Sunday, June 16, 2024

Peluang Pasar Daun Manis

Rekomendasi
- Advertisement -

Peluang bisnis stevia menggiurkan. Fungsinya tidak semata pemanis.

Rumah tiga petak di Kota Depok, Jawa Barat, menjadi tempat Nazrul Ran bersama 2 rekan untuk mengemas serta memasarkan stevia bermerek Stevigrow. Direktur PT Raissa Mitra Utama, produsen Stevigrow, Rahmat Tri Putranto, mengatakan, keterbatasan tempat bukan halangan beragribisnis. Di petakan itu ia tinggal bersama istri dan 4 anak sekaligus memasarkan stevia. Nazrul membantu pemasaran, sementara Firman menangani produksi.

Firman, Nazrul Ran, dan Rahmat Tri Putranto(dari kiri) berbisnis stevia.

Mereka meluncurkan 2 jenis produk, yakni gula bubuk dan teh celup. Gula bubuk dalam saset berisi 0,3 g bubuk ekstrak stevia—daun tanaman anggota famili Asteraceae sebagai sumber pemanis. Teh celup berbobot 15 g per kantong, berisi campuran teh hitam dan daun stevia kering dengan perbandingan tertentu. Sekantong teh cukup untuk 500 ml air, sedangkan 1 saset gula bubuk bisa memaniskan 250 ml air.

Kirim ke Korea

Menurut Nazrul jumlah pesanan teh celup setiap bulan tidak menentu. “Kadang hanya 100 boks, bulan berikutnya sampai 2.000 boks,” kata Nazrul. Satu boks terdiri atas 15 kantong dengan harga Rp40.000 Harga sekotak gula berisi 30 saset Rp45.000. Setiap bulan Nazrul memasarkan rata-rata 500 boks gula dan 300 kotak teh celup. Berdasarkan penjualan rata-rata, omzet bulanan Rp34,5 juta.

Rahmat memperoleh daun stevia kering dari para petani mitra di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Mitra hanya memasok daun kering. Rahmat kemudian meracik, mengemas, sekaligus memasarkan daun stevia itu. Rahmat tidak secara gamblang mengungkap persentase margin. Sebab, ia kerap mendonasikan produk maupun dana ke berbagai kalangan antara lain sekolah anak berkebutuhan khusus dan panti asuhan.

Membuat stevia celup salah satu cara praktis konsumsi stevia.

Konsumen stevia berasal dari kalangan anak berkebutuhan khusus pengidap autisme, pengidap diabetes melitus, atau pelaku pola hidup sehat. Senyawa dalam daun stevia yang menyebabkan rasa sangat manis antara lain steviosida, rebaudiosida, atau jenis glukosida lain yang aman bagi penderita diabetes atau pelaku diet.

Rahmat mempromosikan stevia buatannya melalui pameran, seminar, atau pendekatan langsung kepada penderita diabetes. Nazrul dan Rahmat, ketika tidak membantu Firman, bergerilya menawarkan produk di berbagai komunitas. Mereka juga memanfaatkan berbagai marketplace daring (online) sehingga domisili pembeli stevigrow meluas ke Bandung, Surabaya, Makassar, atau Medan. “Kami menunjuk distributor di Bandung dan Surabaya untuk menangani pemasaran di sekitar mereka,” ujar Nazrul.

Bisnis stevia Tofan Saltia Wardhana berkembang pesat.

Dua tahun kemudian, Rahmat melayani permintaan daun kering dari Korea Selatan. Ia mengirim daun kering, lalu menerima kiriman ekstrak murni. Namun, setahun kemudian, Korea menghentikan pembelian tanpa ketahuan penyebabnya. Untungnya mereka tetap menjalin hubungan baik. Sarjana Ilmu Komputer alumnus Universitas Gunadarma itu tetap membeli ekstrak stevia hingga sekarang.

Pekebun untung

Di lahan di Katulampa, Kota Bogor 3.000 m², CV One Home membudidayakan ratusan tanaman stevia. Sebagian mereka tanam langsung di lahan, di tepi petak pohon ara. Lainnya mereka tanam dalam polibag 50 cm bersama pohon zaitun. Panen perdana ketika tanaman berumur 3—6 bulan. Adapun interval panen setiap 2 bulan. Dalam setahun mereka 6—7 kali panen. Saat ini harga stevia berkisar Rp40.000— Rp60.000 per kg kering. Sekilogram kering berasal dari 2,5 kg segar.

