Trubus.id— Nira aren lazim diolah menjadi gula. Pengolahan gula aren dilakukan dalam beragam bentuk, sesuai permintaan. Misalnya saja dalam bentuk gula batok dan gula semut. Perbedaan bentuk olahan itu juga menyebabkan perbedaan harga jual.
Gula semut memiliki harga jual lebih tinggi dibanding gula batok. Tingginya harga gula semut dibanding gula batok lantaran proses pengolahannya relatif lama. Selain itu, untuk mengolah gula semut memerlukan bahan baku yang lebih banyak.
Gambarannya, untuk menghasilkan 1 kg gula semut memerlukan 5—7 liter nira. Dengan jumlah bahan baku yang sama menghasilkan 2—2,5 kg gula batok. Adapaun untuk kandungan gizi gula aren lebih baik dibanding gula pasir.
Itu terlihat dari angka indeks glikemiks (IG). Indeks glikemik merupakan indikator bahan pangan dalam meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Semakin tinggi nilai IG semakin mempercepat kenaikan kadar gula darah.
Indeks glikemiks gula pasir 90, sedangkan gula aren tak sampai setengahnya, yakni hanya 35. Padahal standar aman indeks glikemiks di bawah 70. Itu artinya, gula aren lebih aman dikonsumsi dibanding dengan gula pasir.
Dibanding dengan bahan pemanis lain, gula aren juga memiliki citarasa yang khas. Gula aren memiliki aroma yang lebih wangi. Perkembangan aren dari tahun ke tahun semakin membaik.
Salah satu penyebabnya, pola hidup masyarakat yang terus membaik dengan menerapkan konsumsi makanan sehat seperti gula aren. Tren yang semakin baik itu didukung dengan munculnya varietas aren produksi tinggi dan genjah.
Adanya varietas-varietas baru itu menjadi harapan baru bagi petani. Aren menjadi komoditas yang menjanjikan. Sebuah pohon aren mampu menghasilkan minimal 10—15 liter nira setiap hari. Nira dapat dipanen setiap hari sepanjang tahun.
Jika populasi pohon aren kian banyak, petani berpeluang meraup pendapatan besar. Faktanya, selain citarasanya yang manis, bisnis aren pun juga manis.
