Trubus.id – Horidatul Bariyah mengolah nira menjadi aneka produk gula aren yang diincar oleh pasar lokal hingga internasional. Horidatul Bariyah mengembangkan bisnis olahan gula aren.
Ia bersama dengan suaminya merintis bisnis sejak 2017. Semua produk yang dihasilkan oleh Horidatul sudah mengantongi sertifikat NIB, PIRT, TKDN, dan Halal.
Proses pengolahan gula aren yang dihasilkan oleh PT Rumah Produksi Hennahuafiz ada di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Horidatul mengandalkan bahan baku dari kebun pribadi yang ada di Kabupaten Banjar.
“Total terdapat 25 pohon nira di Kabupaten Banjar,” ujar Horidatul. Namun, jumlah tanaman yang sudah produktif mengeluarkan nira berjumlah 10 batang.
Pasokan itu masih kurang untuk memenuhi kebutuhan produksi harian. Horidatul menjalin kerja sama dengan petani mitra.
Terdapat 40 pohon yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Jumlah itu terdiri dari pohon milik pribadi dan pohon milik petani mitra.
Rata-rata setiap petani mitra memiliki 4—5 tanaman nira. Horidatul membeli nira dengan harga Rp2.500 per liter.
Namun, apabila petani mitra mau mengolah menjadi gula aren bijian, pendapatan lebih tinggi. Horidatul membeli gula aren bijian dengan harga Rp19.000—Rp20.000 dari pekebun.
Jadi selain memproduksi sendiri, Horidatul juga menampung gula aren bijian dari pekebun. Alih-alih untuk melakukan pemberdayaan terhadap pekebun.
Horidatul menyerap semua nira dan gula aren bijian yang dijual oleh pekebun. Syaratnya produk hasil olahan harus berkualitas.
Horidatul menghendaki gula aren bijian dengan kelas A yakni saat dipotong teksturnya terasa lembut. Selanjutnya gula aren bijian itu diolah menjadi gula semut aren dan gula cair.
Dalam pembuatan gula semut aren, Horidatul lebih suka menggunakan proses alami. “Pengeringan alami menggunakan sinar matahari memiliki kualitas lebih bagus,” ujar Horidatul.
Keringnya terasa lebih renyah dan aroma khas nira tetap melekat. Menurut Horidatul hal itu menjadi daya tarik produknya digemari oleh konsumen.
Sebenarnya ia memiliki oven untuk pengeringan. Namun, pengeringan menggunakan oven tidak praktis.
Bandingkan dengan 50 kg gula aren bijian yang telah dihancurkan membutuhkan waktu 2 hari untuk menjadi gula semut aren. Sementara pengeringan menggunakan pengering alami membutuhkan waktu 1 hari saja.
Penggunaan oven cocok apabila cuaca sedang tidak mendukung. Dalam proses produksi gula aren, Horidatul dibantu oleh 4 karyawan.
Untuk rencana di masa mendatang, Horidatul ingin mengembangkan proses pemberdayaan kepada pekebun. Tujuannya supaya pasokan bahan baku tetap aman.
Selain itu, tekad Horidatul untuk meningkatkan pendapatan pekebun bisa terwujud.
