sebaiknya menggunakan wadah kedap air seperti karung plastik maupun kantong plastik. (Argohartono Arie Raharjo)
