Para peternak kewalahan melayani tingginya permintaan pasar, antara lain industri filet patin nasional yang terus berkembang. Waktu tepat beternak patin.

Aktivitas Bangun Adi Wahono (24 tahun) tak jauh dari kolam ikan. Peternak di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu memanen minimal 10 ton patin per bulan. Ia memasarkan ikan patin berbobot rata-rata lebih dari 800 gram per ekor itu ke produsen filet—irisan daging ikan tipis dan tanpa tulang—PT Delta Mina Perkasa di Tulungagung, Jawa Timur. Dari perniagaan patin itu, omzet Bangun Rp145 juta per bulan.
Bangun mengatakan, ongkos produksi Rp10.000 per kg sehingga laba Rp45 juta per bulan. Pasokan 10 ton itu berasal dari 25 kolam milik Bangun. Ukuran kolam rata-rata 10 m x 10 m. Selain sebagai peternak sejak 2016, Bangun juga berperan sebagai pengepul yang menjalin kemitraan dengan 10 peternak lain di Tulungagung. Itulah sebabnya omzet Bangun pun menggelembung.
Kemitraan dengan pabrik

Para peternak mitra memasok hingga 1,5 ton patin per hari—kecuali Ahad. Bangun juga memasarkan patin itu ke produsen filet. Profit penjualan ikan Pangasius hypophthalmus dari mitra memang relatif kecil, minimal Rp250 per kg. Namun, secara akumulasi keuntungan itu tetap besar. Anak sulung dari 2 bersaudara iu memperoleh tambahan laba bersih penjualan patin mencapai Rp9,3 juta per bulan.
Bangun menggunakan perusahan miliknya dan rekan sebagai pemasok patin ke pabrik filet. Oleh karena itu, keuntungan penjualan dibagi dua sehingga ia memperoleh keuntungan Rp4,6 juta. Total jenderal rekening tabungan Bangun bertambah Rp49,6 juta saban bulan. Alumnus Universitas Brawijaya itu menebar 4.000 benih patin berukuran ¾ inci di sebuah kolam 10 cm x 15 cm.
Penebaran benih biasanya untuk 3—4 kolam sekaligus. Bangun mengatakan, sintasan atau survival rates (SR) mencapai 95%. Artinya dari padat tebar itu jumlah kematian hanya 200 ekor. Sintasan yang tinggi itu lantaran ikan anggota famili Pangasiidae itu tidak bersifat kanibal seperti halnya lele. Sebagai gambaran SR lele hanya 50% tanpa penyortiran. Sudah begitu harga pakan patin relatif murah.

Menurut Bangun harga pakan patin relatif murah, hanya Rp230.000 per 30 kg. Bandingkan dengan harga pakan lele Rp280.000 dan gurami Rp240.000 untuk bobot yang sama. Bangun memanen patin pada umur 6 bulan ketika bobot ikan rata-rata lebih dari 800 gram per ekor. Rasio konversi pakan mencapai 1,3. Artinya untuk menghasilkan 1 kg patin, Bangun menghabiskan 1,3 kg pakan.
Pantas jika laba peterak patin menjulang, rata-rata hingga Rp12 juta per bulan (baca: Laba Patin Rp12 Juta Sebulan halaman 14—16). Apalagi kini produsen filet juga berupaya menjalin kemitraan denga para peternak demi kontinuitas pasokan daging.
Laba menggiurkan
Bukan hanya Bangun yang kepincut beternak patin karena adanya kemitraan. Ibnu Muslim serius beternak patin setelah ada program itu sejak 2011. Kini warga Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu memanen 5—6 ton patin per 3 bulan.
Hasil panen terakhir pada Juli 2018 mencapai 5,5 ton patin. “Keuntungan saya Rp15 juta—Rp20 juta,” kata Muslim. Bangun dan Ibnu contoh peternak patin sukses di Tulungagung. Perempuan peternak di Desa Bendiljati Wetan, Siti Nikmaziyah, merasakan betul nikmatnya beternak ikan air tawar itu.
Minimal Siti mengantongi untung Rp20 juta sebulan dari penjualan patin ke pabrik filet (Baca: Fulus dari Pangasius halaman 26—27). National Consultant for Pangasius Value Chain program Sustainable Market Access through ResponsibleTrading of Fish (SMART-Fish) Indonesia, Imza Hermawan, mengatakan munculnya peternak di Tulungagung bukti pasar patin di Pulau Jawa tumbuh.

“Itu pun bukti ada pergeseran konsumsi patin. Kini patin tidak terlalu identik dengan Pulau Sumatera,” kata Imza. Kini masyarakat di luar Sumatera, terutama di Jawa, gemar menyantap patin. Dahulu masyarakat enggan menyantap patin karena bau lumpur. Padahal, dengan budidaya yang tepat menghasilkan patin tanpa bau lumpur (baca: Patin Tanpa Bau Lumpur halaman 20—21).

