Sunday, July 14, 2024

Kopi Juara Asli Bogor

Rekomendasi
- Advertisement -

Kopi unggul bercita rasa legit dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Nama Gunungbatu di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sohor di kalangan pehobi lintas alam. Puncak bukit batu setinggi 875 meter di atas permukaan laut (dpl) itu menyajikan panorama eksotis, yaitu hamparan kota Jakarta. Tentu setelah berkeringat dan terengah-engah mendaki jalan menanjak selama 1—1,5 jam. Setelah turun, secangkir kopi asli Desa Sukaharja menyambut.

Di dasar bukit, berdiri kafe Ki Demang Coffee and Resto milik Andika Aditisna (39 tahun). Pengunjung bisa menikmati kopi dengan embusan angin sejuk lantaran kafe seluas 250 m² itu tidak berdinding. Berkonsep berkonsep semiterbuka, kafe Ki Demang buka 24 jam. Menurut istri Andika sekaligus manajer kafe, Mihat Andini, kafe ramai pada sore hingga malam. Meski belum genap 3 bulan—buka pada 17 Juni 2018—Ki Demang menjadi tujuan pelancong.

Rasa juara

Mihat menuturkan, “Banyak yang datang hanya untuk mencicipi kopi kami.” Kafe itu khusus menyajikan kopi asal Bogor. Selain label Ki Demang, ada juga label milik rekan Andika sesama produsen kopi lokal Bogor, yaitu catangmalang, lendong, cibulao, atau luwak pancaniti. Bogor punya kopi? Itu pertanyaan yang muncul di benak banyak orang ketika mendengar kopi bogor. Nyatanya Kabupaten Bogor menjadi sentra kopi sejak zaman Belanda.

Salah satunya adalah Kecamatan Sukamakmur, yang masih menyisakan pohon kopi robusta dengan batang sebesar paha pria dewasa. Robusta Coffea canephora dominan di lahan berketinggian 400—800 m dpl itu. Dahulu, “Kopi di sini (Desa Sukaharja, red.) banyak yang tidak terurus sehingga tumbuh liar dan menjadi pakan satwa liar,” kata Andika.Soal rasa, kopi bogor berani dibandingkan dengan kopi lain.

Andika Aditisna membuka kafe sekaligus untuk etalase kopi bogor.

Kopi robusta lendong asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, misalnya, mendapat skor uji cupping atau penilaian cita rasa kopi 84,75 di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember, Jawa Timur, pada 2016. Nilai cupping kopi spesialti mencapai 80. Setahun berselang, lendong menjadi juara dalam salah satu festival kopi tingkat nasional di Jakarta dengan skor cupping 87,85. Angka itu melampaui skor kopi robusta asal Provinsi Lampung.

Menurut ketua Kelompok Guna Tani Abadi, Ghozin Dadang, di Desa Tanjungsari ada 120 pekebun kopi.Luas total tanaman kopi di sana sekitar 450 ha, sebagian termasuk wilayah PT Perhutani. Kopi Bogor lain yang menjadi jawara adalah kopi cibulao asal Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua.

Pada 2016, robusta Cibulao menjuarai Kontes Kopi Spesialti Indonesia di Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Seperti lendong, sebagian kopi cibulao juga tumbuh di bawah naungan pepohonan di hutan. Naungan itu menjadikan rasa kopi superior. “Dengan perlakuan panen dan pascapanen yang baik, rasa kopi mencapai tingkat fine,” kata ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao, Jumpono.

Lama

Kopi catangmalang asal Kampung Catangmalang, Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamakmur, juga menjadi kopi unggulan Kabupaten Bogor. Sebelumnya nama Kampung Catangmalang nyaris tidak pernah terdengar. Padahal, di sana terdapat 48 ha tanaman kopi milik 23 kepala keluarga yang ditanam secara turun-temurun. Arabika jenis sigararutang hanya 5%, sebagian besar adalah kopi robusta klon BP-42 dan BP-308.

Pengolahan kopi robusta catangmalang secara natural di tempat Ali Sungkowo.

Kopi arabika hanya ditanam di petak dengan ketinggian melebihi 800 m di atas permukaan laut. Pada 2016, 32 ton biji kopi asalan dari Catangmalang dijual kepada pengepul. Menurut ketua Kelompok Tani Catangmalang, Ali Sungkowo, beberapa pekebun memproses mandiri baru sejak 2018. Dari 23 pekebun itu, baru 7 orang yang mengolah secara natural. Maklum, dengan memproses sendiri, pekebun baru mendapat uang ketika biji hasil proses laku.

Ki Demang menjadikan bukit Gunungbatu di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai salah satu daya tarik.

