Saturday, August 13, 2022

Sorgum: Panen Biji Juga Nira

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Varietas unggul sorgum hasil pemuliaan Batan memperkaya pilihan makanan pokok nonberas.
Varietas unggul sorgum hasil pemuliaan Batan memperkaya pilihan makanan pokok nonberas.

Panen biji sorgum hingga 7,5 ton sekaligus panen 1.000 liter bioetanol per ha.

Hamparan sorgum seluas 3 ha itu menghijaukan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta. Itulah lahan milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidorahayu pada musim kemarau. Kondisi itu terjadi sejak Oktober 2014, ketika Playen menjadi lokasi pengujian sorgum unggul samurai 1 dan 2 hasil pemuliaan Badan Tenaga Nuklir (Batan), Pasarjumat, Jakarta Selatan.

Kepala Dusun Playen, Harjono, dan anggota Gapoktan Sidorahayu, pun tidak ketinggalan ikut menanam sorgum varietas unggul itu. Ia memilih jenis samurai 2. Setelah 3,5 bulan, Harjono memanen rata-rata 6,2 ton biji per ha. Ia kemudian menyosoh dan menggiling biji menjadi tepung. Tepung tanaman anggota famili Poaceae itu bahan makanan pokok seperti bolu kukus, kue lapis, kue cookies, brownies, dan pizza.

Prof Dr Soeranto Human, sorgum varietas unggul Batan dilirik negara-negara Afrika untuk diintroduksi sebagai penyedia bahan makanan pokok.
Prof Dr Soeranto Human, sorgum varietas unggul Batan dilirik negara-negara Afrika untuk diintroduksi sebagai penyedia bahan makanan pokok.

Tahan rebah
Menurut Prof Dr Soeranto Human, peneliti senior Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan sekaligus pemulia sorgum, samurai 1 tergolong jenis sorgum manis (sweet sorghum). Tingkat kemanisan cairan nira dari batang samurai 1 mencapai 120 briks. Sorgum itu berpotensi sebagai bahan baku pembuatan bioetanol dan pakan ternak. “Nira sorgum dapat difermentasi menjadi bioetanol,” kata Soeranto.

Dengan populasi 88.800 tanaman sehektar lahan berpotensi menghasilkan 1.148 liter bioetanol. Tinggi samurai 1 mencapai hampir 2 m, lebih tinggi daripada tebon atau sorgum lokal yang hanya 170 cm. Selain nira,petani juga menuai 7,5 ton biji per ha. Sementara itu samurai 2 tergolong sorgum hijau (green sorghum) yang produktif menghasilkan banyak biji berukuran besar. Potensi produksi biji mencapai 8,5 ton per ha. Dengan potensi itu, Soeranto mengarahkan samurai 2 untuk pangan alternatif.

Sihono SP, pemulia samurai 1 dan 2 mengatakan bahwa samurai 2 berukuran besar, warna biji putih kapur, cepat rontok, dan mudah disosoh. Umur panen samurai 2 hanya 113 hari. Kedua sorgum baru itu tahan rebah. Maklum, biasanya kecepatan angin di daerah kering cukup tinggi dan berpotensi merobohkan tanaman. Keduanya juga tahan penyakit busuk pelepah dan karat daun. Hama yang cukup mengganggu hanya burung pipit.

“Itu karena samurai 1 dan 2 memiliki kadar gula cukup tinggi sehingga aromanya menarik burung,” kata Sihono. Serangan itu biasanya terjadi pada fase pengisian biji alias umur 75 hari setelah tanam. Tanpa pencegahan, burung pipit bisa menghabiskan 60% biji. Untuk mencegahnya, Sihono menganjurkan petani membungkus malai dengan koran ketika biji mulai terbentuk.

Menurut Harjono, samurai 1 dan 2 berpotensi meningkatkan sosial ekonomi masyarakat Playen dan Gunung Kidul. Saat kemarau, mereka tidak perlu khawatir kekurangan asupan gizi. Kini hasil olahan sorgum memang belum dipasarkan untuk menambah penghasilan keluarga. Namun, dengan adanya samurai 2 yang dapat diolah menjadi penganan kaya gizi, kesempatan itu semakin terbuka.

Iradiasi
Pemanfaatan batang tanaman samurai 1 juga menguntungkan peternak sapi. Pardi, peternak sapi di Kecamatan Tepus, Gunung Kidul yang menanam samurai 1, merasakan berkah itu. “Sebelumnya saya harus menjual sapi untuk membiayai pakan sapi yang lain. Sekarang kebutuhan hijauan tercukupi dari batang sorgum,” ujar Pardi. Meskipun sohor sebagai penghasil sapi berkualitas tinggi dan mengirim ke berbagai daerah, peternak Tepus selalu menghadapi kendala kekurangan pakan ternak pada musim kemarau.

Dari bahan baku menjadi olahan bernilai ekonomi tinggi. (Kiri ke kanan) biji, beras, menir, tepung, pati sorgum.
Dari bahan baku menjadi olahan bernilai ekonomi tinggi. (Kiri ke kanan) biji, beras, menir, tepung, pati sorgum.

Samurai 1 dan 2 keturunan varietas zhengzu dari Tiongkok yang diradiasi sinar gamma. “Kelebihan aplikasi teknologi iradiasi dalam pembentukan bibit unggul adalah kecepatan waktu dan tingkat keragaman yang lebih tinggi daripada pemurnian atau penyilangan secara konvensional,” ujar Sihono. Peneliti tinggal menyeleksi sesuai tujuan akhir penelitian dan sifat benih yang diinginkan.

Sihono merakit samurai 1 dan 2 sejak 2011. Ia mengobservasi lalu menyeleksi benih dengan melihat keragaman di lapangan. Proses itu memerlukan waktu sekitar 3 bulan. Benih terseleksi kemudian menjalani uji lapang di Gunung Kidul. Untuk mendapatkan sifat tanaman yang stabil, Sihono melakukan pengujian hasil sampai 7 kali masa panen. Penelitian secara keseluruhan memerlukan waktu 3,5 tahun sampai akhirnya varietas unggul baru itu dilepas ke masyarakat pada Februari 2014.

Menurut Ir M Yasin H Gaffar MS, peneliti sorgum di Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Sulawesi Selatan, sekarang terjadi pergeseran wilayah produsen sorgum. Semula sorgum alias jagung cantel banyak ditanam di Jawa, tetapi kini daerah luar Jawa seperti Nusa Tenggara Timur atau Sulawesi pun membudidayakan tanaman itu. Sebab, ketahanan sorgum dan kemampuannya menyesuaikan dengan kondisi lahan marginal di luar Jawa. (Muhammad Hernawan Nugroho)

COVER 1.pdf

 

Previous articleJanji Laba Jahe
Next articleSaliara Jaga Buah Kopi
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img