Trubus.id — Mengolah jamur menjadi tepung merupakan salah satu cara menaikkan nilai tambah. Itulah yang dilakukan Helmi Nurjamil, produsen jamur tiram di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Untuk memproduksi tepung jamur, mula-mula Helmi menyortir jamur segar agar sesuai hasil yang diinginkan.
“Jamur harus segar. Tidak boleh yang sudah berair atau kuning. Jamur juga tidak boleh terlalu basah,” kata Helmi.
Cara mengecek jamur terlalu basah atau tidak, cukup dengan memegangnya saja. Kalau setelah memegang jamur tangan kita tidak basah, berarti sudah cukup. Jika tangan masih basah, jemur jamur terlebih dahulu.
Helmi juga menyuwir jamur agar memudahkan pemrosesan. Setelah bahan baku siap, masukkan suwiran jamur ke mesin dehydrator dengan mekanisme panas udara selama 8–10 jam dan bersuhu 600°C.
Mesin dehydrator merupakan alat hasil modifikasi Helmi sendiri dan masih belum ada di pasaran lokal.
“Semua bahan-bahan dari mesin dan peralatan yang kita pakai harus food grade atau berbahan stainless steel,” kata pebisnis jamur tiram sejak 2018 itu.
Setelah pemanasan, Helmi memasukkan jamur tiram ke dalam mesin penepung dengan ukuran 200 mesh. Selanjutnya, ia mengemas tepung jamur ke dalam wadah plastik dan membungkusnya dengan boks karton atau kardus.
Helmi menghitung dari 1 kg jamur segar menghasilkan 100 gram tepung jamur. Dengan produksi yang baik, tepung jamur itu bertahan hingga dua tahun. Saat ini Helmi memproduksi sekitar 1 ton tepung jamur setiap bulan, padahal permintaan yang datang mencapai 3 ton per bulan.
“Ada tiga perusahaan yang meminta pasokan masing-masing 1 ton per bulan. Namun karena terkendala bahan baku, kami hanya bisa memproduksi 1 ton per bulan untuk dibagi-bagi ke tiga perusahaan itu,” kata Helmi.
Menurut Helmi, kebutuhan tepung jamur untuk pasar lokal dan ekspor masih sangat tinggi. Sayangnya, produsen tepung jamur dalam negeri masih terbatas dari segi teknologi sehingga spesifikasi tepung jamur yang baik belum memenuhi.
Lebih lanjut ia menuturkan, tepung jamur memiliki karakter berbeda dibanding tepung komersial lain seperti singkong dan gandum. Tepung lain tinggi karbohidrat, sedangkan tepung jamur sarat protein. Sebanyak apa pun dikonsumsi, tidak bikin gemuk dan tinggi kolesterol karena bukan lemak jenuh. Salah satu pemanfaatan tepung jamur adalah sebagai kaldu dan campuran sereal bayi.
Menurut Heptari Elita Dewi, S.P., M.P., pengajar agribisnis di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, pengolahan jamur tiram menjadi tepung memberikan banyak keuntungan. Jamur lebih awet. Biaya distribusi produk dan penyimpanan lebih hemat dibanding jamur segar karena tidak memakan tempat.