“Beberapa pekebun masih terjerat sistem ijon,” kata Ali. Dengan sistem ijon, pekebun mendapat uang bahkan sebelum buah dipanen. Namun ketika waktu panen, mereka tidak mendapat apa-apa lagi. Dengan memproses mandiri dan melakukan panen selektif, harga bisa naik berkali-kali lipat. Gambarannya, Andika membeli buah kopi segar (ceri) hasil panen selektif seharga Rp5.000—Rp7.000 per kg.

Sementara itu, harga kopi beras (green bean) hasil proses fine mencapai Rp40.000 per kg. Jika panen asalan, harga ceri di pengepul paling tinggi hanya Rp4.000 per kg. Harga kopi beras Rp20.000—Rp21.000. Perbedaan utama adalah panen selektif (petik merah), jemur menggunakan para-para, dan penyortiran.Proses itu makan waktu lebih lama ketimbang panen asalan, apalagi jual ijon.

Pekebun yang panen asalan hanya perlu memetik 2—3 kali dalam 1 musim, sedangkan panen selektif bisa lebih dari 5 kali. Penjemuran dengan para-para juga lebih lama ketimbang sekadar digelar di atas plastik, karung bekas, atau terpal. Menurut pekebun kopi di Kampung Catangmalang 2, Desa Sukawangi, Sugeng Rubianto, dengan menjemur di atas terpal biji kering paling lama dalam 3—5 hari. Kalau menjemur di para-para, biji baru kering setelah 7—10 hari, bahkan sampai 2 pekan.

“Itu belum termasuk modal membuat para-para dan penaungnya,” kata Sugeng. Biaya membuat para-para berukuran 1 m x 4 m yang mampu menampung 30—50 biji mencapai Rp300.000. Para-para beralas kawat ram menjadikan pemanasan hanya mengandalkan sinar matahari. Jika menjemur dengan alas terpal atau plastik, alas ikut terpanasi matahari sehingga biji lebih cepat kering. Sudah begitu, pasar biji yang diolah fine terbatas. “Pengepul tidak mau membeli karena terlalu mahal, sementara kapasitas penjual kopi fine terbatas,” kata ayah 3 anak itu.

Menurut Andika Aditisna,musim buah yang hanya 3 bulan setahun dan produktivitas rendah lantaran tidak terurus menjadikan warga tidak mengandalkan kopi sebagai sumber penghasilan. Namun, bukan tidak dipanen. Menurut ayah 3 anak itu, ketika musim buah, berton-ton biji kopi asal Kabupaten Bogor mengalir ke pengepul di Bogor maupun Cianjur.Pedagang besar di Provinsi Lampung membeli kopi Bogor, mencampur dengan kopi Lampung, lalu menjual ke Jakarta.

Fine robusta asal Sukamakmur berbodi tipis, ringan, dan aftertaste manis.

“Makanya kami menyebut tata niaga kopi Bogor sebagai perniagaan mulek (berputar-putar, red.),” ujar Andika. Dominasi pedagang itu mengakibatkan data konkret produksi kopi Bogor cenderung bias. Apalagi banyak pedagang membeli secara ijon.Melihat potensi, ia sempat terjun menjadi pengepul kopi beras. “Saya ingin mendapat margin dari sekilogram biji kopi hanya dengan menjual 10 gram,” kata Andika. Itulah alasan sulung dari 3 bersaudara itu merogoh kocek Rp300 juta lebih untuk membuka Ki Demang.

Tanggung

Ghozin Dadang mengolah kopi lendong sampai menjadi juara nasional.

Sukamakmur hanya 1 dari beberapa kecamatan produsen kopi di Kabupaten Bogor. Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, ada 9 kecamatan penghasil kopi, seperti Cariu, Rumpin, Tenjolaya, dan Babakanmadang. Pada 2017, luas penanaman kopi 6.059 ha dengan 408 ha adalah arabika. Produksinya 2.956 ton, mayoritasnya robusta sebanyak 2.844 ton. Dua bulan pertama Ki Demang beroperasi, mereka hanya menyerap 50 kg biji kopi, jauh dari total produksi kopi seluruh Bogor.

Menurut praktikus kopi di Bandung, Ir. Wildan Mustofa, kopi Indonesia secara umum tergolong kelas tanggung. “Kalau cari kopi paling enak, bukan di Indonesia. Mau kopi paling murah, juga bukan di Indonesia,” ujar pekebun kopi sejak 2011 itu. Nilai jual utamanya adalah rasa khas yang langka dijumpai di kopi dari tempat lain maupun cerita di balik tersajinya secangkir kopi. Hal itulah yang Andika lakukan di Ki Demang, dengan menjual suasana dan pemandangan serta kelegitan kopi Bogor yang diolah dengan baik. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Khasiat Daun Ketepeng Cina, Berpotensi Kendalikan Kadar Kolesterol Darah

Trubus.id—Daun ketepeng cina berpotensi menurunkan kadar kolesterol darah. Itulah hasil riset Nisa Khoirila dan Muhammad Walid dari program Studi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img