TRUBUS — Berhenti menjadi guru kemudian berbisnis gula semut organik. Omzet Rp6 miliar per tahun.

Setiap pagi pukul 07.00 Fatih Hidayat berada di ruang guru sebuah sekolah dasar negeri di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ia bersiap mengajar pelajaran bahasa Inggris pada jam pertama. Sepulang mengajar, ia bergegas membantu ayah mertua yang bekerja sebagai pemasok gula semut di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Permintaan eksportir kian meningkat sehingga sang mertua cukup kewalahan. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar alumnus Universitas Terbuka itu mencari pasokan gula semut ke pelosok, bahkan hingga area kaki Gunung Slamet. Tak heran jika pada tengah malam pun ia masih berada di rumah petani kelapa yang memproduksi gula semut.
Ekspor sendiri
Fatih mengamati usaha gula semut mertuanya berprospek cerah. Permintaan eksportir kian meningkat. Saat itu pada 2017 ia berstatus sebagai guru honorer sejak 2011. Fatih pun membuat keputusan besar mengundurkan diri sebagai guru dan merintis usaha gula semut organik sendiri pada 2017. Ia mendirikan perusahaan CV Permata Satria. “Terbuka peluang ekspor semula dari mertua,” kata Fatih mengenang.
Laki-laki berusia 31 tahun itu mengambil jalan berbeda. Ia ingin mengekspor sendiri tanpa melalui perantara. Ia menyulap rumahnya di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas sebagai kantor sekaligus tempat produksi. Tahun pertama cukup berat. Ia baru sanggup memasok gula cetak untuk salah satu produsen makanan instan dalam negeri.
Namun, ia tak menyerah. “Sebisa mungkin kami mandiri. Kami punya petani dan kami kembangkan petani,” kata Fatih. Menurut Fatih banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan ekspor sendiri. Ia bisa menstabilkan harga di tingkat petani dan mudah mengontrol kualitas sebab jarak dengan petani lebih dekat.

Selain itu, ia mengamati peluang pasar domestik masih kurang sebab preferensi masyarakat masih menyukai gula putih. Peluang ekspor masih sangat besar. Ia pun berniat menggarap pasar retail mancanegara dengan serius. Kini pabriknya mampu memproduksi 2,5 ton per hari setara 75 ton per bulan. “Saat ini ada sekitar 40 karyawan. Bagian produksi menambah karyawan setiap tahun karena produksi juga tambah banyak,” kata Fatih.
Pada tahun sebelumnya hanya ada 20 karyawan. Itu turut menandakan bisnis Fatih tengah bertumbuh. Fatih memerlukan setidaknya 3 ton bahan baku berupa gula semut basah per hari agar mampu memenuhi permintaan ekspor. Bahan baku itu berasal dari berbagai sentra kelapa di Banyumas dan Purbalingga.

Mengusung label Java Coco, Fatih memasok negara-negara di hampir semua benua. Sebut saja Singapura, Jerman, Belanda, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Uni Emirat Arab, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Ia tengah menjajaki kerja sama dengan pembeli di Rusia. Perniagaan gula semut itu memberikan omzet fantatstis. Pada 2020 omzet Fatih mencapai Rp6 miliar dalam setahun atau meningkat 20% dari tahun sebelumnya.
Omzet itu lebih besar dibandingkan dengan pendapatan sebagai Umar Bakri—julukan untuk orang yang berprofesi sebagai guru. Kini ada sekitar 300 petani mitra yang tersebar di Kabupaten Purbalingga, Kebumen, dan terbanyak di Banyumas. Fatih mengatakan, “Target 2021 kami bisa tambah 300 petani baru
sehingga total petani mitra sekitar 600 orang.”
Jaminan pasar
Sejatinya tak mudah meyakinkan petani di eks karesidenan Banyumas. Musababnya tiga tahun belakangan ada beberapa oknum perusahaan yang mendatangi petani dan menjanjikan pasar. Namun, mereka hanya memanfaatkan petani untuk memuluskan sertifikasi organik. Sesudah itu, mereka pergi begitu saja tanpa menampung gula semut petani. Itu membuat petani marah dan sulit percaya pada perusahaan yang datang mengajak kerja sama.
Prihatin dengan hal itu, Fatih pun gigih mengedukasi petani tentang cara produksi yang baik dan benar agar menghasilkan gula semut organik berkualitas. Perlahan upayanya membuahkan hasil. Petani yang mulanya setor hanya 300—500 kg per pekan meningkat menjadi 3 ton. Salah satunya pengepul di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Kholil. Itu lantaran Fatih mampu memberi kepastian harga dan jaminan pasar. (Sinta Herian Pawestri)
