Bawang merah masih menjadi salah satu komoditas strategis nasional pada 2026. Kementerian Pertanian menargetkan produksi bawang merah mencapai 2 juta ton.
Target tersebut sejalan dengan prediksi Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas), Ir. Soekam Parwadi.
Menurut Soekam, bawang merah bersama cabai telah lama menjadi komoditas pemicu inflasi sehingga terus mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Cabai dan bawang merah secara historis kerap memicu inflasi di berbagai daerah,” ujarnya.
Salah satu contoh terjadi di Sumatera Barat. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat bahwa cabai merah dan bawang merah menjadi penyumbang inflasi pada Agustus 2025.
Secara umum, inflasi di Sumatera Barat pada Agustus 2025 tercatat sebesar 0,52% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, secara tahun kalender Januari–Agustus 2025, inflasi mencapai 2,59%.
Adapun secara tahunan, inflasi Agustus 2025 terhadap Agustus 2024 tercatat sebesar 2,89%.
Selain bawang merah, Soekam juga menilai wortel berpotensi menjadi komoditas prospektif pada 2026. Namun, wortel yang dimaksud bukan hasil budidaya dengan penanganan pascapanen konvensional, melainkan wortel dengan teknologi pascapanen modern.
“Saat ini mulai banyak petani yang menerapkan pascapanen modern, mulai dari penentuan usia panen, sortasi, pengkelasan, pencucian, pengemasan, hingga branding,” tutur Soekam. Menurutnya, penerapan teknologi tersebut akan membuat pasar wortel semakin bergairah di masa mendatang.
Meski demikian, wortel dengan penanganan pascapanen modern memiliki harga sedikit lebih tinggi dibandingkan wortel konvensional. Namun, konsumen dinilai lebih memilih wortel modern karena lebih efisien. Pada wortel konvensional, tingkat konsumsi biasanya hanya sekitar 50–75 persen, sementara sisanya terbuang atau menjadi pakan ternak. Sebaliknya, wortel dengan penanganan pascapanen modern dapat dikonsumsi hingga 100 persen.