Menurut Imza filet salah satu bentuk diversifikasi olahan patin yang tercepat dan termudah diterima masyarakat. Diversifikasi produk patin diperlukan agar pasar ikan yang berhabitat di sungai, danau, dan waduk itu lebih berkembang. Filet patin yang mengisi pasar dalam negeri berasal dari Vietnam dengan nama filet dory. Pemerintah banyak membantu industri filet terutama berupa regulasi menahan impor filet patin dari Vietnam.
Permintaan tinggi
Sejak 2011 pemerintah melarang impor filet. Regulasi itu menguntungkan para peternak dan industri patin dalam negeri yang terus berkembang. Itulah sebabnya, kini para peternak juga mampu membuat filet patin sendiri. Cara memproduksi pun relatif mudah dengan sarana sederhana (baca: Buat Sendiri Filet Patin halaman 18—19). Industri filet patin mulai berkembang pada 2013.
Itu setelah adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang Masuk ke Indonesia. Buktinya berdiri pabrik filet patin di Tulungagung bernama PT Delta Mina Perkasa pada 2016. Manajer Cabang PT Delta Mina Perkasa, Tommi, mengatakan pabrik berdiri untuk mengolah patin asal Tulungagung.

Semula justru pabrik di daerah lain seperti Surabaya, Jawa Timur, Pasuruan (Jawa Timur), dan Karawang (Jawa Barat) yang mengolah patin asal Tulungagung. Padahal, bisa dibilang Tulungagung sentra patin. Menurut Tommi kapasitas produksi pabrik pada 2018 yakni 8 ton patin segar per hari, semula hanya 400 kg per hari pada 2016. Produksi yang meroket hingga 20 kali lipat itu belum memenuhi permintaan.

Bagian Produksi PT Delta Mina Perkasa, Adi Harianto, mengatakan, masih ada ceruk pasar hingga 20 ton filet per pekan yang belum tergarap. Permintaan yang datang mencapai 40 ton per pekan. Sementara kapasitas produksi pabrik baru 19—20 ton per pekan. Menurut Adi rendemen filet patin mencapai 30%. Artinya Seekor patin berbobot 1 kg hanya menghasilkan 300 g filet Dengan demikian, maka 20 ton filet itu setara dengan 60 ton patin segar. Idealnya patin untuk bahan filet berbobot 600—1.200 gram per ekor. Itulah sebabnya Delta Mina Perkasa berencana meningkatan kapasitas pabrik untuk memenuhi semua permintaan.
PT Central Protein Prima Tbk (CP Prima) juga tergiur memproduksi filet patin. Direktur Pemasaran Pakan CP Prima, Hendri Laiman, mengatakan perusahaannya mulai merintis produksi filet patin sejak 2011. Pada 2012 usaha itu berhenti karena harga jual kalah kompetitif dengan filet patin asal Vietnam.
Selama vakum tim mempelajari cara menghasilkan patin sesuai kebutuhan pabrik filet. Lalu pada 2013 CP Prima kembali memproduksi filet patin. Pada 2015 perusahaan itu makin serius menggarap industri filet patin setelah keluarnya kebijakan pembatasan impor itu. Saat itu CP Prima mengolah sekitar 250 ton patin segar per bulan. Pada Agustus 2018 perusahaan yang mengelola pabrik filet di Surabaya, Jawa Timur, dan Karawang (Jawa Barat) itu memerlukan 700—800 ton patin segar sebagai bahan baku filet.
Ceruk besar

Meski demikian, bukan berarti budidaya patin bebas hambatan. Beragam aral menghadang peternak. Lihat saja Siti Nikmaziyah yang rugi hingga Rp19,5 juta karena 1,5 ton patin seharga Rp13.000 per kg mati. Penyebab kerugiannya adalah penyakit yang diduga karena virus.
Pada Juni—Agustus 2018 Bangun kehilangan lebih dari 100 kg patin yang mati karena peralihan cuaca. Kondisi cuaca ekstrem pada Juni—Agustus setiap tahun salah satu kendala beternak patin. Kondisi serupa juga dialami peternak ikan lainnya seperti lele dan gurami. Solusinya pastikan betul kualitas air terjaga. Jika air bagus kematian ikan komoditas unggulan budidaya di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi itu dapat dikurangi.
Pembudidaya di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Supangat, mengaliri air selama 24 jam ketika peralihan musim. “Dengan cara itu tidak ada ikan saya yang mati pada cuaca esktrem,” kata Sekretaris Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia Tulungagung (APCITA) itu. Aral lain beternak patin adalah kualitas dan ketersediaan benih saat peralihan musim.
Jika beragam aral teratasi, peternak berpeluang meraih laba besar. Banyak produsen yang saat ini kewalahan melayani permintaan filet. Itulah sebabnya mereka pun meningkatkan produksi. Menurut Hendri CP Prima bakal memproduksi filet patin dari 1.000 ton ikan segar setiap bulan pada 2019. “Itu dilakukan karena tingginya permintaan filet patin,” kata alumnus Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Tarumanagara itu.

