Trubus.id— Pekebun kakao di Desa Sepe, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, Raden Saleh Bantau sukses memanen kakao dengan produksi yang berlipat. Ia menghasilkan rata-rata 60 kg biji kakao kering per bulan dari kebun seluas 40 are (4.000 m2 ) yang berpopulasi 200 pohon.
Sebelumnya pekebun kakao itu hanya menghasilkan rata-rata 35 kg biji kakao kering per bulan. Artinya jumlah produksi biji kakao kering dari kebun Raden meningkat 58%. Rahasianya perawatan intensif. Raden memberantas gulma sehingga kebun lebih bersih dan enak dipandang.
Kebersihan kebun juga dapat mengendalikan hama dan penyakit kakao. “Jika kebun kotor, hama dan penyakit mudah berkembang biak,” kata pekebun kakao sejak 2013 itu. Selain pembersihan lahan, Raden juga melakukan pemangkasan.
Ia hanya menyediakan 3—4 cabang utama. Dengan begitu tanaman kakao dapat terpapar sinar matahari lebih merata. Pemangkasan juga mendorong pembentukan daun baru, merangsang pembungaan, serta pembentukan buah kakao.
Oleh sebab itu, pembuatan percabangan sangat penting karena berhubungan dengan jumlah buah yang dihasilkan. Ia memelihara cabang sebaik-baiknya agar dapat menghasilkan tajuk yang tidak terlalu tinggi.
Raden juga rutin melakukan pemupukan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi buah. Ia memberikan 150 gram campuran pupuk Phonska dan SP-36 dengan perbandingan 5:2 per pohon. Pemupukan dua kali setahun.
Ia membenamkan pupuk itu dalam tanah agar tidak mudah menguap dan tidak terlalu banyak pupuk yang dibutuhkan. “Pemupukan biasanya pada awal musim hujan,” kata Raden. Ia juga memberikan pupuk tambahan berupa pupuk organik cair yang disemprotkan setiap dua pekan.
Dosisnya 10 ml per tangki 16 liter. “Dengan perawatan tanaman intensif, penyakit busuk buah kakao dapat dihindari,” kata Raden. Kakao matang dan siap panen setelah 4—5 bulan sejak berbunga.
Ia memanen kakao menggunakan gunting setek atau gunting pangkas dan menyisakan tangkai dengan panjang sekitar 1—1,5 cm untuk menjaga kualitas buah.
Sebelumnya ia memanen dengan cara memutar buah. Kemudian ia memisahkan biji dari buah yang dipanen. Lantas selanjutnya ia memeram (fermentasi) biji. Raden menjemur biji di atas jaring peneduh.
