Domba baru memiliki karkas 47—50%. Kelebihan lainnya laju pertambahan bobot badan 60 g per hari.
Trubus.id—Tubagus Bahrul Hilmi takjub mendapati bobot anak domba yang baru lahir 3 kg per ekor. Lazimnya bobot lahir anak domba lain hanya 2,5 kg per ekor. Cempe atau anakan domba bongsor itu hasil perkawinan domba lokal betina dan pejantan komposit garut agrinak.
Peternak di Desa Mekarsari, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, itu memelihara beberapa domba komposit garut agrinak jantan. Ia memperoleh domba itu dari Balai Pengujian Standar Instrumen (BPSI) Unggas Dan Aneka Ternak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 2021.
Bahrul memberikan pakan konsentrat hijau 10% dari bobot badan setiap hari. Domba komposit garut agrinak itu hasil pemuliaan peneliti di Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ismeth Inounu, M.Si.
Bongsor
Ismeth menuturkan bobot tubuh domba komposit agrinak berumur setahun yakni 30,0—35,5 kg dengan pertambahan bobot tubuh harian pada usia 9—12 bulan sekitar 60 g. Bandingkan dengan pertumbuhan pascasapih domba lainnya di Indonesia hanya 50 g per hari.
Domba komposit garut agrinak mencapai bobot badan 35 kg pada usia 14—15 bulan, sementara domba lokal pada umur 25 bulan. Jumlah anak komposit garut agrinak setiap kelahiran rata-rata 1,5—1,8 ekor per induk dengan bobot lahir 2,9 kg dan bobot sapih 12,1—13,2 kg.
“Domba persilangan itu juga dapat beradaptasi pada berbagai ekosistem sehingga cocok untuk dikembangkan sebagai domba komersial,” kata Ismeth.

Selain itu domba komposit garut agrinak memiliki persentase karkas—bagian domba yang dapat dikonsumsi selain kepala, kaki, jeroan, dan kulit—tinggi yakni 47— 50%. Bandingkan dengan lomba lokal lain hanya 45%.
Produksi susu komposit garut agrinak juga mencukupi kebutuhan anak domba yakni 44,8—54,7 kg/laktasi. Produksi susu domba lokal mencapai 43,6 kg per induk per laktasi.
Ismeth menuturkan nama komposit digunakan karena domba itu merupakan campuran dari beberapa bangsa domba. Domba anyar itu memiliki konversi rasio pakan (FCR) 10,7. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging, menghabiskan 10,7 kg pakan.
Ismeth menyarankan, pemberian pakan sebaiknya mengandung 14% protein kasar, total digestible nutrient (TDN) sebanyak 68 % atau sekitar 2% dari bobot badan, dan pakan hijauan 10% dari bobot badan.
Enam generasi
Perjalanan domba anyar itu sejak 1995. Ismeth dan tim membidani kelahiran domba komposit garut agrinak melalui proses panjang. Ia mengawinkan pejantan saint croix (HH) dengan betina garut (GG).
Saint croix memiliki kerangka tubuh besar dan berbulu lurus sehingga cocok hidup di Indonesia yang beriklim tropis. Hasil persilangan itu melahirkan domba HG atau 50% garut : 50% saint croix.
Setahun berselang Ismeth menyilangkan domba jantan moulton charollais (MM) dengan betina domba garut (GG) melalui teknologi inseminasi buatan (IB) sehingga menghasilkan domba MG.
Moulton charollais berdaya tumbuh tinggi, sifat keindukan bagus, dan produksi susu tinggi. Kemudian Ismeth mengawinkan domba HG dan MG dan menghasilkan domba MHG atau HMG.
Selanjutnya ia mengawinkan kedua domba itu. Hasilnya komposit garut agrinak yang memiliki komposisi gen 50% domba garut, 25 % moulton charollais, dan 25% st. croix.
Ismeth dan tim membidani kelahiran domba komposit garut agrinak melalui proses panjang. Mereka menyeleksi hingga 6 generasi selama 23 tahun. Hasilnya terbukti ajek dan memunculkan sifat unggul.
Domba komposit garut agrinak memiliki postur lebih besar dibandingkan dengan tetuanya. Warna tubuh dominan putih dan cokelat pucat.
“Kadang-kadang ada bintik-bintik cokelat di daerah hidung, mata, dan kaki,” kata Ismeth.
Kepala dominan putih dengan bentuk muka cembung dan hidung melebar. Bentuk tubuh oval, silinder, dan tegap dengan punggung lurus. Adapun telinga medium mengarah ke depan. Untuk jantan sebagian besar bertanduk dan betina tidak bertanduk.
Menurut peneliti di Balai Pengujian Standar Instrumen Unggas dan Aneka Ternak, Ir. Bambang Setiadi, M.S., peruntukan domba komposit garut agrinak sebagai penghasil daging.
Hasil seleksi domba komposit garut agrinak menunjukkan rataan ukuran tubuh dan bobot badan relatif seragam dengan koefisien variasi kurang dari 10%. Untuk meraih bobot optimal pemberian pakan tepat nutrisi.
“Pola pemeliharaan domba komposit agrinak mestinya secara intensif. Pada pemeliharaan yang semi intensif kurang menunjukkan keunggulan,” kata Bambang.
Ismeth optimis masyarakat menyukai domba anyar itu lantaran menghasilkan daging yang banyak pada umur muda.
“Dari segi keempukan dan rasa sangat disukai konsumen,” tutur Magister Sains Pemulian Ternak alumnus Institut Pertanian Bogor.
Bambang menuturkan domba komposit garut agrinak, rumpun domba unggul yang stabil. Oleh karena itu, dapat disilangkan dengan domba-domba betina lokal seperti yang dilakukan Bahrul.
Melalui program inseminasi buatan, Balai Inseminasi Buatan dapat mengambil semen pejantan domba komposit garut agrinak. Agar memiliki performa stabil, domba komposit garut agrinak perlu dikelola secara intensif. (Widi Tria Erliana)