Biaya mengebunkan stevia berkisar Rp15.000—Rp25.000 per tanaman dengan asumsi bibit harus membeli seharga Rp10.000 per batang. Makin lama masa produksi makin murah biaya. Stevia menghendaki lokasi berketinggian 300—1.000 meter di atas permukaan laut. Sekali tanam, pekebun dapat panen berulang-ulang.

Peremajaan saat tanaman berumur 5 tahun. Artinya selama periode budidaya, pekebun 30 kali memanen daun stevia. Tanaman siap panen ketika daunnya rimbun atau mulai mengeluarkan bunga. Setelah panen kemudian mengeringkan daun. Staf kebun CV One Home, Josni Kodoati mengatakan, daun kering awet simpan bertahun-tahun. Ia mengeringkan daun dalam rumah plastik di sudut kebun. “Kalau cuaca cerah, daun kering sempurna hanya dalam 3—4 jam,” katanya.

Idealnya kadar air daun tanaman anggota famili Asteraceae itu 5% agar awet. One Home membuat 2 varian teh stevia, yakni teh celup dan daun stevia kering untuk diseduh dengan air panas seperti umumnya daun teh. Teh celup mereka kemas dalam kotak berisi 20 kantong, sedangkan daun kering dalam pouch berbobot 15 g. Menurut anggota staf One Home, Yuldi Bongga, setiap bulan kedua produk itu laku sebanyak masing-masing 30—50 pak.

“Hampir semua pembeli adalah orang dengan gangguan kesehatan,” kata Yuldi. Penjualan via marketplace juga menjadi andalan produsen teh stevia di Bogor, CV One Home. Perusahaan itu memasarkan produk stevia berlabel Divine Herbal sejak 2013. Ia mengandalkan pasokan daun dari tanaman sendiri. Dari kebun itu ia memanen rata-rata 100 kg daun segar setara 40 kg kering per bulan.

Daun kering

Tanaman stevia di kebun CV One Home, produsen Divine Herbal.

Berbeda dengan Nazrul dan Yuldi, Tofan Saltia Wardhana (29 tahun) di Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, menerjuni bisnis stevia dengan menjual daun kering. Tofan memperoleh pasokan dari tanaman miliknya di kebun seluas hampir 3 ha di daerah Jawa Barat. Setiap 3 bulan, alumnus Teknik Informatika Universitas Maranatha, Bandung itu memperoleh sekitar 3 ton daun segar. Setelah pengeringan, jumlahnya menjadi 700—800 kg daun kering.

Sekitar 75% produk terjual dalam 3 bulan, sisanya ia tahan untuk melayani permintaan eceran. Tofan hanya menjual 2 bentuk, daun kering utuh seharga Rp100.000 per kg dan serbuk Rp120.000 per kg. Hasil perniagaan daun stevia, Tofan menangguk omzet minimal Rp70 juta per 3 bulan. Ia melayani penjualan partai besar maupun eceran. Untuk pembeli partai besar, ia mengemas dalam karung dengan bobot 50 kg.

Sementara itu, kemasan pembelian eceran menyesuaikan jumlah atau sesuai permintaan pembeli. “Pembeli partai besar kebanyakan dari Bandung atau Jabodetabek,” ujar bungsu dari 2 bersaudara itu. Penjualan juga sampai ke beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan, yang kebanyakan membeli eceran. Untuk ukuran bisnis yang belum genap 2 tahun, perkembangan Steviugar—label milik Tofan—pesat.

Kurang dari 3 tahun lalu, ia belajar menanam dengan luasan sekitar 1.000 m2. “Ternyata lebih mudah ketimbang menanam sayuran. Harganya pun menggiurkan,” katanya. Ia mempromosikan steviugar di dunia maya dengan kata kunci stevia bandung. Setelah permintaan membanjir, ia memperluas penanaman hingga sekarang hampir 3 ha. Semula Tofan menanam stevia sekadar untuk melayani permintaan para diabetesi. Namun, kini stevia menjadi bisnis andalan bagi Tofan.

Menurut produsen stevia Cibodas Manis di Soreang, Kabupaten Bandung, Dini Mardiani, seiring peningkatan kesadaran masyarakat, kini konsumen stevia sebetulnya bukan hanya orang yang menderita sakit tertentu seperti diabetes melitus. Orang sehat pun mengonsumsi daun stevia sebagai sumber pemanis. Di sanalah terbuka ceruk pasar yang menanti sentuhan. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berniaga Bibit Buah Naga, Pekebun di Subang dapat Cuan Puluhan juta

Trubus.id—Dedi Sumardi selalu kebanjiran pesanan ribuan bibit buah naga. Total sekitar 2.480 batang bibit yang terjual dalam sebulan.  Ia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img