Trubus.id–Inovasi jamur tiram selalu berkembang dari bagian hulu hingga hilir. Kini jamur tiram tidak hanya dijual segar, Ali Mustofa memiliki cara berbeda untuk menjual hasil panennya.
Petani jamur tiram di Desa Ngembes, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, itu mengolah jamur menjadi tepung. Ali mengeringkan sekitar 2.000 kg jamur tiram segar hingga berkadar air 14%.
Setiap 10 kg jamur tiram segar menjadi 1 kg tepung sehingga Ali memperoleh 200 kg tepung. Ia menjual 100—200 kg tepung jamur tiram kepada eksportir di Jakarta setiap pekan.
“Permintaan rutin 500 kg per pekan,” kata petani jamur tiram sejak 2010 itu.
Sayangnya, permintaan itu terhenti. Musababnya pembeli menginginkan pasokan dalam jumlah yang besar dan berkelanjutan. Sementara pasokan jamur tiram hasil panen Ali masih terbatas.
Pengeringan jamur tiram juga masih tradisional yakni menggunakan sinar matahari. Tentu saat musim hujan pengeringan terkendala. Padahal harga tepung jamur tiram tergolong tinggi.
Saat itu Ali menjual tepung jamur tiram Rp200.000 per kg. Eksportir menjual tepung jamur tiram ke Tiongkok. Bandingkan dengan harga jamur tiram segar yang hanya Rp12.000 per kg.
Menurut Ali prospek bisnis jamur tiram masih cerah di masa mendatang. Ia juga memasok baglog jamur tiram (Rp2.200 per baglog) ke beberapa petani di sekitar Kabupaten Pati.
Selain memasarkan jamur segar, petani muda asal Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah Nur Adilatus Shidqiyah, S.Tr.P juga membuat olahan keripik dan kaldu jamur.
Dila dapat memasarkan 300— 500 kemasan keripik jamur saban bulan ke pasar modern di Provinsi Bali, Provinsi DKI Jakarta, dan Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Setiap kemasan berisi 75 gram seharga Rp15.000.
“Saat Lebaran keripik jamur bisa terjual 3 kuintal,” ujar pengelola jamur tiram sejak 2019 itu.
Sementara produksi kaldu jamur baru sesuai pemesanan. Ia menjual Rp25.000 per botol (80 gram).
Tren
Sebenarnya bisnis jamur tiram sudah mulai eksis sejak belasan tahun silam. Pada Juni 2010 Trubus pernah mengulas mengenai topik jamur tiram (Baca Majalah Trubus edisi Juni 2010).
Trubus juga menyoroti perkembangan kumbung jamur tiram di dataran rendah. Lazimnya budi daya jamur tiram di lokasi berhawa sejuk bersuhu kurang dari 30°C. Keberadaan jamur tiram di Jabodetabek makin menggairahkan bisnis jamur tiram.
Ade Eri Surahman membudidayakan jamur tiram di lokasi berjarak 500 meter dari pantai. Lokasi kumbung 0—20 meter di atas permukaan laut di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Ade membangun tiga kumbung berukuran 5 m x 12 m berkapasitas 4.000—12.000 baglog. Ia memetik 10—20 kg jamur tiram per hari.
“Kunci membudidayakan jamur tiram di dataran rendah menggunakan bibit jamur dataran rendah,” ujar Ade.
Kemudian pada Juli 2022, Majalah Trubus kembali mengangkat topik jamur tiram dengan perkembangan berbagai inovasi (baca Trubus edisi Juli 2022).
Contoh salah satu Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) Jamur Nusa Indah (JNI) yang mengolah jamur tiram menjadi kaldu dan keripik. Meskipun berlokasi di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, produk JNI melanglang buana hingga ke negara-negara di Eropa.