Menurut Hendri potensi pasar filet patin di Indonesia 1.000—1.500 ton filet patin per bulan. Dari jumlah itu baru terpenuhi setengahnya. Artinya ada ceruk pasar sekitar 500—750 ton filet patin yang belum terpenuhi. Dengan kata lain diperlukan sekitar 1.100—1.650 ton patin segar untuk memenuhi potensi pasar yang belum tergarap itu. Oleh karena itulah, Imza mengatakan, sekarang waktu tepat membudidayakan ikan tidak bersisik itu bagi pembudidaya baru.
Sales Manager PT Citra Mandiri Kencana (CMK), Iis Sutisna, kepada reporter Majalah Trubus, Muhamad Fajar Ramadhan, mengatakan, tren patin berkembang sejak 2016. Produksi pakan patin di PT CMK meningkat 100% dibandingkan dengan kali pertama memproduksi pakan itu. Sayang ia enggan menyebutkan kapasitas produksinya. Kehadiran pabrik filet tidak hanya di Jawa Timur.

Nun di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ir. Kemat Kartodinomo yang mengolah filet patin skala rumah tangga. Kemat yang memproduksi filet patin sejak 2009 kini menghasilkan 200—300 kg filet per bulan. Ia menjual produk itu Rp55.000 per kg dan mengutip laba Rp10.000 per kg. Jadi peternak patin sejak 2009 itu meraih laba Rp2 juta—Rp3 juta saban bulan.
“Permintaan filet belum terpenuhi 100 kg per bulan,” kata alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, itu. Sejatinya tidak hanya filet yang bisa diolah dari ikan yang termasuk catfish itu.
Skala rumahan
Hindun Rohimah rutin mengolah sekitar 25 kg daging patin menjadi aneka penganan seperti patin asam manis, bakso, dan naget. Patin yang menjadi bahan beragam penganan itu berasal dari kolam Hindun di Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur, itu. Saat ini produksi aneka olahan patin masih berdasarkan pesanan.

Menurut Hindun produksi lebih dari 25 kg pun pasti terserap pasar. Selain olahan, permintaan patin segar pun banyak. Kemat kewalahan memenuhi permintaan patin segar karena sebagian produksinya diolah menjadi filet. Setiap hari maksimal ia hanya menjual 30 kg patin segar. Padahal jika ia berproduksi 100—150 kg patin segar setiap hari pun pasti ludes.
Di Desa Jampang, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Udin kekurangan pasokan patin segar hingga lebih dari 500kg per hari. Saat ini Udin baru memproduksi 200—300 kg patin segar setiap hari dari 30 kolam pembesaran. Udin menjual 1 kg ikan bernilai ekonomis tinggi itu seharga Rp20.000.

Ia mengutip laba Rp9.000 per kg sehingga mengantongi untung minimal Rp1,8 juta per hari atau Rp54 juta saban bulan. Di Sragen, Jawa Tengah, Wardoyo, memanen 45 kg patin setiap hari hasil kemitraan dengan puluhan peternak. Sebelumnya Wardoyo membudidayakan satwa air yang masuk 10 besar ikan paling banyak dikonsumsi di Amerika Serikat pada 2009 itu di kolam 100 m².
Peternak sejak 2013 itu menjual patin ke warung makan di Sragen dan sekitarnya. Warung makan penyedia menu patin juga ada di Kota Depok, Jawa Barat. Koordinator Pondok Ikan Bakar Kalimantan, Hendrik, mengatakan terdapat peningkatan penjualan olahan patin hingga 70%.
Bangun mengatakan peternak pemula bisa beternak patin karena perawatannya relatif mudah. Ia menyarankan agar petani pemula minimal memelihara 2.000 benih di kolam 100 m². Dengan begitu hasil panen minimal 1 ton patin. Agar hasil panen terserap pabrik filet, peternak pemula mesti mendekati petani besar atau pemasok pabrik filet. Kesempatan itu sangat terbuka karena pabrik filet memang memerlukan banyak pasokan ikan berdaging putih dan beraroma ringan itu. (Riefza Vebriansyah)
