Tuesday, May 19, 2026

Teh Tayu Warisan Pulau Timah

Rekomendasi
- Advertisement -

Teh sinensis dataran rendah, hanya 10 km dari pantai.

Pohon teh tayu tumbuh di dataran rendah berjarak tidak sampai 10 km dari pantai.(Dok. Sugia Kam)

Trubus –– Li Po On bergegas memacu kendaraan dari tempat kerja begitu jam kerjanya habis. Aon, nama panggilannya, ke kebun di di Dusun Tayu, Desa Ketap, Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Di sana tumbuh 2.000 pohon teh. Setiap 10 hari ia mendapat 30 kg daun segar—setara 5—7 kg daun siap seduh setelah melewati proses sangrai dan fermentasi. Kebun Aon bukan di kaki gunung seperti lazimnya kebun teh lain di tanah air. Lahan tempatnya menanam teh berjarak tidak sampai 10 km dari garis pantai Pulau Timah itu.

Pegiat teh tayu, Sugia Kam. (Dok. Sugia Kam)

Ketinggian tempat itu 0—10 m di atas permukaan laut, Aon bukan satu-satunya orang yang menanam teh varietas sinensis itu. Pegiat teh Bangka Barat, Sugia Kam, menyatakan, ada 16 pekebun teh di Dusun Tayu. Masyarakat Tayu, utamanya etnis Tionghoa, menanam teh sejak Belanda mendatangkan leluhur mereka sebagai kuli pertambangan timah pada abad ke-18.

Tanpa spatula

Pekebun teh
tayu turun
temurun, Li Po
On.

Menurut Sugia teh salah satu komponen peribadatan. Itu sebabnya biji teh menjadi salah satu barang bawaan wajib imigran Tiongkok zaman dahulu. Mereka menanam biji-biji itu di tempat baru untuk memenuhi kebutuhan ibadah. Kebutuhan ibadah sedikit sehingga teh itu lantas menjadi bagian konsumsi harian. Jenis sinensis cocok menjadi teh hijau. Aon (45) memetik hanya dua daun per pohon. “Daun ketiga kadang juga saya ambil tapi nanti prosesnya dipisah karena kualitasnya berbeda,” katanya.

Pengunjung warga negara Belanda belajar proses menyangrai teh tayu. (Dok. Sugia Kam)

Para pekebun di Tayu mengolah menjadi teh hijau sendiri-sendiri. Aon menyangrai tiga kali sampai daun menjadi teh siap seduh. Ia menyangrai daun dalam periuk di atas api besar berbahan bakar kayu. Sesekali ia membolak-balik daun dengan tangan tanpa spatula kayu apalagi logam. “Orang-oirang tua kami pun mengajarkan dengan tangan,” kata Sugia.

Menurut dosen Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Dimas Rahadian, S.T.P., M.Sc, dalam pembuatan teh hijau daun segar harus segera diolah agar tidak terjadi oksidasi. Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Dadan Rohdiana, S.T., M.P. menyatakan, oksidasi adalah pembeda teh hijau dan teh hitam. “Teh hijau tidak mengalami oksidasi sehingga tidak mengandung zat teaflavin,” katanya.

Pengolah mengertiting daun panas dengan tangan. (Dok. Sugia Kam)

Aon menyangrai pertama selama lima menit untuk melayukan daun. Setelah itu ia mematikan api atau memindahkan periuk ke tampah. Proses selanjutnya penggulungan di tampah itu. Ia menyebutnya pengeritingan. Daun teh panas dari periuk dibolak-balik dengan tangan. Bentuk daun teh yang semula lembaran kusut menjadi agak keriting maupun menggulung. Tangkai daun pun terpisah. Pascapenggulungan itu ia langsung melanjutkan ke penyangraian kedua. Kadang-kadang ia mendiamkan maksimal tiga jam.

“Bisa berhenti untuk makan atau istirahat sebentar,” katanya. Dalam penyangraian kedua selama 20 menit itu Aon mengatur agar nyala api sedang. Lagi-lagi pengadukan daun di periuk menggunakan tangan. Selanjutnya tahap sortasi, memisahkan daun pucuk (peko) dan daun ketiga (jikeng). Setelah sortasi ia menyimpan daun selama 2—3 hari. Aon menyangrai ketiga selama satu jam dengan api kecil. Kali itu pembalikan daun di periuk boleh menggunakan spatula. Penyangraian daun hasil sortasi harus terpisah karena kualitasnya berbeda.

Rasa superior

Aon mengolah dan menjual daun teh secara turun temurun. Ia menjual daun teh melalui pedagang di Kota Pangkalpinang, Bangka. Kini ia bekerja sama dengan Sugia untuk menjadikan teh tayu sebagai salah satu cendera mata khas Pulau Bangka. Sugia menerapkan standar ketat, salah satunya dengan memastikan proses pengolahan baik sehingga teh bebas aroma gosong. Sugia mengemas dalam kemasan pouch berisi 100 g teh hijau seharga Rp40.000.

Dokter Ase Ardianto (berkaus merah) mengunjungi pengolahan teh tayu. (Dok. Sugia Kam)

Padahal soal rasa, menurut Sugia, lebih enak ketimbang semua teh yang pernah dicicipinya. Pehobi piknik yang pernah magang dua pekan di sebuah kafe di Inggris itu mencicipi teh di Amerika, Malaysia, Singapura, dan London. “Orang Inggris yang punya budaya minum teh saja keenakan setelah saya persilakan mencicipi,” kata alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Trisakti itu.

Warga Bangka juga terbiasa minum teh tayu sehingga mereka sering terkejut ketika mencicipi teh dari tempat lain. “Semua bilang rasa teh tayu lebih enak,” kata Sugia. Dokter umum di Kota Pangkalpinang, pegiat sosial kemasyarakatan, sekaligus pehobi durian, dr. Ase Ardianto menyatakan secangkir teh tayu efektif meredakan mabuk durian. Aktivis gerakan Durian Taveler itu kerap mengajak pehobi durian dari seluruh Indonesia untuk menikmati durian cumasi khas Bangka.

“Pernah ada pehobi yang makan durian berlebih sampai mabuk tidak bisa berdiri. Setengah jam setelah saya beri teh tayu, ia pulih,” katanya. Menurut tea entrepreneur dan juara National Tea Championship 2019, Galung Atri, penanaman di dataran rendah menjadikan rasa teh lebih kuat di bagian body alias ketebalan sedangkan rasa dan aroma tidak sekuat teh dataran tinggi. Walau demikian, teh warisan etnis Tionghoa Hakka itu menjadi pilihan utama warga Tayu untuk ngeteh. (Argohartono Arie Raharjo)


Artikel Terbaru

Waspadai Hantavirus, Penularannya Berkaitan dengan Tikus

Trubus.id-Pakar entomologi kesehatan dari IPB University mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus tanpa menimbulkan kepanikan. Virus zoonosis itu...

More Articles Like This