Thursday, August 18, 2022

Rimpang Hebat Temulawak

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Temulawak terbukti berefek imunomodulator kuat.

Seduhan temulawak dapat meningkatkan daya tahan tubuh. (Dok. Trubus)

Trubus — Korea punya ginseng, Malaysia mengandalkan pasak bumi, Indonesia memiliki temulawak. Guru besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Sidik, Apt. menuturkan khasiat rimpang temulawak amat beragam. Rimpang anggota famili Zingiberaceae itu manjur mengatasi masalah sistem pencernaan, masuk angin, peradangan sel, hingga mencegah kanker.

Khasiat lain rimpang temulawak sebagai imunomodulator. Riset konsumsi temulawak sebagai herba tunggal menunjukkan efek imunomodulator cukup tinggi. Itu hasil riset Damriati Azimah dan rekan dari Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mereka membandingkan efek imunomodulator ekstrak etanol temulawak Curcuma xanthorrhiza, sambiloto Andrographis paniculata, dan campuran keduanya pada sel limfosit mencit.

Antioksidan tinggi

Rimpang temulawak tanaman asli Indonesia. (Dok. Trubus)

Daya imunomodulator merujuk pada kemampuan sel untuk berproliferasi—memperbanyak diri. Indikatornya menggunakan nilai optical density (OD). Makin besar nilai OD, maka efek imunomodulator makin tinggi. Setelah 24 jam perlakuan, ekstrak temulawak 0,75 mg/ml pelarut memiliki efek imunomodulator tertinggi dibandingkan dengan ekstrak sambiloto dan campuran keduanya.

Nilai OD hari pertama hingga ketiga ekstrak temulawak yakni 0,755; 0,709; dan 0,627. Meski demikian, campuran ekstrak temulawak 0,56 mg dan sambiloto 0,18 mg per 1 ml pelarut memiliki efek yang relatif stabil dari hari pertama hingga ketiga pengamatan. Masing-masing memiliki nilai OD sebesar 0,691; 0,726; dan 0,519. Artinya temulawak dapat berperan sebagai imunomodulator baik sebagai herbal tunggal maupun kombinasi.

Rimpang temulawak mengandung senyawa aktif kurkuminoid yang berfungsi sebagai antioksidan, antivirus, antiinflamasi, dan antikanker. Menurut Badrunanto dari Program Studi Kimia Institut Pertanian Bogor, ada tiga senyawa turunan kurkuminoid dalam rimpang temulawak yakni kurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan demetoksikurkumin.

Temulawak mengandung senyawa aktif kurkuminoid dan xanthorrhizol. (Dok. Trubus)

Kurkumin paling dominan dan memiliki aktivitas farmakologis tertinggi. Meski demikian, Badrunanto mengatakan aktivitas faramakologis temulawak berasal dari efek sinergi ketiga kurkuminoid itu. Pebriana Dian Ermawati dari Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi, Surakarta, Jawa Tengah, menyebutkan adanya 32 komponen minyak asiri dalam rimpang asli Indonesia terutama Pulau Jawa itu.

Komponen itu antara lain phelandren, kamfer, borneol, xanthorrhizol, turmerol, dan sineal. Pebriana menjelaskan secara umum komponen itu meningkatkan produksi getah empedu dan menekan pembengkakan jaringan. Riset Siyeon Kim dan rekan-rekan dari Departemen Biologi, Yonsei University, Korea Selatan, menunjukkan kandungan xanthorrhizol ekstrak temulawak tergolong melimpah.

Siyeon menyebutkan, ekstrak temulawak mengandung 30% salah satu komponen minyak asiri itu. Menurut Sidik secara umum kandungan utama temulawak antara lain zat tepung sebesar 48—59,6%, kurkumin 1,6—2,2%, dan minyak asiri 1,4—1,6%.

Kombinasi JKT

Prof. Dr. Sidik, Apt., guru besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.(Dok. Trubus)

Khasiat lain temulawak sebagai antikanker sebagaimana pengalaman Sutirah. Benjolan sebesar jempol muncul di payudara kiri Sutirah. Ia merasakan nyeri dan panas di dada terutama sekitar benjolan. Perempuan berusia 47 tahun itu lantas mengonsumsi kapsul temulawak atas sara herbalis. Ia disiplin mengonsumsi 5 kapsul tiga kali sehari. Total 15 kapsul ia konsumsi dalam sehari.

Berselang 10 hari, benjolan itu mengempis dan lunak. Tidak ada lagi rasa nyeri atau panas di area sekitarnya. Sutirah melanjutkan konsumsi kapsul temulawak untuk membersihkan sel kanker yang tersisa. Selain kapsul, masyarakat dapat mengonsumsi paduan jahe, kunyit, temulawak alias JKT. “Boleh ditambahkan madu atau gula aren dan daun kencur,” kata Prof. Sidik. Kombinasi minuman herba itu bagus untuk menjaga daya tahan tubuh.

Meski terbukti memiliki segudang khasiat, pamor temulawak masih kalah dibandingkan dengan jahe dan kunyit. Produksi temulawak sebagai biofarmaka masih jauh di bawah jahe dan kunyit. Data statistik yang dihimpun Sidik menunjukkan produksi nasional temulawak 25.572 ton pada 2018. Jumlah itu meningkat 4,11% dari total produksi tahun sebelum yakni hanya 24.561 ton.

Jahe masih menduduk nomor wahid produksi rimpang nasional. Pada 2018 total panen mencapai 207.411 ton jahe. Sementara itu produksi kunyit nasional 203.457 ton tahun 2018. Ekspor temulawak tahun 2016 mencapai 8.309 ton dengan nilai US$11,7 juta. Tujuan utamanya antara lain India, Malaysia, dan Singapura. (Sinta Herian Pawestri)

Previous articleKiat Sehat Santap Tomat
Next articleVCO Versus Covid-19
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img