Saturday, April 20, 2024

Menelisik Perbedaan Jabon Merah dan Putih

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Tanaman jabon memiliki sederet keunggulan, antara lain daun sebagai pakan domba. Selain itu ulat juga tak menggemari daun jabon merah. Itu berkebalikan dengan jabon putih Anthocephalus cadamba, domba tak menyukai daunnya.

Celakanya ulat penggulung daun justru gemar menyantap daun jabon putih. Soal kecepatan tumbuh. Tidak ada perbedaan mencolok antara jabon merah dan jabon putih. Pohon samama alias jabon merah mencapai tinggi 5—6 m dan bergaris tengah 10 cm pada umur 1,5 tahun.

Samama alias jabon merah panen pada umur 8—10 tahun. Kadamba atau jabon putih hanya perlu 5—7 tahun, saat diameter batang mencapai 30 cm atau lebih. Penampilan jabon merah dan jabon putih berbeda nyata.

Daun jabon merah lebih lebar dengan helai daun penuh sampai pangkal tangkai daun. Selain lebar, daun jabon merah juga tebal dan berbulu di permukaan atas. Tulang daun muda merah sampai di ujung daun. Warna serat kayu kemerahan sehingga sebutan jabon merah melekat pada pohon anggota famili Rubiaceae itu. Ukuran biji dan bunga lebih besar dan mengkilap.

Daun lebar menguntungkan dari segi kemampuan menangkap sinar matahari. Klorofil di permukaan daun lebar lebih banyak sehingga energi hasil fotosintesis pun lebih banyak. Di sisi lain, itu juga bisa menjadi kelemahan lantaran daun lebar yang terkulai bisa menutupi daun di bawahnya.

Alih-alih meningkatkan fotosintesis, itu justru mengurangi kemampuan pohon menangkap sinar matahari sehingga pembentukan energi di bagian lain berkurang. Akibatnya pertumbuhan melambat. Namun, itu hanya terjadi jika daun tumbuh membesar sampai menjuntai akibat kelebihan pasokan unsur nitrogen.

Pada pohon yang daunnya besar secara alami, biasanya memiliki kemampuan mekanisme absisi alias pengguguran daun saat kemarau. Pada jabon, pengguguran daun terjadi di daun terbawah dengan mekanisme self pruning alias menggugurkan daun dan cabang terbawah.

Menurut peneliti di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr. Irdika Mansur, M.Sc., kemampuan menggugurkan daun terbawah terjadi karena pohon mengeluarkan hormon yang memblokade aliran air dan hara ke daun dan cabang terbawah. Setelah kering, cabang dan daun akan rontok sendiri.

“Makanya jabon—baik putih atau merah—tidak perlu pemangkasan,” kata Irdika. Saat musim kemarau, samama berpotensi menderita kekeringan karena berdaun lebar, sehingga ia mesti mengurangi jumlah daun untuk bertahan hidup. Konsekuensinya jelas, pertumbuhan melambat.

Kondisi itu mengakibatkan pertumbuhan jabon merah lebih lambat 25—40% ketimbang jabon putih. Gambarannya, “Kalau umur panen jabon putih pada umur 5—6 tahun, maka samama bisa 8—10 tahun.” Saat itu diameter batang mencapai lebih dari 40 cm sehingga tergolong kualitas A. Harga di tingkat pekebun di atas Rp1-juta per m3 .

Namun, pertumbuhan lambat terjadi hanya jika samama kekurangan air. “Kalau kebutuhan air tercukupi, pertumbuhannya sama cepat dengan kadamba,” kata Joko Tulus Sanyoto dari divisi penanaman dan kemitraan PT Kutai Timber Indonesia (KTI). Itu berdasarkan pengamatan Joko di lapangan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Resep Khusus Atasi Wereng pada Tanaman Padi

Trubus.id—Serangan wereng berulah, petani terancam gagal panen. Serangga itu hidup dengan mengisap cairan padi sehingga tanaman mengering dan mati....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img