Trubus.id—Tanaman dungus iwul dapat ditemui di Cagar Alam (CA) Dungus Iwul di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Peneliti palem di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Himmah Rustiami, dalam Berita Biologi, menyatakan, iwul (Orania sylvicola) tumbuh berkelompok.
Nibong bayas—sebutan iwul oleh masyarakat Belitung—dapat tumbuh setinggi 9 m, memiliki batang berdiameter 26 cm, dan jarak antarruas 16,8 cm. Upih daun iwul berbentuk belahan hingga ke dasar berhadapan dengan tangkai daun.
Menurut Himmah daun iwul menyirip dengan anak daun tersusun beraturan. Sementara perbungaan ibul— sebutan lain iwul oleh masyarakat Belitung—di antara dedaunan. Tanaman yang tersebar di Thailand, Kalimantan, Sumatra, Jawa, Bangka, dan Belitung itu memiliki buah berbentuk agak bulat serta licin.

Salah satu faktor iwul tersebar di CA Dungus Iwul yakni meningkatnya tempat bertengger dan makan kelelawar akibat terbukanya area hutan. Hewan nokturnal itu pernah terlihat menggigit dan mengisap sari kulit buah iwul tua.
Kelelawar merupakan penyebar biji yang efektif di dalam hutan. Biji yang dimakan kelelawar juga terhindar dari patogen sehingga mempercepat perkecambahan. Apalagi tipe perkecambahan iwul termasuk hipogeal sehingga menguntungkan tanaman itu.
Pada perkecambahan hipogeal, kotiledon dan biji terpisah oleh bagian seperti tabung (remote tubular). Bagian itu mendorong benih ke bawah tanah sehingga terlindung dari lingkungan kering.
Remote tubular mengangkat dan melengkungkan biji iwul di lingkungan basah sehingga terhindar dari pembusukan akibat air tanah yang berlebihan. Pertumbuhan yang relatif lambat membuat iwul ternaungi oleh tumbuhan pionir seperti liana. Kondisi itu justru baik bagi iwul yang membutuhkan naungan saat berkecambah. Baca juga Iwul di Cagar Alam Dungus Iwul.
